Lahan Tailing PTFI di Mimika Bisa Digunakan Sebagai Lahan Produktif
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Lahan Tailing PTFI di Mimika Bisa Digunakan Sebagai Lahan Produktif

Kamis, 1 Oktober 2020 | 16:00 WIB
Oleh : Jayanty Nada Shofa / JNS

Timika, Beritasatu.com - Hasil penelitian PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Fakultas Pertanian Universitas Papua (Faperta Unipa) membuktikan lahan tailing PTFI di Mimika sebagai lahan produktif bagi tanaman pangan.

Lahan tailing tersebut disebut bisa dimanfaatkan sebagai lahan tumbuh yang aman bagi berbagai jenis tanaman pangan.

Didukung dengan pemupukan dan pemberantasan hama secara alami, tanaman yang tumbuh pun memiliki kualitas teruji dan aman dikonsumsi, sehingga dapat meningkatkan kemandirian pangan Mimika.

“Melalui rangkaian penelitian dan pengujian restorasi lahan tailing, kami telah mampu menanam lebih dari 140 jenis tumbuhan di lebih dari 1.000 hektar lahan tailing yang direklamasi,” kata Pratita Puradyatmika selaku Pengawas Umum Reklamasi Daratan Tinggi PTFI dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10/2020).

Pratita menjelaskan, beberapa jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat dibudidayakan di lahan tailing PTFI. Bahkan tanaman buah seperti nanas, melon, buah naga dan mangga mampu menghasilkan rasa yang lebih manis dibandingkan jika tumbuh di media tanam lain.

Tak hanya itu, tanaman sayur dan buah yang tumbuh di lahan tailing PTFI memiliki kadar logam tembaga (Cu), seng (Zn), timbal (Pb), arsen (As) dan air raksa (Hg) yang jauh lebih rendah dari ambang batas aman makanan yang ditetapkan pemerintah dalam SK Dirjen POM No. 03725/B/SK/VII/89.

“Kami memastikan bahwa tanaman buah dan sayuran yang tumbuh subur di lahan tailing PTFI aman dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kami berharap agar pengelolaan lahan tailing PTFI terus diteliti lebih lanjut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif lahan produktif akan mampu memperkuat kemandirian pangan Mimika,” tambah Pratita.

PTFI bersama UNIPA, lanjutnya, juga meneliti pemanfaatan pupuk organik untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik. Hasilnya, penggunaan pupuk organik berupa kotoran ayam dan kotoran sapi bagi tanaman di area tailing PTFI memberikan hasil panen tanaman yang lebih tinggi dan lebih produktif dibandingkan hasil panen tanaman yang tidak diberi pupuk organik.

Sartji Taberima selaku peneliti Jurusan Tanah Faperta Unipa menjelaskan, pemberian pupuk organik sebagai amelioran pada tanaman kakao bisa menekan serapan logam berat dalam jaringan buah kakao dan memperbaiki kesuburan tanah.

"Dengan demikian secara alami, lahan tailing sebagai media tanam mampu meningkatkan ketersediaan kandungan unsur hara esensial, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas tanaman dan buah kakao yang dihasilkan.Pupuk organik yang digunakan pun mampu mengurangi serapan logam besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), dan mangan (Mn) pada tanaman,” jelas Sartji.

Penelitian juga membuktikan dari 277 jenis tumbuhan lokal, terdapat 14 jenis tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida alami.

“Pemanfaatan pestisida alami sangat baik untuk tanaman karena materinya yang cepat terurai, memiliki toksisitas yang rendah, serta tidak meracuni dan merusak tanaman," kata Maria J. Sadsoeitoeboen selaku pakar biologi dari FMIPA Unipa.

Pestisida alami, lanjutnya, juga cenderung lebih hemat biaya karena pembuatannya yang mudah.

Sejak tahun 1998, PTFI bersama berbagai perguruan tinggi seperti Unipa, Universitas Cendrawasih, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Lambung Mangkurat secara berkelanjutan melakukan berbagai penelitian lingkungan.

Adapun penelitian dilakukan sebagai upaya PTFI untuk meminimalisir dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan, serta mempercepat pemulihan lingkungan di lahan bekas operasi.

Tak hanya itu, penelitian bertujuan untuk mengoptimalkan nilai tambah perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat melalui upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan peningkatan produksi pangan, perikanan, dan perikanan di Mimika.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

BPJamsostek Serahkan Bantuan Subsisi Upah Gelombang Terakhir ke Kemnaker

BPJamsostek kembali serahkan nomor rekening pekerja yang akan terima BSU ke Kemnaker.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Pluang Tawarkan Akses Investasi di Mancanegara

Pluang S&P 500 Index Futures merupakan produk berjangka yang ditransaksikan pada bursa Chicago Mercantile Exchange.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

September, Nilai Tukar Petani Naik 0,99%

BPS catat, nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2020 sebesar 101,66, naik tipis 0,99% dibanding NTP bulan sebelumnya.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

PGN Jaga Kinerja Operasional Positif Selama Masa COVID-19

Sebagai Sub Holding Gas PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berhasil mempertahankan kinerja operasional yang cukup stabil selama masa

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Pemerintah Perkuat Industri Baja Nasional Lewat Percepatan Infrastruktur

SNI merupakan instrumen yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang di hilir.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

OJK: Perlambatan Ekonomi RI Tak Seburuk Dibandingkan Negara Lainnya

Indonesia termasuk dari sektor jasa keuangan nampak masih lebih baik.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Aktivitas Manufaktur September Menurun di Tengah PSBB

PMI Indonesia turun dari 50,8 di Agustus menjadi 47,2 di September 2020.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Siang Rupiah Menguat Sejalan Mata Uang Asia

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.810-Rp 14.852 per dolar AS.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Bio Farma Kandidat Produsen Vaksin Covid-19 Dunia, Pengamat: Momentum Perkuat Holding Farmasi BUMN

Di kancah internasional, Bio Farma juga menyokong kebutuhan 2/3 kebutuhan vaksin dunia.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Siang Ini, Mayoritas Bursa Asia Menguat

Strait Times Singapura naik 30,3 (1,2 persen) mencapai 2.497,1.

EKONOMI | 1 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS