Pentingnya Model Pendidikan Partisipatif dan Memerdekakan Siswa
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-2.86)   |   COMPOSITE 4879.1 (-9.06)   |   DBX 933.193 (7.61)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 404.523 (-3.21)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 767.134 (-9.65)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.565 (0.25)   |   JII 517.566 (1.34)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 953.068 (-3.09)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1347.52 (-4.53)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 258.006 (2.03)   |   SMInfra18 230.699 (-0.73)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-2.35)   |  

Pentingnya Model Pendidikan Partisipatif dan Memerdekakan Siswa

Kamis, 6 Agustus 2020 | 19:57 WIB
Oleh : Jayanty Nada Shofa / JNS

Jakarta, Beritasatu.com - Jaringan Pendidikan Alternatif mendorong pemerintah dan masyarakat agar terus mendukung model pendidikan partisipatif dan memerdekakan anak.

Diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan berbagai program yang mengusung konsep bergotong royong demi meningkatkan hasil pembelajaran siswa.

Di antaranya adalah Program Organisasi Penggerak (POP) yang melibatkan ratusan organisasi kemasyarakatan (ormas) di bidang pendidikan. Terdapat pula Program Guru Penggerak (PGP) yang fokus menjadikan guru sebagai pemimpin pendidikan agar bisa mendorong guru lainnya untuk berinovasi.

Menurut Koordinator Jaringan Pendidikan Alternatif Susilo Adinegoro, setiap terobosan yang bertujuan melibatkan masyarakat dalam pendidikan patut diapresiasi.

Pendiri Sanggar Anak ini menilai, POP dan PGP memiliki tiga tujuan.

“Pertama, program tersebut membuka ruang masyarakat terlibat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga tercipta budaya pembelajaran partisipatif,” ujar Susilo di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Kedua, memacu guru menjadi makhluk pembelajar dan bertumbuh bersama. Terakhir, organisasi penggerak maupun guru penggerak bisa mendapatkan perspektif baru tentang pendidikan.

Ketiga tujuan tersebut, lanjutnya, hanya dapat dicapai jika semua pihak yang terlibat berorientasi pada kebaikan anak yakni dengan memerdekakan anak.

Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Memerdekakan siswa dapat mendorong mereka agar tumbuh menjadi manusia kritis, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab pada lingkungannya.

Tak hanya itu, para penggerak diharapkan memiliki keinginan untuk berubah dan terus belajar.

“Sebagai penggerak dituntut rendah hati. Ini syarat mutlak. Kendalanya tentu banyak. Saya membayangkan yang akan terjadi di lapangan. Kendalanya mengubah cara berpikir lama memasuki budaya baru,” tegas Susilo.

Dirinya menambahkan, sebagai gerakan masyarakat yang difasilitasi pemerintah, berbagai program ini perlu dipikirkan mekanisme dan manajemennya sehingga dapat berkelanjutan.

Proses edukasi pun harus terus dilakukan demi mengurangi kesalahpahaman akibat masyarakat belum terbiasa dengan adanya perubahan.

Seperti diketahui, POP telah menuai berbagai perdebatan terkait ormas yang terpilih. Sementara itu, PGP saat ini masih dalam proses pendaftaran.

Kedua program ini merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar. Mendikbud Nadiem Makarim sebelumnya menyatakan pemberian kemerdekaan bagi seluruh unit pendidikan ini diharapkan dapat mendorong inovasi pembelajaran.

Menurut Susilo, konsep Merdeka Belajar yang digagas Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara sangat kontekstual dan perlu dijalankan pemerintah. Dalam konsep tersebut, tujuan utama pendidikan adalah memerdekakan semua yang terlibat.

"Tidak mungkin anak merdeka jika orang dewasa, guru, legislator dan eksekutif belum merdeka cara berpikir dan bertindaknya," kata dia.

Susilo menegaskan, pendidikan juga tidak boleh dikotak-kotakan dengan istilah formal dan non-formal.

Hakikat pendidikan, lanjutnya, adalah menuntun setiap pembelajar menemukan dirinya sebagai manusia utuh yang tumbuh berkembang untuk memuliakan kehidupan. Formal dan non-formal hanyalah cara dan metode mencapai tujuan itu.

"Sebagian besar masyarakat, termasuk saya, merupakan produk pendidikan yang tidak merdeka dimana siswa dibelenggu kemauan pemerintah. Akibatnya, pendidikan melahirkan profil siswa yang tidak kritis dengan nalar pendek dan sulit beradaptasi dengan realitas yang ada," pungkas Susilo.

Gotong Royong
Sementara itu, Direktur Indonesia Mengajar Ayu Apriyanti menilai keberagaman organisasi penggerak menjadi bukti gotong-royong memajukan pendidikan nasional.

“Sejak awal, ini bukan tentang organisasi penggerak, tapi tentang anak-anak Indonesia. Kami berharap pendidikan anak Indonesia bisa selalu jadi tujuan akhirnya,” kata Ayu.

Ia mengatakan, keberagaman berbagai pihak ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak.

"Akan ada banyak pembelajaran di sepanjang proses dan kami yakin, selain anak-anak, guru dan kepala sekolah, siapapun yang terlibat akan ikut tumbuh ketika menjalankan program ini," tutupnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Polda Banten Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Ganja di Tol Tangerang-Merak

Penyelundupan ganja tersebut berhasil dihentikan di Tol Tangerang-Merak di mana barang haram tersebut disembunyikan di dalam mobil truk pengangkut gula.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Kasad Pimpin Sertijab Tujuh Jabatan Strategis di TNI AD

Jabatan Pangkostrad diserahterimakan dari Letjen TNI Besar Harto Karyawan kepada Mayjen TNI Eko Margiyono.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

MAKI Serahkan Bukti Dugaan Gratifikasi Jaksa Pinangki ke Kejagung

MAKI telah menyerahkan dokumen yang diduga merupakan penerimaan gratifikasi Jaksa Pinangki Sirna Malasari kepada Jampidsus Kejagung), Kamis (6/8/2020).

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Istana Gelar Lomba Tebak Busana Adat Jokowi dan Iriana di HUT ke-75 RI

Lima pemenang pertama yang menyebutkan dengan tepat busana adat yang dikenakan Presiden Jokowi dan Ibu Negara akan diberikan hadiah.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Ini Rangkaian Acara Peringatan HUT Ke-75 RI

Rangkaian acara peringatan HUT ke-75 RI akan dimulai dari tanggal 13 Agustus hingga 17 Agustus 2020.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Istana Ingatkan Masyarakat Sikap Sempurna pada 17 Agustus 2020, Pukul 10.17 WIB

Istana mengingatkan masyarakat untuk mengambil sikap sempurna dan berdiri tegak pada pukul 10.17 di tanggal 17 Agustus 2020.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Pekan Depan, Polisi Panggil Hadi Pranoto dan Anji

Proses laporan kasus dugaan penyebaran berita bohong ini sudah berjalan dan statusnya telah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Polisi Tangkap 3 Perampok Toko Emas di Blora, Jateng

SFK ditangkap di Subah, Batang, Jateng. Sedangkan ATR dan MAE disergap di sebuah rumah kawasan Kota Surabaya, Jatim.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Ditemukan 3 Kasus Baru Covid-19, Sekolah Tatap Muka di Cilegon Dihentikan

Setelah ditemukan tiga kasus baru positif Covid-19 di Kota Cilegon, pelaksanaan uji coba belajar tatap muka terpaksa ditutup kembali.

NASIONAL | 6 Agustus 2020

Kecewa Omnibus Law, 100 Ribu Orang Akan Demo DPR Saat Pidato Kenegaraan

Selain di Jakarta, aksi serentak pada 14 Agustus 2020 itu akan dilakukan juga di Yogyakarta, Semarang, Jawa Timur, Makasar, Riau, Medan, Bandung, Lampung

NASIONAL | 6 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS