Polisi India Tangkap 4.000 Orang di Khasmir
INDEX

BISNIS-27 447.922 (0.22)   |   COMPOSITE 5096.45 (-4.63)   |   DBX 966.383 (0.26)   |   I-GRADE 139.404 (0.54)   |   IDX30 427.333 (0.82)   |   IDX80 113.424 (-0.07)   |   IDXBUMN20 292.954 (-1.76)   |   IDXG30 119.109 (0.49)   |   IDXHIDIV20 379.033 (0.39)   |   IDXQ30 124.381 (0.25)   |   IDXSMC-COM 220.154 (-1.19)   |   IDXSMC-LIQ 258.539 (-0.54)   |   IDXV30 108.161 (-0.91)   |   INFOBANK15 830.634 (2.07)   |   Investor33 372.738 (0.67)   |   ISSI 150.924 (0.03)   |   JII 548.46 (1.53)   |   JII70 187.38 (0.16)   |   KOMPAS100 1019.47 (0.03)   |   LQ45 787.196 (1.37)   |   MBX 1409.36 (-1.53)   |   MNC36 279.413 (0.25)   |   PEFINDO25 280.307 (-3.18)   |   SMInfra18 241.86 (0.29)   |   SRI-KEHATI 315.824 (0.31)   |  

Polisi India Tangkap 4.000 Orang di Khasmir

Jumat, 13 September 2019 | 14:20 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / JAI

New Delhi, Beritasatu.com - Polisi India di wilayah Kashmir telah menangkap hampir 4.000 orang, sejak Pemerintah India membatalkan status khusus negara bagian itu, pada Agustus 2019.

Dari laporan pemerintah per 6 September 2019, disebutkan 3.800 orang telah ditangkap, meskipun 2.600 orang diantaranya dilepaskan. Tidak jelas dasar penangkapan orang-orang itu, tapi pejabat India menyatakan mereka ditangkap berdasarkan Undang-undang Keselamatan Publik (PSA), yaitu hukum di Jammu dan Kashmir yang mengizinkan seseorang ditahan selama lebih dari dua tahun tanpa adanya tuduhan.

Pada Kamis (12/9/2019), polisi India menangkap tiga orang tersangka dari organisasi militan Pakistan, telah ditangkap karena mengirimkan senjata dan amunisi ke wilayah Kashmir. Polisi mencegat para pria itu pada Kamis pagi dan menyita dari mereka senapan serbu AK-56, dua senapan AK-47s, enam majalah, dan 180 peluru.

“Truk itu datang dari negara bagian India, Punjab, dan dalam perjalanan ke Kashmir. Kami menyelidiki dari mana tepatnya mereka mengambil amunisi itu,” kata petugas polisi, Shridhar Patil.

Polisi menyatakan para pria itu, seluruhnya warga Kashmir, terafiliasi dengan kelompok militan berbasis di Pakistan, Jaish-e-Mohammed, yang melakukan bom bunuh diri pada Februari 2019 di Kashmir dengan korban tewas 40 pasukan India.

Ketegangan meningkat di Kashmir sejak India mencabut otonomi negara bagian itu. Kashmir sendiri terbagi dua menjadi milik India dan Pakistan sejak 1947.

Pemerintah India langsung mematikan jaringan telepon dan internet, serta mengirimkan puluhan ribu tentara untuk mempertahankan perdamaian di sana. Tambahan tentara itu bergabung dengan hampir setengah juta pasukan yang sudah berada di wilayah yang paling sarat militer di dunia.

Meskipun sejumlah pembatasan di Kashmir telah dilonggarkan, Pemerintah India tetap menahan para pemimpin politik Kashmir dan tidak mencabut pembatasan atas pergerakan dan komunikasi di sana.

Penasihat keamanan nasional India, akhir pekan lalu, menyatakan mayoritas warga Kashmir mendukung langkah itu kecuali kelompok “minoritas vokal” yang didukung oleh Pakistan.

Dia menyebut 230 militan telah siap menyusup ke Kashmir. Pada Rabu (11/9/2019), militan Kashmir yang terafiliasi dengan Laskhar-e-Taiba, telah tewas oleh pasukan keamanan.

Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa, Michelle Bachelet, menyatakan keprihatinan atas dampak dari tindakan terbaru Pemerintah India atas situasi HAM warga Kashmir.

Di pihak lain, Kementerian Luar Negeri Pakistan mendesak PBB melakukan penyelidikan atas situasi itu yang disebut beresiko “genosida”. Namun, India membantahnya karena menganggap persoalan itu urusan dalam negeri.



Sumber:Suara Pembaruan/Reuters/AFP


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Video Pertemuan Terakhir Habibie-Xanana Viral

Video pendek yang menunjukkan pertemuan terakhir Presiden Ketiga RI, BJ Habibie, dengan Presiden Pertama Timor Leste, Xanana Gusmao, viral di media sosial.

DUNIA | 13 September 2019

Tiongkok-Kazakhstan Sepakati Kerja Sama Strategis Permanen

Tiongkok dan Kazakhstan menyepakati perjanjian kerja sama strategis yang komprehensif dan permanen.

DUNIA | 13 September 2019

Khawatir Kabut Asap, Mahathir Akan Surati Jokowi

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dikabarkan akan menyurati Presiden RI, Joko Widodo, untuk menyampaikan keprihatinannya terkait kabut asap.

DUNIA | 13 September 2019

Jepang akan Buang Limbah Radioaktif ke Samudra Pasifik

Air yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima kemungkinan bakal dibuang ke laut, ruang penyimpanan akan habis pada 2022 mendatang

DUNIA | 13 September 2019

Militer AS Akan Terus Pukul Taliban

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat menyinggung soal Taliban di Afghanistan, saat pidato tragedi 11 September, di Pentagon.

DUNIA | 13 September 2019

Peringatan 11 September, Trump: AS Jadi Penentu Melawan Terorisme

Presiden Donald Trump, menyebut AS menjadi kekuatan dan penentu perang melawan terorisme di dunia, saat pidato mengenang 18 tahun tragedi 11 September

DUNIA | 13 September 2019

Otoritas Bahama Koreksi Jumlah Korban Hilang Badai Dorian

adan Manajemen Darurat Nasional (Nema) Bahama mengoreksi jumlah korban hilang akibat Badai Dorian pada Kamis (12/9).

DUNIA | 13 September 2019

Netanyahu Janji Aneksasi Sebagian Tepi Barat Jika Terpilih Lagi

PM Israel Benjamin Netanyahu berjanji mencaplok sebagian besar wilayah di Tepi Barat yang juga bagian dari wilayah Palestina, jika dia berhasil terpilih lagi

DUNIA | 12 September 2019

Indonesia Diharapkan Dukung Partisipasi Taiwan di ICAO

Pada 2018, 17 bandara Taiwan melayani lebih dari 68,9 juta penumpang dan 92 maskapai penerbangan, menerbangkan 313 rute serta menghubungkan 149 kota dunia.

DUNIA | 12 September 2019

DPR: Benny Wenda “Bermanuver” di Luar Negeri

Tokoh separatis Papua, Benny Wenda, terus berusaha menggalang dukungan internasional di luar negeri.

DUNIA | 12 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS