Pandemi Corona, Investor Alihkan Investasi ke Obligasi AS
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Pandemi Corona, Investor Alihkan Investasi ke Obligasi AS

Rabu, 25 Maret 2020 | 19:06 WIB
Oleh : Jeany Aipassa / JAI

New York, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) telah memicu pembalikan tajam investasi internasional menjauh dari pasar keuangan negara berkembang. Para investor mengalihkan dana mereka dari negara berkembang ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi Amerika Serikat (US Bond).

Institute of International Finance menyatakan sejak akhir 2019 hingga awal 2020, sekelompok pasar negara berkembang termasuk Tiongkok, India, Afrika Selatan dan Brasil menerima arus masuk investasi bersih sebesar US$ 79 miliar atau sekitar Rp1.275 triliun.

“Namun selama Februari hingga Maret 2020, investasi bersih senilai US$ 70 miliar ( sekitar Rp 1.129 miliar, Red) telah keluar dari negara-negara tersebut,” demikian hasil riset Instture of International Finance, seperti dikutip The New York Times, Rabu (25/3/2020).

Diperkirakan, pergeseran investasi itu dipicu kekhawatiran bahwa beberapa negara yang mengalami krisis akibat wabah corona akan meluncur menuju kebangkrutan dan gagal bayar, terutama Argentina, Turki dan Afrika Selatan.

Pengamat ekonomi menyatakan, wabah corona yang telah memukul pasar keuangan, harga minyak dan sektor manufaktur, membuat banyak investor melarikan investasi mereka dari negara-negara berkembang ke negara maju yang kondisi ekonominya lebih stabil.

Hal itu, sudah terlihat dari melemahnya mata uang negara-negara berkembang terhadap dolar, yang diperparah oleh peningkatan impor bahan makanan dan peralatan medis karena pasokannya menipis.

Banyak perusahaan dan usaha kecil juga berhenti beproduksi akhirnya merumahkan karyawan, tanpa upah harian. Hal itu membawa gelombang baru krisis ekonomi di negara-negara berkembang yang sebelumnya sudah terpuruk akibat konflik politik dan perang saudara.

Wall Street

Sementara itu, paket stimulus ekonomi untuk mengatasi corona senilai US$ 2 triliun yang disepakati Kongres dan Pemerintah AS, pada Selasa (24/3/2020), membuat Bursa Wall Street di AS bereaksi positif.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) melonjak signifikan, mencatat hari terbaiknya dalam 87 tahun terakher, karena investor berharap paket stimulus dapat menyelamatkan ekonomi dari kerusakan yang disebabkan oleh wabah corona.

DJIA ditutup 2.112,98 poin lebih tinggi atau naik lebih dari 11% pada level 20.704,91, membukukan kenaikan persentase satu hari terbesar sejak 1933. Indeks S&P 500 juga menguat 9,4% ke level 2.447,33, yang juga merupakan kenaikan tertinggi sejak Oktober 2008. Nasdaq Composite melonjak 8,1% ke level 7.417,86. Baik Dow dan S&P 500 keluar dari level terendah sejak akhir 2016.

Meski demikian, pasar saham masih rapuh karena menunggu realisasi dari klaim stimulus untuk pengangguran yang dijanjikan pemerintah AS. Klaim pengangguran akan dilaporkan Pemerintah AS pada Kamis (26/3/2020), dan analis mengharapkan ada adata akurat mengenai jutaan orang AS yang menjadi pengangguran sejak minggu lalu akibat kantor dan pabrik diliburkan untuk mengatasi wabah corona.



Sumber:The New York Times


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Pangeran Charles Positif Corona

Tidak diketahui dari mana Pangeran Charles tertular.

DUNIA | 25 Maret 2020

Sepekan, Kematian Akibat Corona di AS Naik 6 Kali Lipat

Dalam sepekan terakhir, angka kematian pasien positif corona naik lebih dari enam kali lipat.

DUNIA | 25 Maret 2020

Dampak Corona Lebih Buruk dari Krisis Ekonomi 2008

Dampak wabah virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian global diprediksi lebih buruk dari krisis ekonomi 2008 dan dapat menghancurkan negara berkembang.

DUNIA | 25 Maret 2020

WHO: AS Jadi Pusat Baru Pandemi Corona

World Health Organization (WHO) menyatakan Amerika Serikat dapat menjadi pusat baru pandemi virus corona (Covid-19) setelah Tiongkok dan Italia.

DUNIA | 25 Maret 2020

Corona, Kasus Kematian di Italia Sudah 2x Lipat Tiongkok

Persentase kematian di Italia dua kali lipat rata-rata dunia.

DUNIA | 25 Maret 2020

Kasus Covid-19 di Italia dan AS Hampir Menyusul Tiongkok

Kasus kematian di seluruh dunia mencapai 18.810 orang dan total kesembuhan sebanyak 108.378 kasus.

DUNIA | 25 Maret 2020

Atasi Covid-19, Kebijakan Inggris Mirip yang Sudah Ditempuh Indonesia

Pemerintah Inggris akan membangun rumah sakit darurat memanfaatkan gedung ExCel Conference Centre di London.

DUNIA | 25 Maret 2020

Akhirnya, India Terapkan Lockdown Nasional bagi 1,3 Miliar Penduduk

“Satu langkah saja Anda keluar rumah bisa membahayakan orang lain,” kata Modi.

DUNIA | 25 Maret 2020

New York Ibarat “Burung Kenari di Tambang”

Jumlah kasus positif Covid-19 di New York lebih dari setengah angka keseluruhan di Amerika Serikat.

DUNIA | 24 Maret 2020

Arab Saudi Laporkan Korban Jiwa Pertama Akibat Virus Corona

Korban pertama di Tanah Suci tersebut bukanlah warga negara Arab Saudi.

DUNIA | 24 Maret 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS