Ketegangan India-Tiongkok di Himalaya Dipicu Pembangunan Infrastruktur
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

Ketegangan India-Tiongkok di Himalaya Dipicu Pembangunan Infrastruktur

Jumat, 29 Mei 2020 | 15:41 WIB
Oleh : Jeany Aipassa / JAI

New Delhi, Beritasatu.com - Ketegangan antara India-Tiongkok yang meningkat di wilayah perbatasan Himalaya, Kashmir, diduga dipicu oleh pembangunan infrastruktur yang dilakukan India di sepanjang Line of Actual Control (LAC).

Dalam 10 tahun terakhir, India telah meningkatkan infrastruktur perbatasannya, dengan membangun jalan dan pangkalan udara baru di daerah Himalaya yang terpencil.

Pengamat khawatir ketegangan akan terus meningkat karena truk-truk Tiongkok diduga telah memindahkan peralatan ke dalam area LAC yang diklaim India. Hal itu, terlihat dari rekaman satelit yang menunjukkan pengerahan truk dan pasukan Tingkok ke wilayah Himalaya.

"Tiongkok dapat menggunakan alasan kegiatan konstruksi untuk menekan India demi tujuan politik atau ekonomi. Kita tidak tahu apa tujuan Tiongkok dalam kasus ini, tapi ribuan tentara Tiongkok kini berada di wilayah India. Satu-satunya yang tersisa bagi mereka adalah terlibat dalam pertempuran," kata Ajai Shukala, seorang analis pertahanan yang berbasis di New Delhi, India, Kamis (28/5/2020).

Menurut Ajai Shukala, ketengangan yang memuncak di kawasan perbatasan India-Tiongkok tersebut merupakan yang terburuk sejak kebuntuan Perjanjian Doklam 2017, yang berlangsung selama 73 hari.

Sengketa India dan Tiongkok bukan isu baru. Pada 1962, India dan Tiongkok berperang, tetapi masalah perbatasan masih ada, meskipun keduanya mencapai kesepakatan perdamaian.

Tiongkok mengklaim negara bagian India Arunachal Pradesh, sedangkan India mempertimbangkan kawasan Aksai Chin yang dikuasai Tiongkok sebagai wilayahnya.

Pada akhir 1980-an, Perdana Menteri India saat itu Rajiv Gandhi mengadakan pembicaraan dengan timpalannya dari Cina Deng Xiaoping di Beijing untuk memulihkan kembali hubungan angtarkedua negara.

Sejak itu, perbatasan sebagian besar tetap tenang, dengan kedua negara sepakat untuk merumuskan pedoman untuk mengelola perbatasan. Bahkan pada 1993, sebuah perjanjian untuk menjaga perdamaian di perbatasan ditandatangani.

Langkah-langkah penting untuk membangun kepercayaan pada isu-isu perbatasan kedua negara pun ditandatangani lebih lanjut pada 1996 dan 2006.

Menengahi

Seiring ketegangan di perbatasan India-Tiongkok, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan telah memberi tahu India dan Tiongkok bahwa pihaknya bersedia dan mampu menengahi perselisihan perbatasan antarkedua negara.

India dan Tiongkok telah menerjunkan ribuan tentara di dekat Ladakh dan Sikkim, Kashmir, seiring dengan sengketa perbatasan antarkedua negara yang semakin memanas.

Sebelumnya pada 5 Mei 2020, bentrokan terjadi antara pasukan militer India dan tiongkok di dekat Danau Pangong Tso, wilayah Himalaya, Ladakh.

Tiga hari kemudian, tepatnya pada 8 Mei 2020, pertempuran lain meletus di Nathu La Pass di negara bagian Sikkim di India, setelah tentara India menghentikan patroli Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA).

Kedua pihak telah menyelesaikan insiden tersebut di tingkat komandan lokal. Namun belakangan baik pihak India maupun Tiongkok meningkatkan jumlah pasukan di wilayah perbatasan dan melakukan patroli rutin.

Baik dari sisi perbatasan India maupun Tiongkok, terlihat puluhan tenda tentara berdiri. Para tentara dari kedua negara berkemah di sepanjang wilayah perbatasan yag disengketakan, dan masing-masing dalam kondisi siaga.



Sumber:Times of India, Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Status Unik Hong Kong Terancam Hilang

Status unik Hong Kong sebagai negara otonomi khusus terancam hilang setelah Parlemen Tiongkok, Kongres Nasional Rakyat (NPC), mendukung RUU Keamanan Nasional

DUNIA | 29 Mei 2020

India dan Tiongkok Kirim Ribuan Tentara ke Himalaya

India dan Tiongkok mengirimkan ribuan tentara di dekat Ladakh dan Sikkim, Himalaya, Kashmir, seiring dengan sengketa perbatasan yang semakin memanas.

DUNIA | 29 Mei 2020

86 Juta Anak Terancam Miskin Akibat Dampak Covid-19

Keruntuhan ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19) mengancam lebih dari 86 juta anak di dunia hidup dalam kemiskinan sampai akhir 2020.

DUNIA | 29 Mei 2020

Sempat Ditunda September, Boston Marathon Akhirnya Dibatalkan

Boston Marathon 2021 dijadwalkan pada 19 April.

DUNIA | 29 Mei 2020

Transaksi Online, KLHK Tahan Penjual Kantong Semar ke Taiwan

Kantong semar spesies Nepenthes clipeata sangat berisiko punah.

NASIONAL | 29 Mei 2020

Kisruh Twitter, Trump Serang Balik Medsos yang Batasi Kebebasan Berpendapat

Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis (28/5/2020) menandatangani perintah eksekutif untuk menyisir perusahaan medsos yang membatasi kebebasan berpendapat.

DUNIA | 29 Mei 2020

Kasus Positif Covid-19 Naik, Korsel Kembali Terapkan Pembatasan Sosial

Korsel melaporkan 79 kasus infeksi baru, dengan 67 kasus diantaranya berasal dari wilayah perkotaan Seoul.

DUNIA | 28 Mei 2020

934 WNI Terinfeksi Covid-19 di Luar Negeri

WNI yang terinfeksi Covid-19 di luar negeri hingga, Kamis (28/5/2020) sebanyak 934 orang terdiri dari 467 sembuh, 49 meninggal, dan 418 dalam perawatan.

DUNIA | 28 Mei 2020

Lima Kali Beruntun, Kematian Akibat Covid-19 di Brasil 1.000 Per Hari

Kematian akibat penyakit yang disebabkan virus corona selama 24 jam terakhir sebanyak 1.086.

DUNIA | 28 Mei 2020

Menlu AS Sebut Otonomi Hong Kong Telah Hilang

Hong Kong tidak bisa melanjutkan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS dengan cara yang sama seperti yang diterapkan sebelum Juli 1997.

DUNIA | 28 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS