CORE Indonesia: Perlu Ada Pembuktian Efektifitas UU Cipta Kerja
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

CORE Indonesia: Perlu Ada Pembuktian Efektifitas UU Cipta Kerja

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 12:28 WIB
Oleh : Herman / JAI

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan perlu ada pembuktian terlebih dahulu terkait efektifitas Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Menurutnya, terlalu dini untuk menilai bahwa Undang-Undang Cipta Kerja dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Pasalnya, tanpa keberadaan UU Cipta Kerja, dalam empat tahun terakhir, nilai investasi yang masuk ke Indonesia meningkat dan bahkan lebih baik dibandingkan Vietnam.

“Dalam pernyataannya, Bank Dunia mengatakan bahwa UU ini terbuka untuk bisnis dan dapat menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia. Yang perlu diketahui bahwa dalam empat tahun terakhir (2016-2019), justru secara nominal nilai investasi asing ke Indonesia meningkat. Bahkan secara nominal, nilai investasi yang masuk masih lebih baik dibandingkan Vietnam. Artinya sebelum adanya UU ini, Indonesia masih menarik bagi investor asing,” kata Yusuf Rendy, kepada Beritasatu.com, Jumat (16/10/2020).

Di sisi lain, studi menunjukkan bahwa pelonggaran regulasi tidaklah cukup. Menurut Rendy, investasi perlu didorong oleh hal lain seperti misalnya pembangunan SDM yang cakap, aspek institusional seperti stabilitas politik dan sosial.

“Khusus untuk poin terakhir, ini menjadi ironi, manakala UU ini disahkan justru gelombang protes bermunculan, yang menjadikan potensi goyangnya stabilitas politik dan sosial di dalam negeri,” ujar Rendy.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Rosan P Roeslani, justru mengaku sangat sepakat dengan penilaian Bank Dunia bahwa Undang-Undang Cipta Kerja dapat menjadikan Indonesia lebih kompetitif dan mendukung pemulihan ekonomi.

Menurut Rosan, banyak permasalahan di Indonesia yang harus diselesaikan, seperti obesitas regulasi, tumpang tindih aturan, konsistensi kebijakan pemerintah yang suka berubah-ubah, biaya logistik, perpajakan, sehingga ini menjadikan ekonomi biaya mahal.

Dia menambahkan, Omnibus Law UU Cipta Kerja akan menjawab hal-hal yang menjadi hambatan sejak dulu, sehingga harapannya iklim investasi di Indonesia bisa lebih baik, sehingga pada akhirnya akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

G-20 Dorong Bank Dunia Salurkan Bantuan Signifikan kepada Negara Miskin

G-20 mendorong Bank Dunia dan bank pembangunan multilateral lainnya untuk menyalurkan bantuan pembiayaan yang signifikan kepada negara-negara miskin.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Terdampak Pandemi, G-20 Perpanjang Kewajiban Bayar Utang Negara Miskin

G-20 menyepakati perpanjangan implementasi program penundaan pembayaran kewajiban utang (Debt Service Suspension Initiative/DSSI) bagi negara-negara miskin.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

G-20 Berkomitmen Tingkatkan Kerja Sama Tangani Pandemi Covid-19

G-20 berkomitmen meningkatkan kerja sama dalam menangani dampak pandemi Covid-19, yang menyebabkan perekonomian global menghadapi ketidakpastian tingkat tinggi.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Alumni Talenta Juara Luncurkan Aplikasi E-Deso

Diharapkan aplikasi e-Deso dapat memberi solusi atas problem yang ada di lapangan.

EKONOMI | 12 Oktober 2020

Pernilaian Bank Dunia Sejalan dengan Tujuan UU Cipta Kerja

Pernyataan Bank Dunia terkait Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja dinilai sejalan dengan tujuan awal penyusunan UU tersebut.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Surplus Neraca Perdagangan Harus Dibarengi Perbaikan Fundamental

Neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus lima bulan berturut-turut, harus dibarengi dengan perbaikan fundamental ekspor.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Sepekan, Rata-rata Frekuensi Transaksi Saham Meningkat 34,57%

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan, dari 12 Oktober 2020 sampai 16 Oktober 2020, mengalami pergerakan yang positif.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

AREBI Ajak Broker Properti Ikuti "The Biggest Real Estate Summit 2020"

Pengetahuan broker properti harus terus ditambah agar bisa bekerja profesional. Apalagi akibat pandemi Covid-19 persaingan antarbroker properti semakin ketat.

EKONOMI | 15 Oktober 2020

Allianz Indonesia Ajak Milenial Ciptakan Lapangan Kerja

Allianz Life memahami aspirasi masa depan generasi millenial untuk mendirikan bisnis secara mandiri di industri asuransi.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Tren Pasar Mobil Bekas Membaik

Menurut survei, tiga bulan setelah diberlakukannya PSBB, ada peningkatan pada penjualan dan pembelian mobil bekas.

EKONOMI | 17 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS