Semua Kebudayaan Menjadi Tuan Rumah di Semarang
INDEX

BISNIS-27 448.452 (1.72)   |   COMPOSITE 5112.19 (25.99)   |   DBX 973.986 (3.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.16)   |   IDX30 428.304 (2.02)   |   IDX80 113.764 (0.51)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.06)   |   IDXG30 119.182 (0.07)   |   IDXHIDIV20 379.228 (2.62)   |   IDXQ30 124.656 (0.91)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.57)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (0.35)   |   IDXV30 107.478 (0.46)   |   INFOBANK15 831.648 (8.54)   |   Investor33 374.125 (1.68)   |   ISSI 151.171 (0.15)   |   JII 550.867 (-1.07)   |   JII70 188.056 (-0.08)   |   KOMPAS100 1022.34 (3.5)   |   LQ45 789.815 (3.41)   |   MBX 1412.7 (7.46)   |   MNC36 280.331 (1.07)   |   PEFINDO25 282.464 (3.53)   |   SMInfra18 241.575 (0.59)   |   SRI-KEHATI 316.512 (1.87)   |  

Semua Kebudayaan Menjadi Tuan Rumah di Semarang

Kamis, 21 November 2019 | 15:03 WIB
Oleh : Stefi Thenu / JEM

Semarang, Beritasatu.com - Kota Semarang memiliki kekhasan dalam pengelolaan kemajemukan budaya. Di sana, tidak ada satu budaya yang dominan dan menjadikan yang lainnya sebagai inferior. Semuanya ada dalam panggung yang sama, tidak saling menegasi, dan pada saat yang sama, menjaga agar tidak saling menyakiti.

Itu terangkum dalam buku berjudul "Pecinan di Pecinan: Santri, Tionghoa dan Tuan Rumah Kebudayaan Bersama di Kota Semarang", yang ditulis Tedi Kholiludin, peneliti di Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA).

Kepada Beritasatu.com, Kamis (21/11/2019), Tedi yang dikenal sebagai aktivis toleransi dan dialog lintas iman ini, mengatakan, mengambil kebudayaan santri dan Tionghoa sebagai objek penelitiannya.

“Keduanya saya lihat dari aspek kognitif dan simboliknya. Komposisi kebudayaan yang terbentuk akhirnya menunjukkan sesuatu yang khas, yakni terciptanya tuan rumah kebudayaan bersama atau shared host culture,” ujar Dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang tersebut.

Kebudayaan santri, Tionghoa, Jawa dan juga lainnya, kata Tedi, ada dalam satu panggung bersama yang tidak terlampau intens dalam berdialog, tetapi juga tidak saling menegasikan.

Perdamaian negatif dan natural tercipta dengan ditandai oleh absennya konflik secara struktural. Dialog terjadi secara natural dan kebanyakan dilakukan ketika ada “kepentingan bersama” atau simbol pemersatu diantara elemen-elemen tersebut.

Hal lain yang ditemukan Tedi adalah bangunan karakteristik dari habitus yang ditandai oleh hadirnya tuan rumah kebudayaan bersama tersebut.

“Di sini, ada masyarakat kontraktual yang semangatnya egaliter dan transaksional. Lalu ada pasar sebagai identitas budaya, juga ruang ekonomi tentu saja. Dan kita bisa melihat banyak kebudayaan hibrid yang dinamis dalam konteks tuan rumah kebudayaan bersama tersebut,” imbuh pengajar di Pesantren Mahasiswa At-Taharruriyah itu.

Kritikus Budaya, Tubagus Svarajati, memberikan apresiasi terhadap buku tersebut karena disana ada bangunan teoritik yang baru tentang kebudayaan di Semarang.

“Saya lahir dan besar di Pecinan Semarang. Saya akrab dengan persoalan kesenian, berpikir kultural dan sangat panjang sekali. Baru Kang Tedi ini yang mampu memberikan bangunan teoritik tentang apa itu Semarang melalui istilah tuan rumah kebudayaan bersama tersebut,” ungkap Tubagus.

Di banyak pertemuan, menurut Tubagus, para pegiat seni dan kebudayaan seringkali menyebut bahwa Semarang itu kota tanpa identitas.

“Akhirnya, kita mengatakan, bahwa Identitas Semarang itu, ya, tanpa identitas. Tapi, Mas Tedi mampu memberikan kerangka teoritis tentang tuan rumah kebudayaan bersama yang menjelaskan identitas Semarang,” tukasnya.

Namun, Tubagus mengajak publik, untuk tidak menerima apa adanya tesis yang dibangun oleh Tedi.

"Ia harus dikritik dan diuji. Misalnya soal kontribusi santri. Pada aspek mana kontribusi itu diberikan; bangunan kulturalnya, relasi sosialnya atau hal lain. Ini perlu penelitian panjang," tegasnya.

Tubagus juga memberikan kritik, bahwa Tedi tidak melihat Tionghoa sebagai komunitas yang majemuk. Karena, secara keagamaan, orang-orang Tionghoa ini tidak hanya ada pada satu kelompok agama saja.

“Beda halnya ketika menyebut santri. Ini kan berarti orang Jawa, beragama Islam. Sementara orang Tionghoa itu agamanya sangat plural sekali. Ini yang luput dari penelitian Tedi," tambahnya.

Dikatakan, bangunan kebudayaan bersama itu, sesungguhnya pujian, tidak ada identitas, tidak ada kebudayaan, semuanya tidak dalam konteks berkontestasi. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Tapi, Tubagus lagi-lagi mengajak publik untuk menguji kembali kesimpulan tersebut. “Apakah benar tidak ada yang dominan? Apakah betul yang satu tidak menegasikan yang lain? Jangan-jangan, kita ini juga ada dalam konflik, meski tidak bersifat struktural, tetapi kecenderungan menegasi itu mungkin ada,” kritik Tubagus.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kursus Pranikah Diusulkan Dibarengi Tes Kesehatan Calon Pengantin

Kursus pranikah ini sangat penting guna meletakkan dasar-dasar membina rumah tangga sesuai agama masing-masing.

NASIONAL | 21 November 2019

Rp 12 Triliun Dana Transfer untuk Jateng Masih Prioritaskan Pendidika dan Infrastruktur

Dana transfer dialokasikan sebagian besar untuk pendidikan, infrastruktur, kesehatan serta gaji pegawai.

NASIONAL | 21 November 2019

Pemerintah Indonesia dan Malaysia Teken MoU Demarkasi dan Survei Batas Internasional

MoU Demarkasi dan Survei Batas Internasional antara Malaysia (Sabah dan Serawak) dan Indonesia (Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat).

NASIONAL | 21 November 2019

Natal dan Tahun Baru, Volume Penumpang Kapal Diperkirakan 1,19 Juta Orang

Untuk Nataru 2020 prediksi jumlah penumpang naik 1,84 persen menjadi 1,19 juta penumpang.

NASIONAL | 21 November 2019

Saan Mustopa: Temuan KPPOD Jadi Momen Kemdagri Sisir Perda Penghambat Investasi

Menurut Saan momentumnya sangat tepat. Sebab Presiden Jokowi sendiri sudah maju dengan gagasan "omnibus law".

NASIONAL | 21 November 2019

Limbah Alkohol, Batik dan Peternakan Babi Cemari Bengawan Solo

Setidaknya, terdapat 142 industri kecil alkohol, 37 industri tahu, puluhan industri batik serta industri peternakan.

NASIONAL | 21 November 2019

Kasus Suap Distribusi Pupuk, KPK Kembali Periksa Dirut Petrokimia Gresik

Nama Rahmad Pribadi kerap muncul dalam persidangan perkara ini.

NASIONAL | 21 November 2019

Danseskoal Terbitkan Buku “Indonesia Navy, Global Maritim Fulcrum and ASEAN”

TNI AL dituntut untuk berbenah diri mengantisipasi dinamika lingkungan strategis dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola dan macam operasi militer.

NASIONAL | 21 November 2019

2025, Multi Bintang Komitmen Menggunakan Energi Terbarukan

Indonesia meningkatkan penggunaan sumber energi alternatif dan menargetkan penggunaan energi terbarukan nasional sebesar 23% pada 2025.

NASIONAL | 21 November 2019

Dewan Pengupahan Jabar Ajukan Rekomendasi Kenaikan Upah

Mengacu pada formulasi, rekomendasi UMK terbesar di Jabar berlaku di Kabupaten Karawang dengan nomimal Rp 4.594.325.

NASIONAL | 21 November 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS