Mengubah Derita Abrasi Jadi Ladang Rezeki
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

Mengubah Derita Abrasi Jadi Ladang Rezeki

Senin, 27 Juli 2020 | 11:38 WIB
Oleh : Stefi Thenu / JEM

Semarang, Beritasatu.com – Juraimi (46) harus menundukan kepalanya setiap kali masuk rumah. Bukan saja, saat melewati pintu. Tapi menundukan kepala atau membungkukan badan, sudah menjadi tradisi rutin yang harus dilakoninya, saat berada di dalam rumah. Pasalnya, jika tidak menunduk atau membungkuk, kepala pasti membentur langit-langit rumah.

“Dulu, kalau lupa menunduk, pasti kepala luka terbentur kusen pintu. Makanya, rumah-rumah di sini dijuluki sebagai rumah sopan. Sebab, kalau masuk rumah harus menunduk,” ujar pria beranak satu kelahiran 10 Mei 1974 ini, tertawa.

Bencana abrasi telah membuat Juraimi dan 1.246 jiwa warga Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, menderita. Penderitaan itu bukan sehari-dua hari, tapi bertahun-tahun. Bayangkan, kepala keluarga di kampung itu, setiap tahun harus merogok kocek lebih dalam untuk meninggikan rumah, agar terbebas dari banjir rob (air pasang laut) dan abrasi yang menggerus lantai rumah mereka.

‘’Setiap tahun, kami berpacu dengan banjir rob. Kalau rumah tidak diuruk, banjir jadi makanan sehari-hari. Saya harus meninggikan pondasi rumah hingga 1,5 meter. Kalau sudah diuruk, praktis atap dan langit-langit pun harus ikut ditinggikan. Kalau dihitung sudah lebih 80 juta saya habiskan untuk membangun rumah,’’ Juraimi menuturkan kisah pilunya.

Pria asli Tambakrejo itu mengaku sudah empat kali meninggikan rumahnya sejak masih tinggal dengan orang tuanya tahun 1988. Dia berkisah, untuk membangun rumah, warga harus menabung sedikit demi sedikit. Sebab, hampir setiap tahun, saat rob pasti rumah kebanjiran. Dulu, agar terhindar banjir, warga hanya bisa menguruk lantai rumah. Makin lama makin tinggi, sehingga jarak lantai dengan langit-langit rumah sangat pendek. “Karena tak punya uang, warga umumnya hanya bisa menguruk lantai. Pas punya uang, baru bisa meninggikan atap,” ungkapnya.

Hal serupa juga dialami Zazid (48). Menurut Zazid, paling ideal meninggikan pondasi rumah hingga 3 meter, agar aman dari banjir rob. Pria kelahiran Semarang, 12 Maret 1972 itu mengaku, sudah empat kali meninggikan rumahnya akibat banjir rob.

‘’Sudah empat kali saya meninggikan rumah. Kalo ditotal sudah habis 100 jutaan. Sekarang, biaya meninggikan rumah 50 cm, kira-kira habisnya 30 jutaan,’’ ujar bapak dua anak yang telah tinggal di Tambakrejo sejak 27 tahun silam.

Ya, abrasi dan banjir rob telah menjadi bencana klasik tahunan bagi warga kampung nelayan di pesisir utara Kota Semarang tersebut. Selama bertahun-tahun, warga pasrah dan akhirnya berdamai dengan penderitaan tersebut. Sejak awal 2000-an, gelombang abrasi telah menghancurkan puluhan hektare tambak yang menjadi mata pencarian warga di kampung tersebut. Belum lagi, biaya ekstra ratusan juta rupiah untuk meninggikan rumah agar terhindar dari banjir rob. Bukan itu saja, abrasi juga menggerus lahan tempat pemakaman umum (TPU) setempat. Tak terhitung berapa makam warga yang telah hilang, dan sisa-sisa jasadnya terpaksa dipindah ke tempat lain.

Tambakrejo merupakan satu dari sejumlah kawasan pesisir di Kota Semarang. Kawasan pesisir Kota Semarang sendiri memiliki luas 5.039,17 hektare (ha) atau sekitar 0.02% dari luas total wilayah Kota Semarang, yakni 37.366.838 ha. Panjangnya kurang lebih 25 km, meliputi empat kecamatan, yakni Kecamatan Tugu 3,5 km, Semarang Utara 5,56 km, Semarang Barat 8,94 km dan Genuk 7 km. Mencakup pula 17 kelurahan, yakni Kemijen, Tambakrejo, Tanjungmas, Bandarharjo, Panggung Lor, Tawangsari, Tambakharjo, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo, Mangkang Kulon, Mangunhardjo, Mangkang Wetan, Randugarut, Karanganyar, Tugurejo dan Jrakah.

Dalam catatan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak 10 tahun terakhir, luasan abrasi di Kota Semarang mengalami peningkatan. Kini luasnya mencapai 1.406 ha. Pada 2010 lalu, luas abrasi hanya 591 ha.

Dalam diskusi bertajuk Kesiapsiagaan Masyarakat Pantura Jawa Tengah menghadapi Amblesan Tanah, di Semarang, Rabu (20/11/2019), Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengungkapkan, Kota Semarang mengalami penurunan tanah sekitar 2 cm hingga 10 cm per tahun. Rudy mengatakan, penurunan muka tanah atau biasa disebut dengan amblesan tanah ini disebabkan karena faktor alamiah (natural) dan faktor manusia (antropogenik). Faktor alamiah yang dapat memengaruhi amblesan tanah antara lain sifat alami konsolidasi tanah, umumnya berada pada endapan yang relatif muda (kuarter) dan pengaruh adanya tektonik, biasanya disebabkan oleh adanya struktur geologi. Sedangkan yang disebabkan faktor manusia antara lain pengambilan air tanah yang tidak terkontrol dan pembebanan, berasal dari bangunan infrastruktur yang berlebihan.

Bagi Juraimi, Zazid maupun warga Kampung Tambakrejo lainnya, penderitaan bertahun-tahun akibat abrasi dan banjir rob itu, menemukan obat penawar, saat Pertamina datang dengan program rehabilitasi lingkungan pesisir, yakni penanaman mangrove. Tak hanya pelestarian lingkungan, Pertamina juga memberikan program pemberdayaan masyarakat. Kampung mereka dipilih menjadi kampung binaan PT Pertamina (Persero) Integrated Fuel Terminal Semarang Group Marketing Operation Regional (MOR) IV Jateng-DIY.

Dengan adanya kawasan hutan mangrove, Kampung Tambakrejo kini sudah menjadi wilayah yang aman dari banjir rob. Penderitaan warga akibat abrasi kini berubah menjadi ladang rezeki.

“Sejak 2011, secara berkesinambungan sampai saat ini, Pertamina melakukan kegiatan pelestarian lingkungan dengan menanam mangrove. Kami selaku kelompok binaan sangat berterima kasih atas komitmen dan dukungan Pertamina kepada masyarakat dan lingkungan Tambakrejo,” ujar Zazid, yang menjabat Sekretaris Camar (Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun), kelompok nelayan peduli lingkungan, yang menjadi binaan Pertamina.

Beranggotakan 10 orang nelayan, Kelompok Camar menjadi pegiat lingkungan yang menanam, merawat sekaligus membudidayakan mangrove. Dalam kurun waktu 9 tahun, sedikitnya 180 ribu bibit mangrove telah ditanam di lahan bekas tambak yang tergerus abrasi tersebut.

“Dulu, ini lahan tambak seluas 10-an ha. Karena abrasi, sekarang jadi lautan. Mangrove ditanam di sini untuk menahan ombak, sekaligus tempat bertelur ikan dan kepiting,” ujar Juraimi, yang menjadi Ketua Camar, kepada Beritasatu.com, yang datang ke kawasan mangrove Tambakrejo, Jumat (17/7/2020) lalu.

Kini mangrove yang ditanam di area seluas 3 hektare itu, tumbuh subur dan rimbun, setinggi rata-rata empat meter. Kelompoknya juga membudidayakan mangrove dan menghasilkan bibit untuk dijual kepada umum maupun keperluan penelitian.

"Kami menjual bibit mangrove, Rp 1.500 per batang untuk penelitian, dan untuk perusahaan pakai sistem paket Rp 3.000 per batang termasuk penanaman, perawatan, monitoring sampai hidup. Mangrove di sini dari jenis Rhizophora mucronata, cocok untuk menghambat abrasi. Selain itu menjadi ekosistem bagi ikan, kepiting dan burung,” tambah Zazid.

Mangrove Edupark
Pjs General Manager PT Pertamina (Persero) MOR IV Jateng-DIY, Rahman Pramono Wibowo mengatatakan, Pertamina mengucurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menyelamatkan pesisir Kota Semarang. Penyaluran program CSR di wilayah Tambakrejo, merupakan bentuk komitmen Pertamina untuk terus melestarikan lingkungan dan memberdayakan masyarakat yang merupakan bagian dari wilayah operasi Pertamina MOR IV, terutama Integrated Fuel Terminal Pengapon.

Dana tersebut membantu pembangunan Mangrove Edupark, bantuan kapal untuk nelayan, penanaman dan budidaya bibit mangrove serta pemberdayaan masyarakat di kampung nelayan Tambakrejo.

“Selain berfokus pada pelestarian lingkungan, kami mengembangkan potensi lainnya yaitu menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pilihan destinasi wisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan, atau ekowisata melalui Program Mangrove Edupark. Hal tersebut selaras dengan program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Semarang yang akan menjadikan wilayah Tanjung Mas sebagai Kampung Bahari,” ujar Pramono.

Mangrove Edupark Tambakrejo dilengkapi bangunan Balai Edukasi Wisata (Eduwisata), gardu pandang, kapal nelayan beserta pelampung dan sepatu boot untuk wisatawan. Di sini, pengunjung dapat belajar budidaya, sekaligus menanam bibit mangrove.

Community Development Officer PT Pertamina (Persero) Integrated Fuel Terminal Semarang Group MOR IV Jateng-DIY Group, Aryo Aji Asmoro menjelaskan, Mangrove Edupark di Tambakrejo mulai tahun ini akan ditambah fasilitas jogging track yang dibuka untuk wisatawan.

Menurut Aryo, jogging track akan menjadi paket wisata di Mangrove Edupark Tambakrejo. Wisatawan yang datang akan memperoleh edukasi mangrove di Balai Eduwisata, penyeberangan pergi pulang dengan perahu (dilengkapi pelampung dan sepatu boot) ke kawasan mangrove, dan fasilitas jogging di kawasan mangrove. Usai berwisata, pengunjung mendapat bibit mangrove siap tanam dan cenderamata berupa kerajinan limbah kerang dan kerajinan limbah kaleng bekas produksi warga.

“Jogging track tahun ini akan kami buat. Mudah-mudahan akhir tahun sudah bisa digunakan. Untuk biaya paket wisatanya, masih digodok bersama kelompok Camar,” ujar Aryo, yang mengatakan program CSR selain di Tambakrejo, juga dilakukan di Kelurahan Kemijen, Semarang Utara yang berdekatan dengan Tambakrejo, serta di Karimunjawa, Jepara.

Unit Manager Communication & CSR MOR IV Jateng-DIY Anna Yudhiastuti menuturkan, CSR yang disalurkan untuk pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Kota Semarang maupun Karimunjawa tercatat sebesar Rp427 juta pada 2018. Dana itu untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, yakni program Kemijen Sehat tahap 1, desa wisata, inkubator bisnis dan kampung Kemijen Pintar.

Pada 2019, dananya ditingkatkan menjadi Rp669 juta, untuk program Kemijen Sehat tahap 2, penanaman mangrove dan Mangrove Edupark di Tambakrejo, ekowisata Karimunjawa, inkubator bisnis Kemijen dan Tambakrejo, kampung Kemijen Pintar.

Pada 2020, dananya kembali naik menjadi Rp1,025 miliar, untuk program Pertamina Sehati di Tambakrejo, pemberdayaan masyarakat Tambakrejo, Kemijen Bercerita (Bersih, Cerdas, Riang dan Tanggap), serta pemutahiran pemetaan sosial dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).

Menurut Amron (46), kehadiran Pertamina telah membuat masyarakat berdaya. Nelayan Tambakrejo ini merasakan manfaat dari mangrove. Berkat mangrove, rumpon miliknya terlindungi dari hantaman ombak. Amron yang juga anggota Camar, mengaku memiliki rumpon berisikan 100 batang bambu. Setiap bambu, jika kondisinya bagus, bisa menghasilkan rata-rata 20 kg kerang hijau. Setiap enam bulan sekali, dia bisa memanen 7-10 kuintal kerang hijau.

“Kalau sekarang, harganya berkisar Rp 6 ribu-Rp 8 ribu/kg, tapi kalau tahun baru atau satu suro bisa mencapai Rp 15 ribu/kg,” ujarnya.

Pemberdayaan Masyarakat
Bagi masyarakat Tambakrejo, khususnya ibu-ibu, kehadiran Pertamina juga sangat berdampak pada membaiknya perekonomian warga. Mereka yang dulunya hanya menunggu rumah dan berharap dari uang pemberian suaminya melaut, kini dapat berwirausaha dan membantu ekonomi keluarga. Mulai dari pembuatan terasi, nugget ikan dan udang, telur asin, ikan panggang, hingga kerajinan limbah barang bekas dan limbah mangrove dari bank sampah yang diterapkan di kampung itu.

“Kami memiliki Kelompok Usaha Bersama (KUB). Untuk terasi, nugget dan ikan panggang, kami pasarkan ke Pasar Johar, Pasar Rejomulyo Semarang bahkan hingga ke Juwana,” ujar Ketua PKK RW 16 Tambakrejo, Sittatun.

Istri ketua RW yang juga Ketua Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Mawar Melati itu menuturkan, Program Sehati Pertamina di kampungnya juga sangat dirasakan untuk menunjang kesehatan warga. Berbagai bantuan diberikan mulai dari operasional Posyandu seperti meja-kursi, timbangan balita dan lansia, alat tensi digital, alat ukur tinggi badan, hingga cek lab sederhana untuk cek gula darah, kolesterol, asam urat untuk lansia. Diberikan pula bantuan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita dan lansia. Dengan 10 orang kader, Posyandu Mawar Melati melayani 130 orang anak balita (di bawah usia 5 tahun) dan 50 orang lanjut usia (lansia). Pelayanan sebulan sekali setiap Minggu kedua hari Kamis.

“Di masa pandemi ini, kami juga dibantu masker, termometer, faceshield, sarung tangan, banner dan brosur pencegahan Covid-19, wastafel portable, pompa disinfektan dan cairan disinfektan,’’ ujar perempuan yang memimpin posyandu sejak 2015.

Zazid mengenang Tambakrejo pada 17 tahun silam, yang masih berupa hamparan tambak milik warga. Bahkan Pemerintah Kota Semarang membangun tempat pelelangan ikan (TPI) di sana. “Namun, baru sekali digelar lelang, tempat itu hancur dihantam ombak. Tambak-tambak di sekitarnya juga lenyap tergerus abrasi,” ujar Zazid. Bangunan bekas TPI yang diresmikan pada 2003 itu, kini rusak dan tenggelam. Menyisakan sebagian tembok dan atap, dengan tinggi air laut dari dasar lantai bangunan setinggi dada orang dewasa.

Sejak kawasan mangrove mulai rimbun, warga boleh bernafas lega, terbebas dari gempuran abrasi mapun himpitan ekonomi. Rumah sopan dan biaya ratusan juta rupiah untuk meninggikan rumah, telah menjadi cerita masa lalu. Warga menata diri dan lingkungan menyambut masa depan. Mangrove Tambakrejo, yang kini menjadi tempat berkembang biak ikan dan kepiting, serta tempat bersinggahnya burung-burung – jika dikelola serius dan profesional - niscaya menjadi destinasi baru ekowisata di pesisir Semarang.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Baru Satu Paslon Gubernur Jambi Memenuhi Syarat Ikut Pilkada

Parpol yang belum menentukan pilihan yakni PDIP, PAN, Gerindra dan Demokrat.

NASIONAL | 27 Juli 2020

Petani Labuhan Batu Diterkam Buaya

Korban setelah turun dari perahu langsung diterkam dan dibawa buaya masuk ke dalam sungai.

NASIONAL | 27 Juli 2020

Banjir Bandang di Deli Serdang, 1 Orang Masih Hilang

Korban yang belum ditemukan bernama Santa Situmorang (24) warga Kecamatan Limapuluh Kabupaten Batubara.

NASIONAL | 27 Juli 2020

KRL Semakin Padat, Penumpang Mulai Patuh dan Tertib

Pengguna KRL mulai dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru

NASIONAL | 27 Juli 2020

Kejagung Akan Periksa Pengacara Djoko Tjandra

Kejaksaan Agung mengagendakan pemeriksaan terhadap pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking pada Senin (27/7/2020).

NASIONAL | 27 Juli 2020

Penyegelan Makam di Cigugur Tunjukkan Hilangnya Nilai-nilai Budaya Bangsa

Para penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) di Cigugur, Kuningan, kembali mengalami perlakuan diskriminatif

NASIONAL | 26 Juli 2020

Hilirisasi Komoditas Strategis, Prioritas Bupati Musi Banyuasin

Gas alam, karet, dan kelapa sawit menjadi komoditas andalan Musi Banyuasin.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Wagub Kaltim Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi dinyatakan oleh tim medis RSUD Abdul Wahab Sjahranie telah sembuh dari Covid-19.

NASIONAL | 26 Juli 2020

KPAI Minta Kurikulum Disederhanakan Selama Pembelajaran Jarak Jauh

Kurikulum 2013 harus segera disederhanakan dan disesuaikan dengan situasi darurat.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Mundur dari Organisasi Penggerak, PP Muhammadiyah: Banyak Program Bermasalah dan Tidak Kredibel

Ada organisasi penggerak yang mengusulkan program tidak sesuai dengan tujuan POP untuk meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah.

NASIONAL | 26 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS