Berburu Energi Baru di Bawah Matahari
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Berburu Energi Baru di Bawah Matahari

Senin, 10 Agustus 2020 | 11:16 WIB
Oleh : Stefy Thenu / JEM

Semarang, Beritasatu.com - Pagi belum lama tiba. Tapi, keriuhan sudah terdengar di sebuah rumah di Dusun Pongangan, Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hawa dingin yang membekap tubuh, tak lagi dihiraukan Rasman (60) dan anaknya, Riyadi (34). Keduanya, sibuk berkutat di kandang sapi, yang terletak di samping rumah. Tanpa jijik, laki-laki tua itu mengumpulkan gumpalan kotoran dari bawah enam ekor sapi miliknya. Sedangkan Riyadi dengan sigap mengambil sekop dan memindahkan kotoran yang menumpuk itu, lalu memasukkannya ke bak penampungan.

Sejatinya, kegiatan yang dilakukan Rasman dan Riyadi, merupakan rutinitas khas warga di desa itu. Setiap jam 06.00 WIB, selama setengah jam atau satu jam, warga membersihkan kandang, dilanjutkan lagi sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB. Tapi, sejak pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas dikembangkan di desa itu, aktivitas warga desa yang terletak di lereng Gunung Merbabu tersebut, kian hidup dan penuh warna.

“Dari enam ekor sapi, kotoran yang terkumpul sekitar 40 kg. Kotoran sapi bercampur urin dan air ini kita masukan di bak penampungan dan dicampur air, setelah itu, gas dipisahkan dari ampas kotoran oleh digester (alat pembuat biogas), kemudian ampasnya disalurkan ke bak pembuangan,” ujar Riyadi, kepada Beritasatu.com, Rabu (5/8/2020), sembari menunjuk dua bak dan satu tiang dari pipa, yang merupakan instalasi digester biogas, di kebun kecil belakang rumah.

Digester berkapasitas 20 meter kubik itu adalah bantuan hibah dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng tahun 2019. Dari bangunan digester di lahan milik Rasman itu, energi biogas dapat dinikmati oleh 5 kepala keluarga (KK) di dusun tersebut. Selain Rasman, ada Sulias, Prayitno Wagimin, Yatimin dan Ari beserta delapan anggota keluarga, merasakan manfaatnya. Selain untuk memasak, energi biogas juga bisa digunakan untuk menyalakan lampu petromaks yang telah dimodifikasi. Jika dulu memakai spirtus, petromaks di sini berbahan bakar biogas. “Kalau listrik padam, petromaks ini langsung kita nyalakan. Membantu anak-anak tetap bisa belajar di malam hari,” ujar Riyadi. Menurut Riyadi, biogas juga tak berbahaya. Jika pipa atau selang bocor, tak memicu kebakaran seperti elpiji. ‘’Paling hanya berbau kotoran sapi, itu pertanda ada yang bocor,’’ tambahnya.

Kepala Dusun Pongangan Sobari (30) menuturkan, digester biogas berfungsi untuk menampung gas metana hasil fermentasi kotoran sapi. Limbah organik sapi kemudian diubah oleh konsorsium mikro organisme anaerob menjadi biogas. Biogas kemudian dialirkan ke rumah-rumah dengan pipa untuk keperluan memasak dan penerangan.

Kehadiran biogas sangat membantu warganya. Selain tidak lagi menggunakan kayu bakar, mereka juga dapat menghemat penggunaan elpiji. “Sejak ada biogas, warga yang biasa membeli rata-rata empat elpiji melon sebulan, kini hanya membeli satu atau dua elpiji saja. Atau bahkan ada yang tak perlu membeli elpiji sama sekali, karena kebutuhannya sudah terpenuhi dari biogas,” ujar kepala dusun sejak 2017 ini.

Jika dikalkulasi, penghematan warga cukup lumayan. Harga elpiji melon tiga kilogram Rp20 ribu. Jika warga membeli empat tabung elpiji, maka dalam sebulan membutuhkan biaya Rp80 ribu sebulan. Jika warga cukup membeli dua elpiji saja dalam sebulan, maka dapat menghemat Rp40 ribu. Tapi, jika ada warga yang tak membeli elpiji lagi, dapat menghemat Rp80 ribu. Belum lagi, penghematan dari listrik PLN, karena mulai sore hingga malam hari selama 5-6 jam warga menggunakan biogas untuk penerangan. Bagi warga desa yang sebagian besar merupakan petani dan peternak, pengeluaran biaya rumah tangga yang dapat dihemat berkat biogas tersebut, merupakan anugerah yang sangat disyukuri.

Menurut Sobari, di dusunnya terdapat 26 unit digester biogas, dipakai oleh 78 KK, atau yang terbanyak dari lima dusun yang ada di Desa Samirono. “Dusun kami lebih banyak digester, karena di sini yang paling banyak ternak sapinya. Ada 726 ekor sapi milik warga dan 643 ekor sapi potong milik pengusaha yang kandangnya ada di dusun ini,’’ ujar Sobari.

Kepala Desa Samirono, Slamet Juriono mengungkapkan, digester biogas di desanya, masing-masing berkapasitas 6 meter kubik, 10 meter kubik, 14 meter kubik, 20 meter kubik, 60 meter kubik, serta 100 meter kubik. “Yang enam meter kubik biasanya dipakai satu rumah. Untuk 10 dan 14 meter kubik, ada yang dipakai satu rumah, ada pula untuk tiga rumah. Kapasitas 20 meter kubik dipakai 5 rumah, 60 meter kubik dipakai 10 rumah, sedangkan 100 meter kubik bisa mengaliri 25 rumah,” ujar Juri, panggilan akrabnya.

Juri menuturkan, Desa Samirono memiliki 800 KK dengan 2.464 jiwa. Desa yang terletak di ketinggian 1.700 mdpl (meter di atas permukaan laut) itu, sangat cocok untuk populasi ternak, khususnya sapi perah. Populasi ternak sapi (baik perah dan potong) di desa ini tercatat 2.060 ekor.

Dikatakan, reaktor biogas pertama kali dibangun di desanya pada 1992 di rumah warga bernama Suyut. Pada 2002, mulai dikembangkan biogas komunal dengan membangun 9 unit digester biogas. Pada 2010-2012, bertambah lagi 4 unit bantuan dari pihak swasta. “Tahun 2013, kami berhasil memenangkan Lomba Desa Mandiri Energi tingkat Provinsi Jawa Tengah,” ujar pria yang menjabat Kades dua periode sejak 2014 ini.

Tahun 2016, Desa Samirono masuk nominasi Penghargaan Energi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. Pada 2017, mendapat tambahan 2 unit digester dari Dinas ESDM Provinsi Jateng. Setahun kemudian, menerima lagi 2 unit dari Dinas ESDM. Pada 2018, total ada 41 unit yang digunakan oleh 152 KK. Pada 2019, dibangun lagi 5 unit digester biogas di Dusun Pongangan dan Kendal.

Seiring waktu, digester generasi pertama banyak yang rusak, sehingga saat ini, tersisa 42 unit, dengan total volume 722 meter kubik dan kapasitas produksi mencapai 290 meter kubik per hari, yang digunakan 115 KK. Selain bantuan hibah dari pihak swasta dan Pemda, menurut Juri, pihaknya juga mengalokasikan dana desa untuk pembuatan digester secara swadaya. Pada 2018, diberikan dana stimulan Rp5 juta untuk setiap KK yang akan membangun digester. Pada 2019, dialokasikan Rp10 juta untuk biaya perawatan seluruh unit digester.

Tahun ini, Pemerintah Desa Samirono mengajukan bantuan 20 unit digester berkapasitas 6 meter kubik ke Dinas ESDM Provinsi Jateng. “Proposal kami telah disetujui, dan akan direalisasikan pada sekitar Maret 2021,” ujar Juri. Sobari menambahkan, bantuan 20 unit digester dari Dinas ESDM Jateng, akan dipasang di dusunnya. Digester itu akan dipasang di 20 rumah warga. “Untuk kapasitas 6 meter kubik, satu atau dua ekor sapi saja sudah cukup untuk menghasilkan energi biogas. Rata-rata warga di sini memiliki 1-3 ekor sapi, yang menghasilkan bahan baku kotoran sapi lebih dari cukup untuk memroduksi biogas.

Pria yang tahun lalu mengikuti bimbingan teknis biogas dari Kementerian ESDM di Bandung itu menjelaskan, untuk menghasilkan energi biogas yang maksimal dibutuhkan pula jumlah kotoran sapi yang maksimal pula. “Contohnya, untuk kapasitas 20 meter kubik, idealnya menggunakan kotoran 10 ekor sapi sehingga menghasilkan energi biogas yang maksimal. Durasinya bisa lebih lama, sekitar 20 jam. Kalau dengan 5-6 ekor sapi bisa, tapi durasinya lebih pendek. Digester di rumah Pak Rasman ini, dipakai warga untuk memasak dan penerangan selama 10-12 jam setiap hari,” ujar Sobari.

Adanya digester biogas juga memberikan keuntungan lain bagi warga, yakni pupuk organik sisa pembuatan biogas untuk pertanian. “Ampas kotoran sapi hasil pengolahan biogas, dapat langsung digunakan untuk memupuki sayuran milik warga. Ampas yang masih basah maupun yang sudah kering, bisa langsung digunakan sebagai pupuk karena sudah aman, tidak ada kandungan gas. Tanah makin subur dan tanaman tak gampang mati. Keuntungan lain, udara dan lingkungan menjadi bersih, tidak berbau,” tambah Sobari.

Kedaulatan Energi
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong dan mendukung pembangunan reaktor atau digester biogas komunal di provinsi ini. Hal itu sebagai upaya menjadikan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari Rencana Strategis (renstra) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mewujudkan kedaulatan di bidang pangan, air dan energi. “Kami terus mengembangkan EBT sebagai bagian dari upaya mewujudkan kedaulatan energi di Jawa Tengah,” ungkap Sujarwanto.

Pihaknya terus membangun reaktor biogas di banyak tempat. Bukan hanya yang berbahan baku kotoran sapi, melainkan yang bersumber dari limbah produksi tahu tempe dan limbah produksi pati onggok (tepung dari batang pohon aren). Di Klaten, misalnya, energi biogas hasil pengolahan limbah cair pati onggok di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, digunakan lagi untuk proses produksi soun, hunkwe dan dawet dari bahan baku pati onggok tersebut. Pengolahan limbah ini didanai Pemerintah Kerajaan Denmark dan Pemprov Jateng senilai Rp13 miliar.

“Tahun ini, kami membangun 36 unit reaktor biogas di 17 kabupaten dan kota dengan anggaran Rp2 miliar,’’ ujarnya. Lokasinya tersebar di berbagai tempat, antara lain di sentra-sentra ternak sapi di Getasan Kabupaten Semarang, Sragen, Boyolali dan Wonogiri. Pada 2019, dibangun pula 8 unit digester biogas total kapasitas 96 meter kubik, untuk pesantren di Purworejo, Pati dan Magelang. Hingga 2019, telah terbangun 20 unit biogas melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus ke pemerintah kabupaten dan 111 unit melalui APBN ke Kementerian ESDM. Untuk pengadaan digester biogas, Dinas ESDM Provinsi Jateng mengucurkan anggaran, yakni hibah 10 unit pada 2018 Rp484.467.000, berikutnya 17 unit Rp999.330.000 (2019), dan pada 2021 mendatang dikucurkan Rp4,87 miliar untuk pengadaan 98 unit.

Jawa Tengah bagaikan tengah ‘’berburu’’ energi baru di bawah matahari. Berbagai potensi EBT, mulai dari biogas dari kotoran sapi, limbah tahu tempe, sampah, mikro hidro, gas rawa, panas bumi, hingga panas matahari, terus diburu, diolah dan dikembangkan, menjadi energi alternatif pengganti migas dari fosil.

Tak hanya biogas dari kotoran sapi, Jateng gencar berburu energi baru dari sampah. Ini sejalan dengan kebijakan nasional tentang pengolahan energi dari sampah (waste energy). Tahun 2019, Jateng mengembangkan biomassa berbasis sampah di Kota Semarang dan Cilacap. Di Cilacap, pengolahan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF) pengganti briket batubara yang dibangun PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), mampu menghabiskan 120 ton sampah per hari. “Dengan investasi Rp120 miliar, di lahan 3 hektare PT SBI mengolah seluruh produksi sampah di Cilacap. Itu mengurangi tiga persen penggunaan briket batubara pabrik semen tersebut,” ujarnya. Di TPA Jatibarang Kota Semarang, pengolahan energi biomassa dari sistem landfill sanitation, pada 2019 lalu, menghasilkan listrik 0,8 MW.

Jateng juga mengembangkan gas biogenic atau gas rawa, yang telah dinikmati warga untuk penerangan. Pada 2013, terdapat 40 sambungan rumah (SR) di Kecamatan Ngrampel, Sragen, kemudian 40 SR di Sumowono, Sragen dan 40 SR di Cipari, Cilacap (2014), berikutnya 40 SR di Pejawaran, Banjarnegara (2015), 2 unit untuk 30 KK di Godong, Grobogan (2017), serta 1 unit untuk 15 KK di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Godong, Grobogan (2019). Tahun 2020 ini direncanakan pembangunan 1 unit di Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara.

Untuk energi mikro hidro, Jateng telah memiliki 40 pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berstatus IPP (Independent Power Producer) atau perusahaan produsen listrik, dengan total kapasitas 57,820 killowatt dan estimasi pembangkitan 305 Gigawatt per jam. Saat ini, tengah dibangun 2 unit PLTMH Karekan dan PLTMH Pageruyung I estimasi beroperasi pada tahun ini. Potensi mikro hidro di Jateng, terdapat di daerah pegunungan, tersebar di Purbalingga, Pekalongan Selatan, Banyumas, Wonosobo.

Jateng Solar Province
Berlimpahnya panas matahari di negeri khatulistiwa, sudah barang tentu tak luput dari perburuan tersebut. Untuk yang satu ini, Jateng bahkan mencanangkan Jateng Solar Province, atau provinsi yang basis energinya dari matahari atau surya. Kebijakan ini dimulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Kantor Dinas ESDM dengan daya 35 kilowatt panel (KWp), pada 2017. “Berkat PLTS Atap, terbukti kami dapat menghemat 31 persen konsumsi listrik PLN,” ujar Sujarwanto. Pada 2018 dibangun di Kantor Bappeda (30 KWp), dan 2019 di Kantor Sekretariat DPRD Jateng (30 KWp). “Kalau tidak ada pandemi Covid-19, kami sudah memasang di 94 unit di kantor SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Karena refocusing anggaran, untuk sementara baru terpasang 13 unit,” imbuhnya.

Pada 2019, dengan dana APBN, telah dibangun 20 unit dengan total daya 241 KWp di pesantren, serta tahun ini dibangun di 13 titik di 12 kabupaten/kota. Itu belum termasuk pemda kabupaten/kota yang sudah menggunakan energi surya untuk kantor dan penerangan jalan umum.

Selain instansi pemerintah, PLTS atap juga disosialisasikan kepada perusahaan swasta. Responnya sangat positif. PT Aqua Danone di Klaten memroduksi 2,3 MW, dan mampu memenuhi 30 persen kebutuhan listrik dari PLTS. Demikian pula Akamigas Cepu, dan pabrik konveksi PT Ungaran Sari Garment. “Bahkan, Kantor PLTA Jatibarang di Kota Semarang, seluruh kebutuhan listriknya memakai energi surya, bukan dari produksinya sendiri,” tambahnya.

Bahkan, untuk pulau terpencil, yakni di Pulau Parang dan Nyamuk di Karimunjawa telah dibangun dan dioperasikan PLTS komunal, yang masing-masing berdaya 30 KW. Di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, dikembangkan pembangkit listrik tenaga hybrid (dari angin dan surya). ‘’Karena lokasinya pelosok, dikelilingi perairan, PLN sulit masuk. Maka, dipilih PLT hybrid yang lebih cocok. Tahun 2019, desa ini juara 1 Desa Mandiri Energi tingkat Jateng,’’ ujar Sujarwanto.

Sedangkan untuk PLTS SHS (solar home system), Jateng telah membangun 575 unit sejak 2013-2018 dengan kapasitas terpasang 33,1 KWp. Sejak 2019, proyek ini tak lagi dilanjutkan dengan pertimbangan kondisi di lapangan, yakni terkait umur batere dan biaya perawatan.

Untuk energi bayu, Jateng tampaknya belum bisa berbuat banyak. ‘’Pernah dibangun demplot (demonstration plot) di pantai selatan Purworejo, tapi hasilnya kurang maksimal, sehingga belum bisa operasional,’’ ujarnya. Pada 2016, Pemkot Semarang pernah melakukan studi, tapi hasilnya tak memenuhi syarat. Kecepatan angin rata-rata di Kota Semarang 2,17 m/s (meter per detik), padahal kecepatan angin yang dapat menggerakkan turbin 4 m/s. Dia mengakui, Pemprov Jateng melalui APBD belum dapat mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), karena membutuhkan investasi yang besar. Saat ini, untuk skala kecil masyarakat di Desa Kedungringin, Kecamatan Tunjungan, Blora telah mengembangkan energi bayu untuk penerangan jalan umum.

Untuk energi panas bumi, potensi Jateng terbilang sangat besar, karena kaya dengan gunung api, baik masih aktif maupun yang sudah mati. Bukan saja pemanfaatan langsung untuk wisata pemandian air panas, seperti di Baturraden Banyumas. Namun juga digunakan untuk pembangkitan listrik atau pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB). Seperti yang dikelola PT Geodipa Energi di Dataran Tinggi Dieng. “Dari 60 megawatt (MW), yang direncanakan, saat ini baru bisa digarap 30 MW. Diharapkan mampu memroduksi pada kisaran 57-58 MW,” kata Sujarwanto. Saat ini, Geodipa tengah membangun konstruksi untuk proyek pembangkit 10 MW yang diharapkan berproduksi tahun depan. “Konstruksi sudah lebih 30%. Tahun 2023, kami dorong agar dapat memroduksi 50 MW lagi,” imbuhnya.

PLTPB juga akan dibangun di Baturraden dan Telomoyo oleh Geodipa dan di Ungaran dikelola PLN. “Total kandungan panas bumi di Jateng sekitar 1500 MW atau 1,5 GW (gigawatt). Itu yang baru dieksplore. Kalau mau dicari, pasti lebih banyak lagi, mulai dari kawasan Gunung Slamet, Rogojembangan, Dataran Tinggi Dieng, Sindoro, Sumbing, Ungaran, Telomoyo, Merbabu, Merapi, hingga Muria, semua punya potensi panas bumi,” tandasnya.

Menurut Sujarwanto, selama dua tahun terakhir, Jateng telah berhasil melampaui target bauran EBT sesuai Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Pada 2018, dari target bauran EBT 10,32%, berhasil dicapai 10,82%. Pada 2019, dari target 11,61% tercapai 11,69%. Untuk tahun 2020, masih tengah dihitung, dari target yang dicanangkan 11,60%. Untuk bauran EBT pada 2023, Jateng menargetkan 15,96%, dan 2025 sebesar 21,32%.

Untuk menembus target tersebut, Jateng praktis tak bakal surut berburu energi baru. Beragam inovasi niscaya kian gencar digalakkan. Jika ada adagium “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari”, Provinsi Jawa Tengah setidaknya berhasil membuktikan bahwa di bawah matahari, sejatinya ada banyak potensi energi baru terbarukan di negeri ini yang bisa diolah dan dikembangkan, untuk selanjutnya dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Insight Salurkan Hewan Kurban untuk 4 Wilayah Terdampak Covid-19

PT Insight Investments Management (Insight) telah menyalurkan hewan kurban masing-masing untuk empat wilayah di Indonesia sebagai agenda tahunan perusahaan setiap menyambut Hari Raya Idul Adha serta sebagai bentuk aksi sosial menebar #KebaikanQurbanInsight untuk berbagi kepada sesama

NASIONAL | 10 Agustus 2020

Pilkada Medan, PDIP Segera Umumkan Pasangan Bobby Nasution-Aulia Rahman

Partai besutan Megawati Soekarnoputri dipastikan tidak akan mengusung nama Akhyar Nasution.

NASIONAL | 10 Agustus 2020

Setiap Akhir Pekan, Objek Wisata di Bengkulu Semakin Ramai Dikunjungi Wisatawan

Pada hari Sabtu dan Minggu (8-9/8/2020) jumlah wisatawan yang datang ke tiga lokasi objek wisata ini mencapai 2.000 orang.

NASIONAL | 10 Agustus 2020

Cegah Covid-19, Jambi Bentuk Kembali Posko Covid-19 di Wilayah Perbatasan

Tiga pekan terakhir, kasus Covid-19 meningkat kembali di Jambi.

NASIONAL | 10 Agustus 2020

11 Tahun Berlalu, Belum Ada Kejelasan Soal Pencemaran Laut Timor

Australia ikut bertanggung jawab.

NASIONAL | 10 Agustus 2020

UMKM Menjadi Motor Ekonomi Rakyat dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

pemerintah mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai motor ekonomi rakyat yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan pemulihan ekonomi nasional (PEN)

NASIONAL | 10 Agustus 2020

Mulai Hari Ini, Ruang Pinere Baru di RSUDZA Resmi Beroperasi

Dengan ini, Pemprov Aceh memiliki 554 tempat tidur untuk merawat pasien positif Covid-19.

NASIONAL | 10 Agustus 2020

Sekolah di Zona Kuning Dibuka, FSGI: Keselamatan Siswa dan Guru Terancam

Daripada memperbolehkan sekolah dibuka, mestinya pemerintah melakukan intervensi terhadap pembelajaran jarak jauh.

NASIONAL | 9 Agustus 2020

Banyak Mahasiswa Keluhkan Sinyal, Kemdikbud Siapkan BTS Mobile untuk Daerah Terpencil

BTS mobile ini merupakan hasil karya Dikti Kemdikbud bersama beberapa kampus di Indonesia.

NASIONAL | 9 Agustus 2020

Dua Orang Petani Diduga Disandera MIT, Satu Ditemukan Tewas

Dua orang petani di Kabupaten Poso diduga disandera kelompok Mujahidin Indonesia Timur di mana satu orang berinisial AB ditemukan tewas pada Minggu (9/8/2020).

NASIONAL | 9 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS