Bahaya Trampolin untuk Anak

Bahaya Trampolin untuk Anak
Ilustrasi seorang ibu sedang mengawasi anaknya bermain trampolin. ( Foto: Dealclicks )
Sabtu, 29 September 2012 | 06:00 WIB
Alat bermain yang bisa membuat Anak melompat-lompat tinggi ini, bisa berisiko keseleo dan patah tulang, bahkan cedera serius pada leher dan kepala. 

Beberapa ahli kesehatan di Amerika Serikat, memeringatkan bahaya bermain dengan trampolin.

Peringatan ini dikeluarkan lantaran, kata mereka, setiap tahunnya, hampir 100 ribu anak terluka di negara tersebut akibat permainan tersebut.

Sebenarnya, para ahli yang tergabbung dalam American Academy of Pediatrics (AAP) itu, telah menyerukan peringatan tersebut sejak 1999.

Peringatan itu kemudian menyebabkan respons dari sejumlah produsen trampolin dengan memasang sejumlah pengamanan. Namun, para hali berasumsi pengamanan tersebut hanya menimbulkan rasa aman yang palsu.

"Penambahan jaring pengaman dan padding tidak mengurangi jumlah cedera," kata Dr Susannah Briskin, salah satu ahli yang terlibat dalam penyusuanan peringatan terbaru.

Berdasarkan laporan dalam Journal of Pediatrics, 3/4 kasus cedera terjadi ketika ada lebih dari satu anak melompat pada trampolin pada waktu yang sama. Terutama jika mereka memiliki postur yang berbeda. Anak-anak lebih rentan terhadap cedera ketika bermain di trampolin anak yang lebih kuat.

Briskin mengatakan, bahwa hal ini bisa membuat anak-anak sadar dapat melukai dirinya sendiri. "Cedera biasanya terjadi ketika mendarat, kebanyak keseleo pergelangan kaki dan patah tulang, meski ada juga yang leher dan kepalanya cedera," imbuhnya merinci.

Dalam catatan AAP, salah satu dari 200 luka-luka dari trampolin bahkan menyebabkan kerusakan saraf permanen. Hal ini terjadi, karena gerakan terbalik mengganggu keseimbangan tubuh saat mendarat. Tidak hanya anak-anak, tetapi juga remaja dan orang dewasa juga rentan mengalaminya.

Mendengar peringat tersebut, Park Publicover, pendiri dan presiden Jumpsport Inc, produsen trampolin di San Jose, California, mengaku kecewa.

Ia mengatakan, penambahan jaring pengaman yang mengelilingi trampolin terbukti dapat mengurangi risiko cedera sebesar 50 persen. Dia khawatir jika orangtua melarang anak-anaknya bermain trampolin, mungkin sang buah hati akan memilih kegiatan berisiko seperti memanjat pohon atau bermain skateboard.

Nah, bagi orangtua yang masih membiarkan anak-anaknya bermain trampolin, AAP memberikan beberapa tips untuk mengurangi risiko. Apa saja? Berikut penjelasannya.

1. Bermainlah trampolin sendirian, jangan bergabung dengan yang lainnya untuk menghindari risiko benturan dengan tubuh anak lain. Akan lebih baik bila Anda mempunyai trampolin sendiri di rumah.
2. Pasanglah jaring pengamanan dengan benar dan sempurna agar benar-benar berfungsi untuk melindungi anak saat bermain trampolin.
3. Tempatkan trampolin di tanah yang datar.
4. Orangtua harus mengawasi secara aktif agar anak tidak mencoba gerakan jungkir balik yang dapat membahayakan dirinya.