UI Gelar Seminar Internasional Kesehatan Global

UI Gelar Seminar Internasional Kesehatan Global
Wakil Rektor III Bidang Riset dan Inovasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat Rosari Saleh saat berbicara dalam konferensi “Fostering Research to Manage the Global Health” bal Health” yang diikuti ratusan peneliti dosen dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri di Bali. ( Foto: ist )
Yudo Dahono / YUD Minggu, 16 September 2018 | 15:54 WIB

Jakarta - Sedikitnya 20 pembicara kunci dari berbagai bidang kesehatan dunia berbicara tentang isu kesehatan global pada “The 3rd International Conference on Global Health” yang diikuti ratusan peneliti dosen dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri di Bali, Sabtu, 15 September 2018.

Berbagai tinjauan peneliti bidang kesehatan dipaparkan peneliti dosen dan mahasiswa sesuai tema konferensi “Fostering Research to Manage the Global Health” atau “Membina Penelitian untuk Mengelola Kesehatan Global"yang diselenggarakan kolaborasi semua rumpun ilmu kesehatan di Universitas Indonesia.

Dalam paparan pembicara kunci terlihat masalah majemuk dihadapi berbagai negara.

Agus Setiawan, peneliti dari UI, mengungkapkan pentingnya keperawatan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan neonatal atau bayi baru lahir. Karena profesi perawat di Indonesia memainkan peranan penting terhadap kualitas kesehatan bayi baru lahir.

“Angka kematian neonatal di Indonesia relatif stagnan dalam satu dekade terakhir. Dengan angka kematian neonatal 15 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017, jumlah total kematian neonatal di Indonesia menduduki peringkat 8 di dunia,” ujar Agus dalam orasi ilmiah yang diterima Beritasatu.com, Minggu (16/9).

Angka Kematian Neonatus (AKN) tahun 2012 masih sebesar 19 kematian per 1.000 kelahiran menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012.

Sementara pembicara kunci dari Jepang, Keiji Moriyama, mengungkap masalah populasi penduduk tua yang menarik perhatian negara-negara maju dalam dua dekade terakhir. Di negaranya, Jepang, menurut Keiji, proporsi penduduk usia lebih dari 65 tahun sudah mencapai 27,7% pada tahun 2017.

“Baru-baru ini, Tokyo Medical and Dental University (TMDU) meluncurkan sebuah inisiatif yang sangat penting untuk pendidikan gigi dan penelitian di masyarakat yang super menua, seperti Jepang, di bawah dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi,” paparnya.

Inisiatif kunci itu bertujuan untuk menjaga angka harapan hidup sehat atau healthy life expectancy (HALE).

Dalam pidato pembukaan, Wakil Rektor III Bidang Riset dan Inovasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat Rosari Saleh, menyatakan pencapaian keadilan dalam kesehatan untuk semua orang bukan hanya tugas pemerintah, melainkan penjadi “pekerjaan rumah” bersama pemerintah, akademisi, industri atau sektor swasta dan masyarakat.

Menurut Rosari, masalah kesehatan global di dunia mencapai puncaknya saat ini dan bukan hanya menjadi isu di negara berkembang seperti Indonesia, tetap juga di negara maju. Sehingga penanganannya harus dilakukan secara kolaboratif dan lintas negara.

“Di seminar ini kita berkumpul untuk mendiskusikan, bagaimana perbedaan antar negara harus ditangani, akses ke layanan kesehatan harus ditingkatkan, dan ancaman penyakit global harus dihadapi,” tutur Rosari yang masuk dalam lima dosen dengan produksi publikasi penelitian paling produktif di Indonesia.

Sedikitnya ada 132 artikel disajikan konferensi kesehatan global. Masih dalam rangkaian tema konferensi, juga digelar Seminar ke-3 “International Workshop Ondental Research” dan seminar pertama International Seminar on Clinical and Research in Dentistry. Masing-masing membahas 88 dan 46 artikel penelitian terkait.



Sumber: BeritaSatu.com