Usia Harapan Hidup Orang Indonesia Bisa Bertambah di Tahun 2040

Usia Harapan Hidup Orang Indonesia Bisa Bertambah di Tahun 2040
ilustrasi manula sedang istirahat ( Foto: suara pembaruan )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 18 Oktober 2018 | 10:21 WIB

Jakarta - Sebuah studi terbaru yang memprakirakan kondisi dan berbagai skenario alternatif tentang usia harapan hidup dan penyebab utama kematian di tahun 2040, memperlihatkan bahwa seluruh negara akan mencatat penambahan usia harapan hidup sedikit lebih lama. Namun, satu skenario yang lain menemukan, hampir separuhnya akan dihadapkan pada angka harapan hidup yang lebih rendah.

Peringkat negara-negara tersebut ditinjau dari usia harapan hidup menyajikan pemahaman baru tentang status kesehatan mereka. Contohnya, Indonesia. Dengan rerata usia harapan hidup 71,7 tahun di 2016, menempati peringkat ke-117 dari 195 negara.

Jika tren ini mampu dipertahankan, Indonesia akan bisa menempati peringkat ke-100 di tahun 2040 dengan rerata usia harapan hidup 76,7 tahun. Dengan kata lain, ada penambahan 5,1 tahun. Usia harapan hidup di Indonesia bisa bertambah hingga 8,4 tahun menurut skenario 'lebih baik' atau sedikitnya 1,8 tahun mengacu pada skenario 'lebih buruk'.

Perbedaan yang kontras jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS), yang pada tahun 2016 berada di peringkat ke-43 dengan rata-rata harapan hidup hingga usia 78,7 tahun. Di tahun 2040, usia harapan hidup diperkirakan akan bertambah 1,1 tahun menjadi 79,8 tahun, namun turun ke peringkat 64.

Baca Juga: Indonesia Peringkat 131 Soal Investasi Modal Insani

Di sisi lain, Tiongkok mencatat usia harapan hidup 76,3 tahun di 2016 dan diharapkan akan bertambah menjadi 81,9 tahun, serta naik dari peringkat ke-68 di tahun 2016 menjadi peringkat ke-39 di tahun 2040.

Studi bertajuk Forecasting life expectancy, years of life lost, and all-cause and cause-specific mortality for 250 causes of death; reference and alternative scenarios for 2016–40 for 195 countries and territories using data from the Global Burden of Disease Study 2016 yang diterbitkan dalam jurnal medis internasional The Lancet ini, memproyeksikan adanya peningkatan yang signifikan dari kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tidak menular, termasuk diabetes, gangguan paru kronik obstruktif (COPD), penyakit ginjal kronis, kanker paru-paru, juga penyakit-penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Di tahun 2016, sepuluh penyebab utama kematian di Indonesia adalah penyakit jantung iskemik, stroke, TBC, diabetes, komplikasi dari kelahiran prematur, kecelakaan lalu lintas, infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit-penyakit diare, encephalopathy neonatal yang disebabkan oleh asfiksia dan trauma, dan cacat bawaan lahir.

Sedangkan di tahun 2040, penyebab utama kematian adalah penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes, penyakit ginjal kronis, TBC, Alzheimer, gangguan paru kronik obstruktif (COPD), penyakit jantung hipertensi, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh diare, serta infeksi saluran pernafasan bawah.

Baca Juga: Indonesia Hadapi Beban Ganda Penyakit

Bagaimanapun, para peneliti menyimpulkan masih ada kesempatan besar untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dari kondisi kesehatan, dengan memperhatikan berbagai faktor resiko utama, seperti pendidikan dan income per kapita.

"Masa depan kondisi kesehatan di dunia, tidak sepenuhnya ditentukan oleh takdir, masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal," kata Dr Kyle Foreman, Director of Data Science Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Universitas Washington, yang merupakan penulis utama dari studi ini, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Kamis (18/10).

Namun, kata Foreman, untuk dapat melihat perubahan yang signifikan atau kondisi yang stagnan, hal ini tergantung pada seberapa bagus atau buruknya sistem yang ada dalam mengatasi dan menangani berbagai faktor penentu utama masalah kesehatan.”

"Lima penentu utama masalah kesehatan yang paling dapat menjelaskan seperti apa gambaran tentang kematian prematur di masa mendatang adalah tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh yang tinggi, kadar gula darah yang tinggi, kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi alkohol," tandasnya.

Direktur IHME, Dr Christopher Murray, mengatakan, kesenjangan akan senantiasa tetap besar. Selain itu, celah antara skenario 'lebih baik' dan 'lebih buruk' akan menyempit, namun akan tetap dianggap signifikan. Di sejumlah negara-negara yang berpengaruh, terlalu banyak warga yang tetap berpendapatan rendah, dan tetap memiliki akses yang buruk terhadap pendidikan, dan meninggal dalam usia muda.

"Namun, pemerintahan masing-masing negara dapat mencatat kemajuan yang pesat dengan membantu rakyatnya mengatasi berbagai faktor resiko utama, terutama kebiasaan merokok dan pola makan yang buruk," jelasnya.

Murray menambahkan, variasi dari temuan berdasarkan skenario 'lebih baik' dan 'lebih buruk' memungkinkan pemangku kepentingan untuk menelaah berbagai potensi perubahan untuk meningkatkan sistem kesehatan-baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

"Skenario-skenario ini menawarkan pemahaman baru dan bantuan dalam merumuskan perencanaan kesehatan, khususnya saat terjadi kelambanan, antara investasi awal dan dampak yang dihasilkan, misalnya dalam hal riset dan pengembangan untuk obat-obatan," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com