Leukimia, Momok bagi Anak (1)

Leukimia, Momok bagi Anak (1)
Pasien anak bercengkrama di area bermaian di Ruang Rawat Anak Prudential di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (10/10/2017). Tak ada kesedihan yang berlebih di raut wajahnya, walau penyakit yang diderita bukan sembarang sakit. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal )
Dina Manafe / IDS Rabu, 17 Oktober 2018 | 00:00 WIB

Jakarta - Pemeriksaan dini adalah cara terbaik untuk mencegah keparahan penyakit. Sepenggal kalimat inilah yang terus digaungkan oleh Natarini Setyaningsih (34). Menjadi seorang penyintas kanker darah atau leukimia membuat Rini, sapaan akrabnya, tahu betul betapa pentingnya pemeriksaan dini kanker. Rini terdiagnosa kanker leukimia ketika usianya beranjak 12 tahun. Awalnya, leukimia tidak menunjukkan gejala khas, hanya demam naik turun yang tidak kunjung sembuh.

Seperti awam lainnya, Rini minum obat penurun demam. Memang reda, tetapi hanya sehari. Keesokannya muncul kembali. Bahkan seorang dokter pun bisa salah mendiagnosis. Bintik-bintik di tubuh Rini didiagnosa malaria. Doktet lainnya menyebut pucat dan kuning pada tubuh Rini karena penyakit liver. Hingga akhirnya, di RSCM, dokter mendiagnosa Rini menderita leukimia.

“Sejak saat itu hingga lebih dari tiga tahun saya menjalani 11 kali radiasi dan 6 kali kemoterapi,” ujar Rini pada temu media tentang Kanker Anak di Jakarta, Selasa (16/10).

Setelah menjalani serangkaian pengobatan, Rini akhirnya dinyatakan sembuh. Kini perempuan yang bekerja sebagai sekretaris Journal of Cancer itu menjadi pejuang bagi pasien kanker.

Leukimia memang menjadi momok terutama pada anak-anak. Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat, leukimia menduduki posisi pertama tertinggi pada anak-anak dengan kasus sebanyak 2,8 per 100.000. Hampir 50% dari seluruh kasus kanker pada anak adalah leukimia.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Murural Aisyi, menjelaskan, sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab kanker leukimia. Namun, secara statistik di seluruh dunia, kanker leukimia tertinggi diderita anak-anak, termasuk di Indonesia. Leukimia akut bahkan bisa menyebabkan kematian hanya dalam waktu tiga bulan, tidak seperti leukimia kronik yang kerusakannya terjadi pelan-pelan.

Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak lebih sulit diketahui karena anak-anak umumnya belum mampu mengemukakan apa yang dirasakan. Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk peka terhadap kondisi kesehatan anak dengan mengenali tanda dan gejala kanker pada anak. Apabila sudah ada keluhan atau gejala yang tidak biasa, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan segera.

Kabar baiknya, kanker leukimia pada anak cepat merespons pengobatan yang ada, sehingga peluang untuk sembuh lebih besar dibanding orang dewasa. Jika ditemukan sejak dini, peluang sembuh total seperti kasus Natarini bisa sembuh total. Sebab, kekacauan di tingkat selnya masih lebih minimal dibandingkan pada orang dewasa. Dengan perkembangan teknologi kedokteran yang makin maju, penyakit leukimia yang dulunya mustahil untuk disembuhkan, kini bisa diperpanjang usia harapan hidupnya.



Sumber: Suara Pembaruan