Pseudosains dan Hoax Jerumuskan Orangtua Penderita Kanker (2, habis)

Pseudosains dan Hoax Jerumuskan Orangtua Penderita Kanker (2, habis)
Orang tua menemani pasien anak di salah satu Ruang Rawat Anak Prudential di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (10/10/2017). Orang tua tak putus memberikan semangat untuk sang anak akan segera sembuh. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal )
Dina Manafe / IDS Rabu, 17 Oktober 2018 | 00:00 WIB

Jakarta - Persoalannya di Indonesia, kata Mururul, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini sangat minim. Akibatnya banyak pasien anak ketika diperiksa dokter sudah dalam kondisi stadium lanjut. Persoalan lainnya, beberapa pasien anak sudah terdiagnosa awal, tetapi orang tuanya memilih mundur dan tidak lagi melakukan pengobatan di rumah sakit.

“Tidak sedikit yang memilih pengobatan alternatif atau herbal, dan kembali ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut. Inilah yang menyebabkan banyak pasien leukimia dan kanker lainnya tidak tertolong,” kata Mururul kepada SP di Jakarta, Rabu (17/10).

Mururul mengatakan, masyarakat Indonesia masih banyak yang terpengaruh dengan hoax, dan menjadi korban dari pseudosains. Pseudosains adalah sebuah metodologi atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah, tetapi tidak mengikuti persyaratan ilmiah alias semu.

Pasien memilih pengobatan herbal karena termakan berbagai hoax, seperti efek samping terapi yang menakutkan, sel kanker menyebar luas jika dioperasi, dan biaya mahal. Kelemahan-kelemahan inilah yang kerap ditonjolkan, sehingga orang menghindari pengobatan ilmiah. Padahal, pengobatan kedokteran memenuhi syarat ilmiah, dan efikasi obat yang ditawarkan sudah melalui proses penelitian hingga uji klinis yang panjang.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemkes, dr Cut Putri Arianie menjelaskan, kanker anak adalah kanker yang menyerang anak berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan. Menurut Sistem Registrasi Kanker di Indonesia (Srikandi) tahun 2005-2007, perkiraan angka kejadian kanker anak (0-17 tahun) sebesar 9 per 100.000 anak, atau di antara 100.000 anak terdapat 9 anak yang menderita kanker. Pada anak usia 0-5 tahun angka kejadiannya lebih tinggi yaitu 18 per 100.000 anak, sedangkan pada usia 5-14 tahun 10 per 100.000 anak.

Selain leukimia, terdapat lima jenis kanker lain yang sering menyerang anak-anak, yaitu retinoblastoma, osteosarkoma, neuroblastoma, limfoma maligna, dan karsinoma nasofaring. Leukemia, kata Arianie, merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang. Pada kondisi masih ringan, gejala leukemia tidak khas, seperti pucat, lemah, anak rewel, napsu makan menurun, dan demam tanpa sebab yang jelas. Dalam kondisi berat, sudah terjadi pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening, kejang sampai penurunan kesadaran, pendarahan kulit dan atau pendarahan spontan. Kemudian ada juga gejala nyeri tulang yang seringkali ditandai dengan anak tidak mau berdiri dan berjalan, dan lebih nyaman digendong. Selain itu, pada anak laki-laki terdapat pembesaran buah zakar dengan konsistensi keras.

Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab kanker pada anak. Karena itu, penemuan dini kasus merupakan kunci keberhasilan pengendalian kanker pada anak.

“Baik orang tua maupun petugas kesehatan diharapkan dapat mendiagnosa kanker pada stadium awal, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai tingkat fasilitas kesehatan rujukan,” kata Arianie.



Sumber: Suara Pembaruan