Akses Sanitasi Turunkan 27% Kasus Stunting

Akses Sanitasi Turunkan 27% Kasus Stunting
Pengukuran tinggi badan anak ( Foto: MCA Indonesia / MCA Indonesia )
Dina Manafe / IDS Jumat, 19 Oktober 2018 | 00:00 WIB

Jakarta - Direktur Kesehatan Lingkungan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Imran Agus Nurali, mengatakan, sanitasi juga berkaitan erat dengan stunting. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan, 1 dari 3 anak Indonesia menderita stunting. Akses terhadap sanitasi yang baik berkontribusi dalam penurunan stunting sebesar 27%. Jika intervensi yang terfokus pada perubahan perilaku dalam sanitasi dan kebersihan dapat menyebabkan potensi stunting berkurang.

Imran menjelaskan, stunting terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun. Saat hamil, apabila minum air atau makanan yang tercemar bakteri, maka vili di dalam usus akan hancur. Fungsi utama dari vili pada usus adalah untuk meningkatkan penyerapan nutrisi dari makanan yang lewat melalui usus halus. Jika vili hancur, zat gizi makanan pun terbuang selama kehamilan hingga anak lahir dan akhirnya mengganggu pertumbuhan fisik dan otak anak.

Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2007 menunjukkan jika setiap anggota keluarga dalam suatu komunitas melakukan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), maka angka kejadian diare akan dapat turun sebesar 94%. Lima pilar tersebut, yaitu setop buang air besar (BAB) sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan sampah, dan pengelolaan limbah cair.

Penyakit akibat sanitasi yang buruk seperti gangguan saluran pencernaan membuat energi untuk pertumbuhan tubuh menjadi teralihkan, sehingga tubuh kurang mampu menghadapi penyakit infeksi. Sanitasi buruk tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan, tapi juga pada ekonomi negara. Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar Rp 56,7 triliun per tahun akibat kondisi sanitasi yang buruk untuk membayar ongkos pengobatan dan akomodasi.

Tahun ini merupakan permulaan diberikannya penghargaan STBM kepada wilayah yang telah mencapai 100% pilar STBM. Penghargaan ini diberikan Kemkes kepada provinsi yang mendapatkan penghargaan STBM berkelanjutan Eka Pratama, yakni Provinsi Yogyakarta.

Sedangkan 23 kabupaten/kota yang juga mendapatkan penghargaan adalah Sukoharjo, Karanganyar, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Wonogiri, Boyolali, Grobogan, Ngawi, Pacitan, Madiun, Magetan, Pare-pare, Banda Aceh, Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Yogyakarta, Sumbawa Barat, Kabupaten Alor, Kupang, Lamongan, Kulonprogo, dan Pringsewu.

Penghargaan STBM berkelanjutan merupakan penghargaan berjenjang dengan 5 kategori, yakni, kategori STBM Eka Pratama (memenuhi 1 pilar STBM), STBM Dwi Pratama (memenuhi 2 pilar STBM), STBM Eka Madya (memenuhi 3 pilar STBM), STBM Dwi Madya (memenuhi 4 pilar STBM), dan STBM Utama (memenuhi 5 pilar STBM). Sampai saat ini, belum ada satu pun provinsi maupun kabupaten/kota yang bisa menerapkan lima pilar STBM secara 100%.



Sumber: Suara Pembaruan