Kemkes: Perlu Kolaborasi untuk Tangani AMR di Indonesia

Kemkes: Perlu Kolaborasi untuk Tangani AMR di Indonesia
Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemkes Bambang Wibowo. ( Foto: Beritasatu Photo / Bernardus Wijayaka )
Bernadus Wijayaka / WBP Selasa, 4 Desember 2018 | 13:53 WIB

Jakarta - Resistensi Antimikroba (AMR) sudah menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai di Indonesia. Mengantisipasi akibat yang lebih fatal, sejak tahun 2017, pemerintah telah merancang Rencana Kerja Nasional (NAP). Fokus NAP adalah pengendalian resistensi antimikroba (AMR) di sektor peternakan dan lingkungan. Salah satu bentuk keseriusan Indonesia terhadap ancaman AMR, Kementerian Kesehatan (Kemkes) menggelar Konferensi Internasional mengenai AMR yang digelar di Hotel JW Marriott, Jakarta, akhir pekan lalu.

Dalam kesempatan paparannya pada pembukaan konferensi tersebut, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemkes Bambang Wibowo yang mewakili Menteri Kesehatan (Menkes) mengungkapkan NAP merupakan upaya kolaborasi lintas sektor dan lintas kementerian yang menekankan pada konsep one health.

"Konferensi ini bertujuan untuk menghimpun para ilmuwan, peneliti, praktisi kesehatan dan pemangku kebijakan lainnya dari berbagai sektor untuk berbagi pengalaman dalam pengendalian AMR setelah satu tahun NAP dirancang," kata dia, Selasa (4/12).

Pada kegiatan ini, berbagai institusi juga menyampaikan paparannya dalam upaya mengendalikan AMR. Salah satunya, Indonesia One Health University Network (Indohun) Dalam paparannya, Koordinator Nasional One Health Laboratory Network (OHLN) Joko Pamungkas, mengungkapkan pentingnya memperkuat jejaring laboratorium.

Joko menjelaskan, OHLN merupakan jejaring laboratorium yang masih bergerak di tingkat universitas dan butuh untuk bekerja sama dengan laboratorium pemerintah. Oleh karena itu, OHLN saat ini sedang melakukan pendekatan dengan lab di tingkat pemerintah, seperti di lab Kemkes dan Kementerian Pertanian (Kemtan).

Joko juga menekankan perlunya koordinasi lintas sektor yaitu untuk dapat meningkatkan early detection AMR dan meningkatkan surveilans AMR. Selain itu, dengan koordinasi antarlab, dapat mengakomodasi sharing resources, seperti logistik atau kepakaran.

Konferensi ini selain menekankan pada upaya yang telah dilakukan dalam menekan AMR, juga sebagai pengingat kepada pemangku kebijakan, praktisi, dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam menekan ancaman AMR di Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE