Menkes Sebut Kasus DBD Mulai Menurun

Menkes Sebut Kasus DBD Mulai Menurun
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara fogging. ( Foto: Beritasatu TV )
Dina Manafe / FER Senin, 11 Februari 2019 | 22:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek mengungkapkan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini sudah mulai menurun. Jika dibandingkan dengan bulan Desember 2018 dan Januari 2019, memasuki bulan Februari ini kasusnya berkurang.

"Angkanya mulai turun. Kemarin saya dapat kabar jumlahnya dari Januari ke tanggal 8 Februari sudah sangat menurun," kata Menkes usai menghadiri kick off meeting 'Percepatan Pencapaian Sasaran dan Target Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) tahun 2019' di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Senin (11/2).

Data Kementerian Kesehatan (Kemkes) per 9 Februari 2019 menunjukkan, terjadi penurunan kasus dari tanggal 22 Januari ke 9 Februari 2019. Di tanggal 23 Januari, jumlah kasusnya masih di angka 2.894 kasus, kemudian menurun drastis di tanggal berikutnya sebanyak 429 kasus. Selanjutnya fluktuatif, hingga tanggal 8 Februari jumlahnya 287 kasus. Sementara jumlah penderita sejak dilaporkan sampai saat ini mencapai 18.106 orang dengan kematian 180 orang. Kebanyakan kasus terjadi pada anak-anak.

Provinsi Jawa Timur (Jatim) masih merupakan provinsi dengan jumlah kasus dan angka kematian tertinggi, disusul Jawa Barat (Jabar). Nusa Tenggara Timur (NTT) menduduki posisi ketiga dengan jumlah kasus terbanyak, namun untuk kematian provinsi ini di posisi keempat. Sulawesi Utara (Sulut) justru memiliki angka kematian terbanyak ketiga, meskipun secara jumlah kasus lebih rendah dari NTT, yaitu di urutan kelima.

Menurut Menkes, penurunan ini terjadi karena kesadaran dan peran dari masyarakat meningkat. Menurut Menkes, demikian seharusnya masyarakat memiliki peran lebih besar dalam memberantas penyakit musiman ini. Sebab, nyamuk sebagai pembawa virus dengue, penyebab DBD, ada dan tinggal di lingkungan atau tempat tinggal masyarakat. Kegiatan sederhana, seperti menguras bak mandi, menutup tampungan air, dan melipat baju-baju yang digantung dan menjadi sarang nyamuk efektif untuk mengurangi penularan DBD.

Menkes mengatakan, Kemkes sendiri sudah berupaya maksimal untuk melakukan pencegahan dan antisipasi DBD. Menkes sudah mengirimkan surat kepada seluruh gubernur untuk mewaspadai ancaman DBD jelang musim hujan. Lewat Dinas Kesehatan juga sudah dilakukan berbagai upaya untuk pemberantasan sarang nyamuk, termasuk fogging.

"Dengan kerja sama yang baik, menjaga kebersihan lingkungan dan perilaku untuk mengurangi nyamuk dewasa, dan pengobatannya teratasi, maka kita berharap kasusnya menurun," ucap Menkes.

Namun, Menkes mengingatkan semua pihak untuk tetap mewaspadai DBD. Karena selama curah hujan masih tinggi, maka potensi penyakit ini masih terjadi. Kebersihan lingkungan merupakan faktor paling utama dalam penanggulangan penyakit termasuk DBD. Faktor lingkungan memiliki peran 40 persen, perilaku manusia 30 persen, dan pelayanan kesehatan hanya 20 persen.

Soal angka kematian DBD yang tinggi, menurut Menkes, dikarenakan banyak pasien terlambat mendapat penanganan. Menkes menjelaskan, virus dengue seringkali bermutasi, sementara tidak mudah untuk menilai tipe virus tersebut yang terus berubah-ubah. Virus dengue sendiri terdiri dari empat sterotipe, dan di Indonesia lebih banyak sterotipe 2, sehingga sampai saat ini belum ada satu pun vaksin yang efektif atau mempan untuk mencegah virus ini.

Selain itu, kata Menkes, gejala yang ditimbulkan DBD saat ini cenderung berubah. Dulu, gejala panas bisa selama lima hari baru dicurigai DBD. Tetapi sekarang, kata Menkes, gejala panas dalam sehari saja bisa menyebabkan trombosit turun, lalu terjadi pengenceran darah dan perdarahan.

"Sekarang ini kadang panas sehari saja bisa trombosit turun, terjadi pengenceran darah. Inilah yang tidak terkejar, sehingga menyebabkan kematian tinggi," kata Menkes.

Karena itu, Menkes meminta masyarakat terutama orang tua mana kala anak mengalami panas harus dicurigai sebagai DBD, sehingga langsung ke fasilitas kesehatan untuk mendapat pengobatan segera. Meskipun tidak semua kasus demam atau panas badan adalah DBD, tetapi dari pada terlambat sebaiknya segera ke fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisinya.



CLOSE