Musnahkan DBD, Pemberantasan Sarang Nyamuk Wajib Hukumnya

Musnahkan DBD, Pemberantasan Sarang Nyamuk Wajib Hukumnya
Dina Manafe / IDS Selasa, 12 Februari 2019 | 13:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski tren kasus demam berdarah dengue (DBD) menurun, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes, Siti Nadia Tarmizi menyatakan, kasus DBD tidak bisa berhenti. Selain pengaruh curah hujan, mereka yang sudah terkena virus dengue baru menimbulkan gejala demam setelah 3-5 hari. Mereka terdeteksi setelah datang ke fasilitas kesehatan (faskes).

Selama belum terdeteksi dan mendapat pengobatan, mereka bisa menularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Itulah mengapa pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sangat dibutuhkan untuk memusnahkan sarang nyamuk, dan sedapat mungkin menghindari gigitan nyamuk dengan berbagai cara.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, penurunan angka penderita DBD saat ini terjadi karena kesadaran dan peran dari masyarakat meningkat.

Demikian seharusnya, kata Menkes, masyarakat harus mengambil peran lebih besar dalam memberantas penyakit musiman ini. Sebab, nyamuk sebagai pembawa virus dengue, penyebab DBD, ada dan tinggal di lingkungan atau tempat tinggal masyarakat. Kegiatan sederhana, seperti menguras bak mandi, menutup tampungan air, dan melipat baju-baju yang digantung dan menjadi sarang nyamuk efektif untuk mengurangi penularan DBD.

“Dengan kerja sama yang baik, menjaga kebersihan lingkungan dan perilaku untuk mengurangi nyamuk dewasa, dan pengobatannya teratasi, maka kita berharap kasusnya menurun,” ucap Menkes.