Akibat Mutasi Virus DBD, Jangan Sepelekan Anak Demam

Akibat Mutasi Virus DBD, Jangan Sepelekan Anak Demam
Penyuluhan menyeluruh pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga dilakukan dengan memasang stiker peringatan di rumah-rumah warga. Seorang kader Ibu Memantau Jentik (Bumantik) menempelkan stiker bebas jentik nyamuk di salah satu rumah warga saat Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk di Surabaya, Jawa Timur,1 Februari 2019. Kegiatan pemantauan jentik nyamuk ke rumah-rumah warga oleh ribuan kader Bumantik tersebut guna mengantisipasi dan memberantas penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti. ( Foto: Antara / Moch Asim )
Dina Manafe / IDS Selasa, 12 Februari 2019 | 13:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) banyak menelan korban jiwa karena banyak pasien yang terlambat mendapat penanganan medis. Menteri Kesehatan, Nila Moeloek menjelaskan, virus dengue seringkali bermutasi, sehingga gejala yang ditimbulkan tidak lagi khas.

Dulu, DBD menunjukkan gejala khas seperti bintik merah pada tubuh dan mimisan. Namun sekarang, seseorang bisa langsung mengalami syok (keluar cairan dari tubuh) hanya dengan demam. Ini yang tidak disadari oleh banyak pasien. Gejalanya baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah di faskes.

“Sekarang ini kadang panas sehari saja bisa trombosit turun, terjadi pengenceran darah. Inilah yang tidak terkejar, sehingga menyebabkan kematian tinggi,” kata Menkes saat ditemui usai menghadiri kick off meeting percepatan pencapaian sasaran dan target bidang pembangunan manusia dan kebudayaan tahun 2019 di Kantor Kemko PMK, Jakarta, Senin (11/2).

Karena itu, Menkes meminta masyarakat terutama orang tua mana kala anak mengalami panas harus dicurigai sebagai DBD, sehingga langsung ke faskes untuk mendapat pengobatan segera. Penting ke faskes untuk memastikan gejala demam atau panas tubuh adalah DBD atau tidak.

Hal senada diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes, Siti Nadia Tarmizi kala dihubungi Beritasatu, Selasa (12/2). Ia menjelaskan, DBD memiliki empat stereotipe, di mana yang paling berbahaya adalah sterotipe 2 dan 3. Di Indonesia, lebih banyak terdapat DBD dengan stereotipe 2, yang menyebabkan banyak kasus kematian. Ketika seseorang terserang virus dengue, trombosit (sel pengental darah) turun di bawah 150.000/UI, dan hematokrin (kadar sel darah merah) naik di atas 40%.

Persoalannya, kata Nadia, banyak pasien yang tidak mau dirawat atau ke faskes ketika kondisinya masih bagus, misalnya hanya panas tubuh tanpa gejala lain. Ketika datang ke rumah sakit, pasien sudah mengalami perdarahan dan syok. Ini biasanya terjadi sangat cepat dalam waktu jam dan hari.

Karena itulah, masyarakat diminta dengan sangat di musim DBD ini apabila mengalami panas atau demam, segera dibawa ke faskes, terutama mereka yang akses ke faskesnya jauh. Jika mereka menderita panas atau demam satu hari saja, langsung segera dibawa ke faskes agar tidak terlambat.



Sumber: Suara Pembaruan