Benarkah Vape Lebih Aman dari Rokok? Ini Kata Pakar

Benarkah Vape Lebih Aman dari Rokok? Ini Kata Pakar
Konferensi pers dan dialog publik bertemakan "Rokok Elektrik, Ancaman atau Solusi" yang diadakan Komnas Pengendalian Tembakau di Kantor PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jakarta, 14 Mei 2018. ( Foto: Beritasatu / Dina Manafe )
Dina Manafe / HA Selasa, 14 Mei 2019 | 19:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rokok elektrik makin digandrungi masyarakat khususnya kaum muda. Masifnnya kampanye bahwa rokok elektrik atau juga dikenal dengan vape ini dianggap lebih aman dibanding rokok konvensional mendorong para perokok beralih. Bahkan tak sedikit yang menganggap rokok elektrik ini sebagai solusi berhenti merokok. Benarkah demikian?

Dalam diskusi publik yang diselenggarakan Komnas Pengendalian Tembakau bertemakan “Rokok Elektrik, Ancaman atau Solusi” di Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBI IDI), Selasa (14/5/209), para pakar kesehatan justru mengungkapkan fakta sebaliknya. Praktisi medis dari berbagai disiplin ilmu ini mengungkapkan rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional. Meskipun rokok elektrik memiliki kandungan tar yang rendah, tetapi mengandung bahan kimia lain yang justru jauh lebih mematikan.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Dr Sally Aman Nasution mengatakan rokok elektrik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis, sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu, seperti kanker paru, mulut dan tenggorokan, gangguan di bidang pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis.

Senada dengannya, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr Agus Dwi Susanto mengungkapkan, berbagai penelitian menunjukkan dampak rokok elektrik pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan atau inflamasi, kerusakan epitel, kerusakan sel, menurunkan sistem imunitas lokal paru dan saluran napas. Rokok elektrik juga meningkatkan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema, dan risiko kanker paru.

“Beberapa penelitian di populasi juga menunjukkan bahwa rokok elektrik menyebabkan iritasi saluran napas, meningkatkan gejala pernapasan, risiko bronkitis, asma serta risiko penyakit bronkiolitis obliterans dan infeksi paru,” kata Agus.

Dr. Erlina Burhan dan dr Anna Rozaliyani dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) mengatakan, terdapat 7x1.011 zat radikal per-hirup rokok elektrik yang akan meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun yang mirip dengan rokok reguler.

Kandungan zat berbahaya dalam rokok elektrik antara lain nikotin, dapat mengubah ekspresi beberapa gen, salah satunya ICAM-4 yang dapat meningkatkan penempelan bakteri tuberkolosis atau TBC. Kondisi tersebut membuat perokok berisiko dua kali lipat untuk terinfeksi dan meninggal karena TBC dibandingkan bukan perokok.

Mengenai anggapan bahwa rokok elektrik dapat menjadi alat bantu berhenti merokok, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menolaknya. Menurut IAKMI, alih-alih berhenti merokok, berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan para perokok justru terjerat rokok elektrik dan rokok konvensional sebagai pengguna ganda (dual users).

Di Polandia, misalnya, dari 30% remaja 15-19 tahun yang mengonsumsi rokok elektrik tahun 2013-2014 ternyata sebanyak 72,4% di antaranya adalah pengguna ganda. Di Indonesia, studi UHAMKA pada remaja SMA di Jakarta tahun 2018 menemukan, dari 11,8% perokok elektrik sebanyak 51% di antaranya pengguna ganda.

Beredarnya penelitian tentang keamanan rokok elektrik terhadap kesehatan mulut dan gigi juga harus dipertanyakan. Sebab menurut drg. Didi Nugroho Santosa dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyebutkan, rokok elektrik ternyata tetap berpengaruh negatif pada sel mukosa mulut dan tidak terbukti bahwa rokok elektrik merupakan cara yg tepat untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, peredaran rokok elektrik secara global saat ini tengah melambung. Peredarannya tersebar luas terutama di negara-negara berkembang dan di kalangan anak-anak dan remaja. Di Indonesia, hasil monitoring Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2018 lalu menemukan banyak anak-anak sekolah dasar mengonsumsi vape di sekolah.

Peminat rokok elektrik meningkat tajam yang diindikasikan dengan menjamurnya para penjual vape, baik di gerai-gerai maupun di toko online. Mereka mendapatkannya sangat mudah dan tidak ada regulasi apapun yang mengaturnya kecuali pengenaan cukai 57% yang justru melegalisasi produk yang belum jelas keamanannya ini.

WHO dalam konferensi WHO Framework Convention On Tobacco Control tahun 2014 lalu menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan rokok elektrik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.



Sumber: BeritaSatu.com