Masyarakat Diminta Cerdas Pilih Produk Air Minum Dalam Kemasan

Masyarakat Diminta Cerdas Pilih Produk Air Minum Dalam Kemasan
Air minum dalam kemasan.
Dina Manafe / FER Selasa, 14 Mei 2019 | 19:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan teknologi pengolahan air memungkinkan makin banyak pilihan bagi masyarakat terhadap berbagai produk air minum dalam kemasan (AMDK). Namun, tidak semua air yang bisa diakses di pasaran baik untuk kesehatan. Masyarakat diminta untuk cerdas memilih produk air minum yang aman dan sehat. Masyarakat juga diminta tidak begitu saja mempercayai iklan atau kampanye yang mengklaim sebuah produk air minum bisa mengobati penyakit.

Baca Juga: Pahami Jenis dan Manfaat Air Minum Dalam Kemasan

Dokter spesialis gizi klinik sekaligus Ketua Indonesian Hydration Working Group, Diana Sunardi, mengatakan, pemahaman di tengah masyarakat bahwa air dengan pH tinggi dapat menstabilkan kadar pH tubuh, menangani tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, serta mencegah penyakit kanker, hingga saat ini klaim tersebut masih perlu dibuktikan secara ilmiah. Dengan kata lain, manfaat lebih dari produk air yang dimaksudkan belum terbukti secara ilmiah, misalnya untuk detoksifikasi, menyembuhkan kanker, tumor, dan lain-lain.

"Untuk jenis air demineral, air dengan pH tinggi, maupun air dengan tambahan kandungan oksigen, masih memerlukan dukungan kajian ilmiah lebih lanjut untuk mengetahui bahwa jenis-jenis air tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan lain, misalnya detoksifikasi, menyembuhkan kanker, tumor dan sebagainya,” kata Diana dalam acara konferensi pers dan diskusi "Mengenal Jenis dan Manfaat Air Minum dalam Kemasan di Indonesia" di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Baca Juga: Zona Kebaikan Air Hadir di Taman Pintar Yogyakarta

Diana mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan hidrasi tubuh, AMDK menjadi salah satu pilihan masyarakat. Dengan banyaknya jenis yang dijual di pasaran saat ini, tidak banyak masyarakat yang memahami perbedaan dan manfaat pada setiap jenisnya. AMDK merupakan produk yang diatur secara ekstensif karena mempunyai peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat. Dari berbagai jenis air minum yang dipasarkan di Indonesia, ada empat jenis yang selalu jadi perhatian, yaitu air mineral, air demineral, air oksigen dan air alkali (pH tinggi).

Keempat jenis air minum tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Air Mineral merupakan AMDK paling mudah ditemukan di pasaran. Air mineral mengandung mineral-mineral dalam jumlah tertentu tanpa menambahkan mineral, sesuai dengan yang diatur dalam SNI yang berlaku. Dalam air mineral terdapat kandungan natrium, kalsium, zinc, florida, magnesium, kalium, dan silica yang dibutuhkan oleh tubuh.

Diana mengatakan, AMDK yang layak dikonsumsi memiliki kemasan atau botol bersih, label dan tanggal kedaluwarsa jelas, serta kode produksi sama pada bagian tutup dan botolnya. Sebelum diminum, juga dipastikan air kemasan tersebut berkualitas baik, yaitu tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa sebelum diminum, dan pastinya tidak mengandung bahan berbahaya.

Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Nurul Ratna Mutu Manikam, mengatakan, hidrasi atau pemenuhan kebutuhan cairan tubuh harus diperhatikan sebab akan berpengaruh terhadap kesehatan, kebugaran, serta kinerja seseorang. Air menjadi salah satu zat makro esensial dan berperan penting dalam fungsi fisiologis tubuh. Berbagai organ dalam tubuh seperti ginjal, otak, dan otot mengandung 70 persen hingga 80 persen air, dan kurang lebih 50 persen sampai 60 persen tubuh manusia tersusun dari air.

"Minum air yang cukup sangatlah penting untuk keseimbangan pengaturan proses biokimia, pengatur suhu, pelarut, pembentuk sel, pelumas sendi dan bantalan organ tubuh, media transportasi zat energi dan sisa metabolisme. Dengan begitu air membantu tubuh menggunakan nutrisi secara lebih efektif,” kata Nurul.

Disarankan untuk minum air delapan gelas sehari. Ini untuk mencegah dehidrasi atau ketidakseimbangan kebutuhan cairan tubuh yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Jangka pendek, misalnya penurunan konsentrasi, kelelahan dan sembelit. Jangka panjang bisa menyebabkan gangguan ginjal, seperti batu ginjal, dan penyakit ginjal kronis. Juga bisa menyebabkan infeksi saluran kemih atau pun risiko kegemukan.



Sumber: Suara Pembaruan