Kemkes Minta Masyarakat Tak Perlu Panik dengan Cacar Monyet

Kemkes Minta Masyarakat Tak Perlu Panik dengan Cacar Monyet
Ilustrasi penyakit cacar monyet atau monkeypox ( Foto: Beritasatu Photo / The Star )
Dina Manafe / IDS Rabu, 15 Mei 2019 | 14:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penularan virus monkeypox atau cacar monyet di Singapura saat ini menimbulkan kekhawatiran sampai di Indonesia. Pasalnya, penyakit menular ini meskipun belum menjadi wabah, tetapi berpotensi untuk masuk ke Indonesia melalui pintu masuk negara, perbatasan atau pelabuhan. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemkes) meminta masyarakat agar tidak perlu panik dengan kabar ini.

“Sampai saat ini belum ditemukan kasus monkeypox di Indonesia. Diimbau tetap waspada dengan menjaga kebersihan,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, dr. Anung Sugihantono dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Untuk diketahui, Singapura telah melaporkan adanya virus monkeypox di negara mereka. Virus ini dibawa oleh seorang pria warga negara Nigeria yang berkunjung ke Negeri Singa itu. Pria tersebut dinyatakan positif terinfeksi monkeypox pada 8 Mei, dan telah menerima perawatan di bangsal isolasi National Center for Infectious Diseases (NCID).

Menurut Anung, monkeypox dapat dicegah. Lagi pula, setiap negara termasuk Indonesia sudah memiliki manajemen pencegahan dan pengendalian penyakit menular dari negara lain. Antara lain dengan menyiagakan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Untuk masyarakat, pencegahan bisa dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun. Kemudian menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik. Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi.

Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengonsumsi daging yang diburu dari hewan liar. Para pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit monkeypox diminta untuk segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala, seperti demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan. Juga diimbau untuk segea menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

“Untuk petugas kesehatan, kami juga mengingatkan agar menggunakan alat pelindung, minimal sarung tangan dan masker saat menangani pasien atau binatang yang sakit,” kata Anung.

Lebih jauh Anung mengatakan, monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan monyet, tikus gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Inang utama dari virus ini adalah tikus (rodent).



Sumber: BeritaSatu.com