Kemkes: Cacar Monyet Jarang Menular Antar Manusia

Kemkes: Cacar Monyet Jarang Menular Antar Manusia
Gejala penyakit cacar monyet. ( Foto: istimewa )
Dina Manafe / IDS Rabu, 15 Mei 2019 | 14:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penularan virus monkeypox atau cacar monyet di Singapura membuat masyarakat di Tanah Air ikut khawatir. Sebagai negara tetangga, virus ini sangat berpotensi masuk ke Indonesia. Namun, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemkes) sudah memastikan virus ini tidak ada di Indonesia.

Lagipula, menurut Kemkes, virus ini sangat jarang menularkan dari manusia ke manusia. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan monyet, tikus gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Inang utama dari virus ini adalah tikus (rodent).

“Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, dr. Anung Sugihantono dalam keterangan yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (15/5).

Lebih jauh Anung menjelaskan, wilayah terjangkit monkeypox secara global terjadi di negara-negara Afrika Tengah maupun Afrika Barat, seperti Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon, dan Sudan Selatan. Pernah terjadi kejadian luar biasa (KLB) di beberapa wilayah.

Tahun 1970 terjadi KLB pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo. Tahun 2003 dilaporkan kasus di Amerika Serikat akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Tahun 2017 terjadi KLB di Nigeria.

Kemudian bulan Mei 2019 dilaporkan seorang pria warga negara Nigeria menderita monkeypox saat mengikuti lokakarya di Singapura. Pasien dinyatakan positif terinfeksi monkeypox pada 8 Mei, dan telah menerima perawatan di bangsal isolasi National Center for Infectious Diseases (NCID).

“Bersama 23 orang yang kontak dekat dengan pasien, kini diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut,” kata Anung.

Anung menjelaskan, masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) monkeypox biasanya 6-16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Kemudian, ruam pada kulit muncul pada wajah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Monkeypox merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari. Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10% kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia muda lebih rentan terhadap virus ini. Monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. Selain itu, tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi untuk mengatasi infeksi virus ini. Pengobatan simptomatik dan suportif diberikan hanya untuk meringankan keluhan yang muncul.

Kabar baiknya, kata Anung, virus ini dapat dicegah. Misalnya dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun; Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi. Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar. Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit monkeypox agar segera memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan. Tidak lupa menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanan.



Sumber: BeritaSatu.com