Kebanyakan Wanita Tidak Sadar Terkena Pipi Chipmunk

Kebanyakan Wanita Tidak Sadar Terkena Pipi Chipmunk
Media gathering Jakarta Aesthetic Clinic (JAC) mengangkat tema 'Waspada Kebanyakan Suntik Filler, Menyebabkan Facial Overfilled Syndrome (FOS) atau Pipi Chipmunk' di Jakarta, Jumat (12/7/2019). Dengan menghadirkan dr Olivia Ong, aesthetic & anti-aging doctor sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic (JAC), dan Novriaty H. Sibuea (56th), Direktur Utama sebuah perusahaan sawit, seorang pasien yang sedang dalam perawatan terhadap gejala FOS pada wajahnya ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Jumat, 12 Juli 2019 | 16:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyuntikan filler yang instan memang memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan seseorang. Sayangnya, hal itu dapat menimbulkan efek ketagihan. Bahkan, kebablasan dalam mencari kesempurnaan sampai wajahnya mulai terlihat kepenuhan atau aneh, yang dikenal dengan sebutan Facial Overfilled Syndrome (FOS) atau pipi chipmunk (tupai).

Pendiri Jakarta Aesthetic Clinic (JAC), dr Olivia Ong, mengatakan kebanyakan pasien tidak menyadari perubahan pada wajah mereka karena FOS biasanya berlangsung perlahan-lahan sampai tahunan. Fenomena FOS terjadi karena pasien umumnya memiliki pandangan dua dimensi mengenai wajahnya sendiri seperti yang dilihatnya dalam cermin atau foto. Padahal, kenyataannya wajah adalah struktur empat dimensi dengan banyak lapisan. Dengan pandangan dua dimensi ini pasien berkeliling klinik estetika memenuhi keinginan mereka sendiri, mencari dokter yang mampu menghilangkan garis dan cekungan yang ada dengan filler.

"Mereka terus saja merasa kurang, tidak disadarinya bahwa wajah mulai melebar dan pipinya telah meninggi dengan tidak wajar. Pasien yang Iebih senior umumnya berpikir wajah FOS mereka yang tampak penuh dan turun adalah bagian dari tanda-tanda penuaan wajah yang normal," ungkap dr Olivia di sela media gathering JAC di Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Olivia menambahkan sebenarnya FOS bukan hanya terjadi di pipi ataupun bawah mata, pada wajah Asia FOS kerap terjadi di hidung (avatar nose), dagu (witch chin/ pharaoh’s chin), dahi (flowerhorn forehead) sampai bibir (duck lips/sausage lips). Pasien FOS dapat diselamatkan atau kondisinya dapat dikembalikan perlahan-lahan ke arah normal asal filler yang disuntikan sebelumnya berbahan dasar asam hialuronat. FOS dengan derajat tertentu butuh dipulihkan dengan cara operasi.

"Beruntung bagi mereka yang tidak perlu sampai menjalani operasi, selesai perawatan pembetulan wajah, pasien bisa Iangsung kembali beraktifitas Iagi,” ujar Olivia.

Direktur utama sebuah perusahaan sawit, Novrianty H Sibuea, seorang pasien yang sedang dalam perawatan terhadap gejala FOS pada wajahnya di JAC mengungkapkan, kepercayaan dirinya telah kembali sejak wajahnya berangsur menjadi Iebih natural. Kecemasannya terhadap penampilannya kala FOS telah hilang.

"Saya tidak perlu khawatir Iagi terhadap sudut-sudut pengambilan foto ataupun saat hendak tertawa lepas. Perasaan saya sudah terbebaskan, sekarang saya dapat melakukan apapun dengan maksimal," kata Novriaty.



Sumber: Investor Daily