Obat Kanker dan Hepatitis Masih Bergantung Impor

Obat Kanker dan Hepatitis Masih Bergantung Impor
Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberikan sambutan pada acara pembukaan PT Brightgene Biomedical Indonesia di Karawang Barat, Jawa Barat, Kamis 8 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Humas Kemkes )
Dina Manafe / FER Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selain bahan baku obat, beberapa jenis obat jadi dan alat kesehatan yang beredar di Indonesia masih bergantung pada impor. Terutama beberapa obat kanker dan hepatitis. Diharapkan industri farmasi dalam negeri mampu memproduksi obat-obatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek mengatakan, penyakit kanker dan hepatitis membutuhkan penanganan yang intensif. Sayangnya beberapa obat kanker dan hepatitis yang ada pada saat ini masih merupakan obat impor. Padahal kasus kedua penyakit tersebut cukup tinggi di Indonesia.

Mengutip data Riskesdas 2018, Menkes menyebutkan prevalensi penyakit kanker berdasarkan diagnosis dokter naik dari 1,4 permil di tahun 2013 menjadi 1,8 permil di tahun 2018. Demikian pula dengan prevalensi hepatitis berdasarkan diagnosis dokter juga naik dari 0,2 persen di tahun 2013 menjadi 0,4 persen di tahun 2018.

"Indonesia sangat membutuhkan industri farmasi yang dapat memproduksi obat kanker dan antihepatitis dan juga bahan baku obat kanker dan antihepatitis,” kata Menkes dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Kamis (8/8).

Menkes berharap industri farmasi dalam negeri meningkatan kontribusinya untuk memproduksi obatan-obatan yang sangat dibutuhkan masyarakat tapi masih mengandalkan impor. Salah satunya adalah pabrik PT Brightgene Biomedical Indonesia, di Karawang Barat, Jawa Barat. Menkes yang membuka secara resmi pabrik tersebut menyampaikan apresiasi kepada berkontribusi dalam upaya pemerintah mewujudkan kemandirian bahan baku obat.

"Saya berharap agar PT BrightGene Biomedical Indonesia dapat terus berinovasi untuk menghasilkan bahan baku obat lain yang dapat digunakan untuk produk kesehatan dengan tetap memperhatikan pemenuhan standar mutu dan juga berkiprah di pasar global,” ucap Menkes.

Menkes menambahkan, Indonesia patut berbangga karena investasi industri farmasi terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu 3 tahun setelah Instruksi Presiden Nomor 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 17/2017 tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Regulasi ini merupakan acuan bagi pemerintah dan sektor swasta dalam pengembangan industri khususnya industri bahan baku obat untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat.

Dalam kurun waktu yang sama, terdapat beberapa industri farmasi asing, seperti Belanda, Jerman, Korea Selatan, Tiongkok dan India yang bermitra dengan industri farmasi nasional memproduksi bahan baku maupun produk obat. Melalui kemitraan (joint-venture) diharapkan dapat terjadi transfer teknologi dan mengurangi ketergantungan impor. Hal ini membuktikan bahwa industri farmasi di Indonesia terus berkembang dan menjadi bidang usaha yang menarik.

Di Indonesia saat ini, menurut Menkes, sudah ada 10 industri bahan baku farmasi, baik bahan baku kimia, biosimilar dan natural, dan ditargetkan pada tahun 2021 akan berkontribusi terhadap penurunan impor bahan baku kurang lebih sebesar 15 persen.

Komisaris dari PT BrightGene, Johannes Setijono, mengatakan, sebagai salah satu perintis produksi bahan baku aktif obat di Indonesia, perusahaan ini memang dibangun untuk mengurangi impor bahan baku maupun obat jadi yang bahan bakunya belum tersedia.

Transfer teknologi yang akan dilakukan bertujuan meningkatkan kemampuan penelitian dan pengembangan di bidang industri farmasi. Ini tentunya berimplikasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang akan memperkuat kemandirian industri farmasi dalam negeri serta menurunkan pemakaian devisa impor bahan baku aktif obat dan obat jadi.

Kedepannya PT BrightGene Biomedical Indonesia akan menjadi pengembang dan produsen bahan baku aktif obat yang memiliki kualitas dan standar teknologi tinggi, memenuhi standar kualitas farmasi internasional sehingga siap untuk ekspor ke pasar-pasar negara ASEAN.



Sumber: Suara Pembaruan