Bunga Reullia, Cara Mudah Deteksi Boraks dan Formalin

Bunga Reullia, Cara Mudah Deteksi Boraks dan Formalin
Staf dan peneliti Departemen Kimia Kedokteran FKUI edukasi cara deteksi boraks dan formalin dalam makanan kepada masyarakat di Kecamatan Cipayung, Depok, Jawa Barat. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Humas FKUI )
Dina Manafe / FER Kamis, 5 September 2019 | 17:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti dari Departemen Kimia Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan cara mudah mendeteksi boraks dan formalin dalam makanan menggunakan ekstrak herbal, yaitu Bunga Ruellia (Ruellia tuberosa).

Tanaman bunga yang berasal dari Meksiko, Karibia dan Amerika Selatan ini memiliki penanda warna yang dapat mendeteksi kedua bahan berbahaya tersebut. Bunga Ruellia berwarna ungu dan berbentuk terompet. Banyak ditemukan di pinggir jalan, dan sangat mudah tumbuh di mana-mana.

Ketua Departemen Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ade Arsianti, mengatakan, bunga Ruellia memiliki kandungan pigmen antosianin. Zat antosianin ini yang memberikan warna ungu pada bunga Ruellia.

Prinsip utama dalam penemuan FKUI adalah memanfaatkan zat antosianin yang sensitif terhadap derajat keasaman (pH) lingkungan yang ditandai dengan perubahan warna.

"Pada prosedur pemeriksaan di laboratorium kimia, formalin dapat dideteksi dengan menggunakan uji Fuchsin, Tollens dan Fehling. Sedangkan untuk deteksi boraks melalui uji nyala dengan asam sulfat,” kata Ade dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Namun, pemeriksaan ini memerlukan bahan kimia dan peralatan standar laboratorium. Ini tentunya sangat menyulitkan bagi masyarakat untuk menguji apakah ada kandungan boraks dan formalin dalam makanannya.

Kini, para staf dan peneliti dari Departemen Kimia Kedokteran FKUI menemukan cara mudah hanya dengan menggunakan peralatan sederhana di rumah. Cukup siapkan ulekan, pipet tetes, wadah berongga kecil seperti tempat cat air (palet), sampel makanan, air putih dan beberapa helai bunga Ruellia.

Sampel makanan dihancurkan sampai halus dan ditambahkan sedikit air. Setiap sampel makanan ditaruh di rongga palet yang berbeda-beda. Bisa diberikan label nama untuk menandai makanan apa saja yang diujikan untuk memudahkan identifikasi makanan. Lakukan hal yang sama pada bunga Ruellia, dihaluskan dan diberikan sedikit air.

Setelah semua siap, ambil beberapa tetes cairan ekstrak bunga Ruellia dan kemudian teteskan pada masing-masing sampel makanan. Amati perubahan warna pada sampel makanan. Apabila makanan positif mengandung boraks maka warnanya akan berubah menjadi hijau karena pH boraks sekitar 9-11. Apabila makanan positif mengandung formalin, maka warnanya akan berubah menjadi coklat-kemerahan karena pH formalin sekitar 5-6.

Lalu bagaimana dengan makanan yang tidak mengandung keduanya? Makanan yang bebas formalin dan boraks akan berwarna ungu atau tidak mengalami perubahan warna seperti aslinya warna ekstrak yang ditambahkan ke makanan pada awalnya. Perubahan warna yang terjadi sangat singkat hanya beberapa menit saja sudah bisa terlihat hasilnya.

Dari praktek ini hasilnya sangat mengejutkan. Beberapa makanan yang di uji positif mengandung formalin dan boraks. Tidak lupa dibuat pula kontrol uji dengan menggunakan boraks dan formalin sebagai acuan warna. Perubahan warna semua sampel semua diamati dan dicatat.

"Kini, ibu bisa melakukan tes terhadap jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak. Mudah dan cepat hanya dalam hitungan menit. Semoga para orang tua dapat melindungi anak dari bahaya boraks dan formalin,” kata Ade.

Melalui program 'Aksi UI untuk Negeri' cara mudah ini disosialisasikan kepada masyarakat di Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, baru-baru ini. Program ini sukses berhasil mengedukasi puluhan peserta yang terdiri dari ibu-ibu kader PKK setempat dan pedagang jajanan sekolah.



Sumber: Suara Pembaruan