Nuklir Bisa Jadi Solusi Pengobatan Murah

Nuklir Bisa Jadi Solusi Pengobatan Murah
Pameran nuklir bertema ‘Encouraging Application of Nucelar Science, Technology, Innovation and Human Resources Development Towards Prosperous Indonesia’ diselenggarakan pada 6 - 7 September di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Pameran ini bertujuan mengenalkan aplikasi teknologi nuklir di bidang kesehatan ke masyarakat. ( Foto: Ist )
Fuska Sani Evani / FMB Sabtu, 7 September 2019 | 13:34 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Masyarakat masih anti terhadap pemanfaatan nuklir di bidang kesehatan. Padahal, kedokteran nuklir menjadi salah satu opsi bagi pemerintah untuk menyediakan pengobatan murah berkualitas bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) Eko Purnomo dalam keterangan pers di ajang Indonesia Nuclear Expo (NEXPO) di Royal Ambarrukmo, Jumat (6/9/2019).

Eko Purnomo bahkan menyebut saat ini masyarakat masih rancu menangkap makna kedokteran nuklir. Tak sedikit yang masih menilai disiplin kedokteran tersebut merupakan cabang ilmu kesehatan yang digunakan untuk mengobati orang terpapar radiasi nuklir atau korban kecelakaan nuklir. “Kinerjanya meliputi diagnosa dan pengobatan berbagai jenis penyakit termasuk kanker dan jantung, bukan menangani kecelakaan nuklir,” ungkapnya.

Penggunaan nuklir di bidang kesehatan, lanjut Eko, memberi banyak keuntungan, terutama dalam penanganan penyakit kronis seperti kanker dibanding metode kemoterapi yang berbiaya tinggi.

Eko mencontohkan terapi kanker tiroid melalui metode kemoterapi menghabiskan dana hingga ratusan juta. Namun dengan teknologi nuklir, penanganan kanker tiroid dengan operasi, hanya menghabiskan dana Rp 9 juta.

Bahkan, penanganan kanker dengan teknologi nuklir, yakni ablasi atau suatu metode pengobatan dengan terapi radioaktif, untuk menyusutkan bahkan menghilangkan kelenjar tiroid, juga bisa diterapkan dalam layanan BPJS. Namun sayangnya, sarana prasana penyediaan teknologi kesehatan nuklir di rumah sakit juga terkendala.

Pakar Kedokteran Nuklir Johan Mansyur menambahkan sejak akhir tahun 60-an kedokteran nuklir telah dikembangkan di Indonesia, dan kedokteran nuklir ini menjadi pilihan yang aman, murah dan membuat pasien pengidap kanker nyaman. Dijelaskan, ablasi dalam pengobatan kedokteran nuklir tidak dilakukan dengan cara suntik, seperti halnya kemoterapi, tetapi obat telan.

“Ke depan kami sedang kembangkan untuk pengobatan kanker kelenjar getah bening, prostat dan mungkin nanti payudara dan lainnya,” ungkap Johan.

Eko Purnomo kembali menambahkan, kedokteran nuklir menjadi salah satu opsi bagi pemerintah untuk menyediakan pengobatan murah berkualitas bagi masyarakat. Ia memberikan contoh perbandingan harga pengobatan kanker dengan teknologi nuklir dibandingkan kemoterapi yang mencapai 10 kali lebih murah.

Meski begitu, menurut Dokter Nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Husein Kartasasmita saat ini Indonesia masih membutuhkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kedokteran nuklir. Tercatat baru sekitar 50-an saja dokter spesialis kedokteran nuklir yang ada di Indonesia dan terpusat di kota-kota besar.

Di seluruh Indonesia baru ada beberapa fasilitas kesehatan yang menerapkan kedokteran nuklir yakni RS Adam Malik Medan, RSPAD Gatot Subroto, RSCM, RS Darmais, RS Pusat Pertamina, RS Jantung Harapan Kita, RS Siloam, RS Gading Pluit, RS Abdi Waluyo), RS Hasan Sadikin Bandung, Cancer Center Kopo Santosa, RSUP Dr Sardjito, RS Karyadi, RS Surabaya dan RS Samarinda, RS Bali Mandara dan RS Manado Kandouw.

“Dalam waktu dekat rumah sakit di DIY, Solo, Surabaya, Samarinda, Denpasar, Padang, Aceh, dan Manado juga akan menyediakan sarana pengobatan berbasis nuklir. Kita harap dengan semakin banyak rumah sakit ini akan mengikis stigma buruk tentang nuklir,” jelasnya.

Aplikasi Teknologi Nuklir
Mengusung tema Encouraging Application of Nucelar Science, Technology, Innovation and Human Resources Development Towards Prosperous Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) menggelar Indonesia Nuclear Expo (NEXPO) 2019 di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, yang bertujuan mengenalkan aplikasi teknologi nuklir kepada masyarakat.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat yang mengetahui manfaat teknologi nuklir untuk kesejahteraan manusia. "Harapannya banyak masyarakat mengetahui aplikasi iptek nuklir di berbagai bidang, khusunya aplikasi di bidang non energi," ujar Anhar.

Selain itu, penyelenggaraan Indonesia NEXPO 2019 ini, diharapkan BATAN mampu meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan di berbagai bidang. Keterlibatan ini tercermin dari rangkaian kegiatan yang melibatkan para pemangku kepentingan yang mengikuti Indonesia NEXPO 2019, antara lain aplikasi berkas neutron, radiografi, radiasi untuk polimer, akselerator dan aplikasinya termasuk aplikasi mesin berkas elektron (MBE) untuk mendukung pewarnaan batik dengan bahan alam.

Penanggung jawab kegiatan, Edy Giri Rachman Putra mengatakan, Indonesia NEXPO 2019 merupakan kegiatan yang mengenalkan hasil litbang unggulan BATAN kepada masyarakat.

Menurutnya, teknologi nuklir saat ini telah dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, diantaranya pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan. Khususnya di bidang kedokteran, aplikasi teknologi nuklir dapat dimanfaaatkan untuk pemeriksaaan diagnostik dan terapi yang memiliki keunggulan lebih dibanding pengobatan konvensional.

"Kegiatan ini membahas berbagai aplikasi teknologi nuklir utamanya adalah kedokteran nuklir, peningkatan kualitas SDM nuklir yang profesional, dan menguatkan jalinan kerja sama antara Persatuan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI), BATAN dan (stakeholder) pemangku kepentingan lainnya dalam membangun industri nuklir di Indonesia," tambahnya.

Selain itu, di bidang kimia, tambah Edy Giri, aplikasi iptek nuklir digunakan untuk melakukan analisis unsur, titrasi radiometri, nuclear dating serta analisis radioaktivitas lingkungan. Aplikasi di bidang kimia ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Indonesia NEXPO 2019 menurut Edy Giri menjadi forum yang menarik karena mempertemukan para pakar di bidang nuklir, kedokteran, pertanian, profesional di bidang nuklir serta masyarakat umum dan khususnya generasi muda (komunitas muda nuklir Indonesia). 



Sumber: Suara Pembaruan