Permintaan Produk Organik Meningkat 54%

Permintaan Produk Organik Meningkat 54%
Petugas saat memeriksa budidaya sayuran organik di Pradipto Farm di kampung Cilegong desa Mekarwangi kecamatan Cisauk Tangerang, Banten, Sabtu 1 Desember 2018. ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan / Uthan )
Indah Handayani / FER Rabu, 11 September 2019 | 15:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2016 mencatat jumlah permintaan konsumen terhadap produk organik meningkat 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih detail lagi, data lain menunjukan 18 persen pelanggan di Asia Tenggara bersedia membayar lebih untuk membeli produk organik.

Baca Juga: Gaya Hidup Organik di Indonesia Makin Meningkat

Managing Director PT Arla Indofood, Ciptadi Sukono, mengatakan, melihat perkembangan industri produk organik di Indonesia dan meningkatnya permintaan konsumen akan produk organik, menandakan gaya hidup organik telah berhasil diadaptasi masyarakat dan tingkat kesadaran hidup sehat semakin baik.

"Saat ini, kita berada di era generasi organik 3.0. Tidak hanya di tingkat generasi usia 50-an namun anak muda atau milenial pun mulai kritis dalam mengonsumsi produk makan organik," ungkap Ciptadi Sukono dalam keterangan persnya, Rabu (11/9/2019).

Guru Besar Food Science and Technology Universitas Bakrie, David Wahyudi menambahkan, selain isu lingkungan dan kebaikan hewan, alasan konsumen memilih produk organik karena keinginan yang kuat untuk hidup lebih sehat.

"Pasalnya, produk organik menawarkan kelebihan dibandingkan produk non-organik, yaitu bebas pestisida dan bebas GMO," jelas David Wahyudi.

Baca Juga: Rahasia Sehat Menurunkan Berat Badan

Sementara itu, konsultan makanan dan peternakan dari kedutaan Denmark, Erika T Luquin, mengatakan, Denmark termasuk negara pertama yang membuat legislasi tentang produk organik. Dibutuhkan waktu 30 tahun dari awal membangun kesadaran tentang produk organik. 

"Saat ini, produk-produk organik sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Denmark. Kuncinya adalah terus berinovasi," kata Erika.

Melalui Organic Action Plan, Denmark mendukung riset, menyediakan program bagi peternak, dan membuat lebih banyak dapur umum yang menyiapkan makanan organik. "Kini di Denmark semua produk organik sudah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah dan bisa didapatkan secara gratis," tandas Erika.

Spesialis Gizi Klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Fiastuti Witjaksono, menjelaskan, meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat di masyarakat, salah satunya dengan mengonsumsi pangan organik, harus dimanfaatkan dengan baik.

"Selama ini konsumen makanan organik kebanyakan ada pada penderita kanker, atau anak berkebutuhan khusus. Seharusnya makanan organik dikonsumsi seluruh lapisan masyarakat untuk tindakan preventif. Makan makanan sehat menjadi investasi agar terhindar dari berbagai penyakit kronis,” jelas Fiastuti.



Sumber: Investor Daily