Dibandingkan Zaman Askes, Harga Obat Era BPJS Turun Drastis

Dibandingkan Zaman Askes, Harga Obat Era BPJS Turun Drastis
Ilustrasi obat-obatan (ist)
Dina Manafe / IDS Rabu, 6 November 2019 | 13:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Engko Sosialine Magdalene mengatakan, harga obat di era JKN-KIS sudah turun lebih dari 100% dibanding masa Askes dulu. Salah satu komponen yang membuat harga obat itu mahal adalah karena biaya promosinya yang tinggi.

Masalah harga ini bisa dikendalikan lewat kebijakan formularium nasional (fornas) dan katalog elektronik (e-catalog). Obat-obat yang dibutuhkan oleh pasien dan wajib tersedia di fasilitas kesehatan (faskes) ada di dalam fornas dan e-catalog. Pemakaian obat generik di fasilitas kesehatan sudah sekitar 70% lebih.

Namun, lanjut Engko, ada beberapa jenis obat yang harganya memang masih sangat mahal, seperti untuk pengobatan penyakit kanker dan jantung. Obat-obat seperti Bevacizumab dan Cetuximab untuk pengobatan kanker kolorektal (usus besar) metastasis atau stadium lanjut masih sangat mahal. Untuk program asuransi kesehatan sosial seperti JKN-KIS, obat-obatan seperti dianggap tidak cost effective atau hemat biaya. Beberapa jurnal dunia menyebutkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, obat-obatan ini tidak masuk dalam asuransi kesehatan.

“Dikatakan cost effective kalau harga obat ini turun sampai sekitar 97%. Jadi misalnya kalau harganya sekarang 100 perak, maka harus turun sampai 30 perak. Itu baru cost effective,” kata Engko saat ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (5/11/2019) malam.

Menurutnya, sejumlah obat masih mahal di Indonesia karena beberapa faktor, seperti masih impor dari luar negeri alias tidak diproduksi dalam negeri dan tidak ada kompetitor atau pesaingnya. Karena itu salah satu strategi pemerintah saat ini adalah mempercepat obat generik masuk pasar. Dengan masuk pasar, obat generik akan memiliki pesaing, sehingga secara hukum pasar, harga obat lain juga ikut turun.

Harga obat mahal juga dikarenakan 95% bahan baku obat masih bergantung pada impor khususnya negara Tiongkok dan India. Industri bahan baku di Indonesia sebetulnya terus berkembang dan kini sudah terdapat 11 perusahaan. Namun, bahan baku obat belum mampu diproduksi sendiri di dalam negeri. Kemkes menargetkan 2021 nanti, ketergantungan pada bahan baku impor ini menurun sebesar 15%, sehingga tersisa sekitar 80%.

Terdapat sebanyak 14 jenis obat yang bahan bakunya akan diproduksi sendiri oleh Indonesia, seperti sefalosporin (kelompok antibiotik membunuh bakteri) dan turunannya, atorvastatin dan simvastatin (menurunkan kolesterol), clopidogrel (untuk jantung) entecavir (hepatitis B), efavirenz (antiretroviral untuk HIV/AIDS, erythropoetin atau EPO (mengobati anemia), insulin, probiotik, ekstrak bahan alam, sel punca protein, fraksionasi darah, vaksin dan golongan beta laktam buat mengatasi infeksi bakteri.



Sumber: Suara Pembaruan