Hati-hati, Kacamata Ion Belum Terbukti Medis
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Hati-hati, Kacamata Ion Belum Terbukti Medis

Senin, 18 November 2019 | 22:24 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Jakarta, Beritasatu.com- Kesehatan mata kerap menjadi isu penting saat usia bertambah. Saat upaya pengobatan mahal dan menyulitkan, masyarakat pun tergiur solusi instan pengobatan mata seperti fenomena kacamata ion. Sementara klaim kesembuhan dari perangkat ini tidak dapat dibuktikan secara medis.

“Penyakit mata itu penyebabnya macam-macam. Tapi ada sebab organiknya. Secara logika, kacamata ion tidak akan mampu mengubah anatomi, itu struktural. Jadi tidak ada laporan ilmiahnya yang kuat. Kelainan anatomi itu harus dikoreksi lensa atau dibedah seperti katarak. Meskipun dengan gelombang elektromagnetik, tidak akan membantu penyembuhan,” papar Dokter Spesialis Mata Gitalisa Andayani saat media gathering HUT 90 Tahun Optik Tunggal di Jakarta, Senin (18/11).

Gita menjelaskan, pada kasus penyakit glaukoma, kacamata ion mengklaim penyembuhan dengan cara membuat aliran darah lebih baik. Tapi sesungguhnya, glaukoma disebabkan saluran pembuangan mata mampet. Untuk pengidap diabetes, walaupun dibantu kacamata ion, jika kadar gula tinggi tidak diobati, penyakit tu akan tetap tinggal.

“Tapi saya berusaha objektif dalam memandang suatu produk. Mungkin saja kacamata itu mengurangi Ultra Violet. Tapi itu pun belum dibuktikan. Atau mungkin juga produk itu bisa menapis cahaya-cahaya, tapi levelnya tidak signifikan. Semua itu harus dibuktikan dengan penelitian,” kata Gita yang juga dosen FKUI ini.

Saat ini, banyak bermunculan situs internet dan link market place yang menjual kacamata ion secara daring. Secara percaya diri, penjual mengklaim kacamata ion sebagai alat kesehatan mata yang mampu mengeluarkan gelombang ion dan sinar infra merah gelombang jauh yang bermanfaat bagi kesehatan mata, apalagi jika dipakai selama 8 jam sehari.

Kondisi medis yang diklaim dapat diobati dengan kacamata ion adalah kelainan refraksi (mata minus atau plus), silinder, mata kering, buta warna, diabetik retinopati, glaukoma, hingga katarak.

Bantahan serupa juga dikatakan, Alexander F. Kurniawan, chairman of Optik Tunggal juga menyayangkan terjadinya fenomena kacamata ion. Dia mengajak masyarakat lebih bijak lagi dalam menghadapi penyakit mata.

Alex mengatakan jika terjadi katarak, glaukoma, diabetik retinopati hanya bisa diobati melalui tindakan medis dan obat-obatan. Namun kelainan mata seperti minus atau plus, harus memakai kacamata, soft lens atau ortho-K maupun tindakan lasik.

“Tidak ada satu fakta pun yang bisa menegaskan kacamata ion ini bisa menyembuhkan kondisi mata minus, plus, atau silinder. Saya bisa katakan, tidak ada efek sama sekali dari kacamata ion tersebut. Jadi sebelum memperbaiki kelainan refleksi mata, seseorang perlu diperiksa. Optik bisa menjadi fasilitas kesehatan pertama yang bisa dirujuk gratis,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Anda Tetap Bisa Ngopi dan Menjaga Kesehatan dengan Cara Ini

Anda bisa menjaga kesehatan tubuh dengan minum kopi

KESEHATAN | 18 November 2019

Kemkes Pertimbangkan Bantuan Vaksin dari Unicef

Kementerian Kesehatan masih mencari cara untuk mengurangi angka kematian balita di Indonesia yang masih tinggi yakni mencapai 25.000-30.000 per tahun.

KESEHATAN | 13 November 2019

Swasta Dapat Percepat Pembiayaan dan Pencapaian Kesehatan Nasional

Pihak swasta diharapkan dapat mempercepat pembiayaan dan pencapaian cakupan kesehatan semesta di Indonesia.

KESEHATAN | 17 November 2019

First Media Berikan Ambulans untuk RS St.Antonius Jopu, Ende, NTT

Direktur RS St.Antonius Jopu, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dr.Maria Goretti Aran dan Mgr Vincentius Sensi Potokota, Pr Uskup Agung Ende sangat gembira. Minggu sore (17/11/2019), keduanya menerima bantuan satu unit mobil ambulans lengkap dengan tandu, dari PT.Link Net Tbk dengan brand First Media. Bantuan diberikan sebagai bagian program CSR ‘First Happiness #ShareTogetherness’.

KESEHATAN | 17 November 2019

Aplikasi Jovee Bantu Memilih Suplemen Kesehatan untuk Personal

Kebutuhan nutrisi setiap orang bersifat personal. Dengan kata lain tak ada yang sama. Hal ini tergantung pada usia, jenis kelamin, kondisi tubuh, dan aktivitas sehari-hari. Dengan menggunakan data science, aplikasi Jovee dapat mengetahui dan menghitung kebutuhan nutrisi bagi setiap orang.

KESEHATAN | 15 November 2019

Usia Penderita Diabetes Makin Muda, Deteksi Dini Diperluas ke Sekolah dan Kampus

Dari 2,5 juta penduduk yang sudah dideteksi dini dan memiliki potensi diabetes, 30% di antaranya disebabkan obesitas termasuk obesitas sentral atau perut buncit

KESEHATAN | 15 November 2019

Investigasi Pelayanan BPJS, Presiden Sidak RSUD Abdul Moeloek Lampung

Di RSUD itu, Kepala Negara mengunjungi instalasi rawat jalan dan bertanya langsung kepada sejumlah pasien.

KESEHATAN | 15 November 2019

The Habibie Center Sampaikan 7 Rekomendasi Penanggulangan Stunting

Tingkat prevalensi stunting sebesar 30,8 persen Indonesia (Riskesdas 2018) menunjukkan perlunya lebih banyak upaya efektif yang dilakukan.

KESEHATAN | 14 November 2019

Tunjuk Good Doctor, Kemkes Bangun Ekosistem Digital Kesehatan

Melalui kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung SehatPedia, aplikasi yang dirintis oleh Kemkes.

KESEHATAN | 14 November 2019

DJSN Pastikan Orang Miskin Tetap Ditanggung Pemerintah

DJSN memastikan kenaikan iuran JKN-KIS tidak akan memberatkan orang miskin.

KESEHATAN | 13 November 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS