Jangan Anggap Remeh Masalah Alergi

Jangan Anggap Remeh Masalah Alergi
Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) (kiri)dan Cristophe Lay, PhD (kanan) dalam Syneo Symposium yang diselenggarakan Minggu (12/01) memaparkan pentingnya peran sinbiotik dalam mendukung mikrobiota saluran cerna yang baik agar dapat mencegah kondisi alergi sejak dini. (Foto: istimewa)
Iman Rahman Cahyadi / CAH Minggu, 12 Januari 2020 | 19:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kasus alergi pada anak maupun dewasa cukup sering ditemukan di berbagai belahan dunia. Data World Allergy Organization tahun 2011 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 30 persen sampai 40 persen populasi di dunia yang mengalami kondisi alergi. Pencegahan alergi sejak dini perlu menjadi perhatian orang tua karena dapat memengaruhi asupan nutrisi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan hingga berdampak pada tumbuh kembang dan kualitas hidup anak di masa depan.

“Dampak alergi tidak boleh dianggap remeh karena tidak hanya berhenti pada gejala yang dialami, tetapi juga berpengaruh pada kualitas hidup anak dan akan menjadi beban orang tua dalam hal biaya penangananya. Dibutuhkan tindakan pencegahan mulai dari identifikasi faktor resiko seperti riwayat keluarga, hingga pemberian nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik. Hal ini karena nyatanya, semua orang bisa mengalami alergi, namun dengan tingkat risiko yang berbeda-beda,” tutur Prof. Dr. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) dalam Syneo Symposium di Jakarta, Minggu (12/1/2020).

Selain paparan alergi seperti pada kulit, polusi, atau lingkungan mikrobiota yang buruk di saluran cerna, seorang anak juga dapat mengalami kondisi alergi dari faktor keturunan. “Bahkan, jika kedua orang tua mengalami alergi, resiko anak mengalami alergi dapat meningkatkan hingga 80 persen. Anak tanpa riwayat alergi di keluarga sekalipun masih berisiko menderita alergi sebesar 5-15%,” tambah Prof. Zakiudin.

Selain dampak kesehatan, tingginya beban biaya yang diakibatkan oleh kondisi alergi semakin menekankan pentingnya tindakan pencegahan. Secara umum, terdapat 4 (empat) sumber beban biaya yang dialami oleh pasien dan keluarga dalam kondisi alergi, yaitu biaya pengobatan, biaya tambahan terkait nutrisi pengganti, penghindaran alergen, biaya konsultasi, hingga biaya imunoterapi.

Syneo Symposium juga menghadirkan seorang peneliti dari National University of Singapore Christophe Lay, PhD. yang menyajikan pembahasan terkini mengenai strategi nutrisi untuk mencegah kondisi alergi. Christophe menjelaskan bahwa keseimbangan mikrobiota saluran cerna berperan penting mendukung sistem imun yang baik dan melindungi anak dari resiko alergi.

Uniknya, mikrobiota saluran cerna merupakan kondisi yang diturunkan dari ibu kepada anaknya secara turun temurun. Keseimbangan mikrobiota saluran cerna juga dapat terganggu akibat faktor lingkungan seperti metode kelahiran, asupan nutrisi, hingga penggunaan antibiotik.

“Nutrisi yang dikonsumsi anak, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, berperan penting dalam mendukung keseimbangan mikrobiota di saluran cerna. Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa syneo atau sinbiotik, kombinasi prebiotik scGOS | lcFOS 9:1 dan probiotik B.breve M16V secara klinis terbukti mendukung perbaikan kolonisasi Bifidobakterium serta kondisi fisiologis saluran cerna pada bayi dengan kelahiran sesar hingga menurunkan kejadian eczema – yaitu manifestasi gejala alergi yang umum terjadi di awal kehidupan,” jelas Christophe yang juga merupakan peneliti di Danone Nutricia Research, Singapura.

Diselenggarakan selama satu hari, Syneo Symposium membahas strategi nutrisi yang dibutuhkan untuk mencegah kasus alergi pada anak.

“Syneo Symposium membahas situasi terkini dari kondisi alergi di dunia, faktor risiko, strategi nutrisi, hingga dampak terhadap tumbuh kembang dan kualitas hidup anak. Hal ini penting diketahui oleh para dokter anak dan tenaga kesehatan lainnya untuk meminimalisir potensi anak mengalami kondisi alergi dan dampaknya di kemudian hari,” ujar Prof. Dr. dr. Rini Sekartini Sp. A (K) Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang DKI Jakarta sebagai penyelenggara acara.



Sumber: Suara Pembaruan