Konsumsi Gizi Mikro Rendah Jadi Tantangan Penurunan Stunting

Konsumsi Gizi Mikro Rendah Jadi Tantangan Penurunan Stunting
Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita di Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/8/2019). Sebagai upaya peningkatan investasi di bidang sumber daya manusia (SDM), pemerintah mengoptimalkan kegiatan Posyandu dalam upaya penurunan jumlah penduduk stunting atau gagal tumbuh, sekaligus mendukung pencapaian pembangunan kesehatan ibu dan anak terutama penurunan angka kematian bayi, anak balita serta angka kelahiran. (Foto: ANTARA FOTO)
Dina Manafe / FER Selasa, 14 Januari 2020 | 22:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kekurangan zat gizi mikro, seperti vitamin A, zat besi, asam folat, dan zinc berhubungan dengan tingginya jumlah balita pendek atau stunting di Indonesia. Persoalannya, konsumsi suplementasi zat gizi mikro ini masih rendah.

Kulonprogo Berhasil Memproduksi Padi Penangkal Stunting

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) menjadikan program suplementasi zat gizi mikro (mikro nutrient) untuk intervensi masalah stunting melalui pemberian tablet tambah darah (TTD), kapsul vitamin A, dan tablet zinc. Sayangnya, konsumsi zat gizi mikro ini masih sangat rendah. Rendahnya kepatuhan konsumsi zat gizi mikro, menjadi tantangan dalam penurunan angka stunting.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemkes, dr Kirana Pritasari mengatakan, munculnya permasalahan gizi di Indonesia termasuk stunting dikarenakan banyak faktor, di antaranya asupan makanan yang kurang.

Survei Total tahun 2014 menunjukkan, ada 52,2 persen ibu hamil yang asupan energinya kurang dari 70 persen, dan 80 persen ibu hamil yang asupan proteinnya kurang dari cukup. Kondisi ini bukan hanya terjadi pada ibu hamil di perdesaan, tapi juga perkotaan. Ibu hamil dengan asupan energi dan protein kurang berisiko anemia, dan berpotensi melahirkan anak stunting.

Pernikahan Dini Pengaruhi Kekerdilan Pada Anak

"Artinya ada 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia yang menderita anemia dan memiliki asupan energi maupun protein di bawah kebutuhan seharusnya. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan banyak ibu hamil anemia, dan melahirkan anak stunting," kata Kirana pada acara diseminasi hasil program Mitra kerja sama pemerintah Indonesia dengan Nutrition International di Provinsi NTT dan Jawa Timur, di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Selain masalah anemia, lanjut Kirana, asupan vitamin A dan zinc untuk pengobatan diare juga rendah. Padahal, diare merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi balita, di mana penurunan angka kematian ini menjadi salah satu prioritas nasional. Di 2013 angka balita dengan diare sebesar 2,4 persen, tetapi kemudian meningkat menjadi 11 persen di 2018.

Menurut Kirana, program pemberian tablet tambah darah (TTD), vitamin A, dan zinc bukanlah program baru di Indonesia. Sejak 20 tahun silam program ini sudah menjadi program nasional, tetapi implementasinya belum sesuai harapan. "Tingkat kepatuhan baik petugas kesehatan untuk memberikan obat atau tablet zat gizi mikro ini masih kurang. Demikian pula kepatuhan masyarakat untuk mengonsumsinya sangat rendah," jelasnya.

Menko PMK: Cegah Stunting Harus dari Akar Permasalahan

Dikatakan Kirana, seharusnya ketersediaan TTD, vitamin A dan zinc ini bukan lagi jadi masalah. Sebab, melalui Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Ditjen Kefarmasian Kemkes, pemberian zat gizi mikro ini sudah jadi program nasional.

"Pemberian zat gizi mikro ini merupakan intervensi spesifik yang jadi tanggung jawab sektor kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia," tegasnya.

Kirana menjelaskan mengapa penting bagi remaja, ibu hamil dan balita untuk mengonsumsi zat gizi mikro. Pada ibu hamil, misalnya, kebutuhan energi dan protein lebih besar dari biasanya. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat gizi tersebut, misalnya dari sayuran. Tetapi dalam jumlah yang banyak sehingga lebih sulit untuk memenuhinya.

Kader Posyandu Dinilai Bisa Turunkan Stunting

Karena itulah, lanjut Kirana, kebutuhan itu dikemas dalam bentuk tablet/suplementasi, sehingga sekali minum sudah bisa terpenuhi asupan zat gizi mikro baik untuk ibu hamil maupun bayinya. Dalam satu tablet tambah darah mengandung zat besi, vitamin B6, dan asam folat. Ini sangat berguna untuk kesehatan ibu hamil dan janin. Untuk remaja putri yang adalah calon ibu, mengonsumsi TTD mencegah mereka menderita anemia.

"Vitamin B mendorong pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf janin, dan akan mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah dan risiko stunting maupun kecatatan,” kata Kirana.

Persoalannya, tingkat kepatuhan petugas dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi masih jadi masalah. Suplementasi tambah darah sudah dilakukan sejak 1990 tetapi data Riskesdas 2018 menunjukkkan, hanya ada 1,4 persen remaja putri yang patuh mengonsumsi TTD sesuai standar 52 tablet. Sedangkan pada ibu hamil, baru 38,1 persen yang patuh mengonsumsi TTD sebanyak 90 tablet.

Di tahun 2019, angka stunting menurut Kemkes sebesar 27,6 persen. Ada penurunan dari 30,8 persen di 2018, tetapi ini masih jadi masalah kesehatan masyarakat karena menurut standar WHO harus di bawah 20 persen.



Sumber: Suara Pembaruan