Angka Kelahiran Naik Buat BKKBN Galau

Angka Kelahiran Naik Buat BKKBN Galau
Sekretaris Utama BKKBN, Nofrijal. ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe )
Dina Manafe / FER Selasa, 11 Februari 2020 | 23:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) masih dihadapkan masalah klasik, yaitu angka kelahiran perempuan usia subur yang belum terkendali sesuai harapan. Sempat turun, kini BKKBN galau karena total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total meningkat kembali.

Hal ini disampaikan Sekretaris Utama BKKBN, Nofrijal, usai acara pembukaan rakernas program Banggakencana di Kantor Pusat BKKBN, Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Hasto Berharap Milenial Dukung Rebranding BKKBN

Menurut Nofrijal, dalam satu dua tahun ini capaian parameter kependudukan mulai jalan di tempat. Padahal sebelumnya sempat turun. Perempuan usia subur yang memiliki anak atau TFR misalnya, di 2017 angkanya masih 2,4 lalu turun beberapa poin di 2018 menjadi 2,38. Tetapi sekarang angka ini kembali naik menjadi 2,45, yang menandakan rata-rata perempuan usia subur di Indonesia memiliki anak lebih dari 2 orang.

"Ini jadi kegalauan BKKBN. Jangan sampai keadaan di 2001 sampai 2017 (capaian program KB) yang tidak bergerak kembali terjadi,” kata Nofrijal.

BKKBN sendiri menargetkan TFR turun di angka 2,1 yang menandakan penduduk tumbuh seimbang. Menurut Nofrijal, angka kelahiran yang tidak terkendali akan berdampak langsung terhadap masalah lainnya, seperti angka kematian ibu tinggi, balita kerdil (stunting), kemiskinan, kualitas sumber daya manusia Indonesia hingga daya saing yang rendah.

Kepala BKKN Sebut NTT Sulit Meraih Bonus Demografi

Menurut Nofrijal, kenaikkan TFR ini kecil atau tidak signifikan. Artinya 2,38 dan 2,45 sama-sama menunjukkan rata-rata perempuan memiliki anak dua atau tiga. Tetapi dalam konteks capaian indikator kependudukan dan KB ini sangat berarti karena menunjukkan seberapa berhasilnya program yang sudah dikerjakan selama ini.

Salah satu upaya yang dilakukan BKKBN untuk menurunkan TFR adalah melakukan rebranding atau mengubah citra program BKKBN mengikuti kebutuhan dan pola pikir generasi milenial. Karena TFR juga dipengaruhi oleh perkawinan dini atau usia anak.

"Perkawinan usia anak harus kita atasi melalui rebranding ini. Anak muda yang jumlahnya sekitar 70 juta sampai 80 juta ini harus diperkenalkan dengan pendekatan baru, terutama pendekatan dengan pembangunan keluarga,” kata Nofrijal.



Sumber: Suara Pembaruan