"Jakarta Memanggil": Senjata Dinkes untuk Melawan HIV

Kepala Dinas Kesehatan Widyastuti di peluncuran program Jakarta Memanggil di Gedung RRI, Jakarta, Selasa 11 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu.com / Jayanty Nada Shofa )
Jayanty Nada Shofa / JNS Rabu, 12 Februari 2020 | 14:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Angka Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang tinggi di Jakarta kian menyita perhatian pemerintah.

Sebab, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan adanya 109.676 ODHA namun hanya 65.606 penderita yang terdeteksi. Jakarta pun disebut sebagai empat besar provinsi dengan jumlah ODHA tertinggi bersama Papua, Bali, dan Jawa Timur.

Dengan angka ODHA yang tinggi, Jakarta turut andil dalam inisiatif global Fast Track yang bertujuan untuk membebaskan kota-kota besar di dunia dari HIV-AIDS di tahun 2030. Adapun inisiatif ini dikenal dengan tujuan 90-90-90 (90 persen deteksi ODHA, 90 persen ODHA dalam tahap pengobatan, 90 persen supresi viral load).

Guna mempercepat pencapaian Fast Track, Pemprov DKI Jakarta bersama USAID dan FHI 360 meluncurkan program 'Jakarta Memanggil' yang mengajak para petugas kesehatan untuk menanggulangi HIV-AIDS.

Diikuti oleh 42 puskesmas dan 4 klinik mitra khususnya unit layanan tes HIV-AIDS dan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan), program ini dikemas secara menarik yakni melalui gamifikasi.

Layaknya sebuah permainan, semakin banyak program aksi-aksi penanggulangan HIV/AIDS, semakin tinggi level yang diraih dan insentif yang diberikan. Dengan total lima level, program ini berlangsung hingga bulan April mendatang. Seterusnya hingga September 2020, program ini akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan.

"Mengatasi HIV/AIDS khususnya mempersempit angka ODHA dan pengobatan tidak dapat dilakukan tanpa adanya kontribusi yang proaktif. Dengan gamifikasi yang dikemas menarik, para petugas kesehatan akan termotivasi untuk mencapai tujuan Jakarta bebas HIV/AIDS," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Widyastuti pada peluncuran Jakarta Memanggil di Gedung RRI, Jakarta, Selasa (12/2/2020).

Widyastuti menyatakan, program Jakarta Memanggil juga meliputi metode notifikasi pasangan atau penerapan tes HIV/AIDS pada pasangan ODHA. Dikarenakan penyakit ini menular melalui pertukaran cairan, metode ini dianggap efektif dalam mendeteksi ODHA.

"Namun, mengajak pasangan agar ingin diperiksa menjadi tantangan sendiri. Sering kali keduanya saling menyalahkan karena penyebaran HIV-AIDS. Dengan adanya Jakarta Memanggil, petugas kesehatan akan semakin terdorong untuk menemukan penyampaian yang bersifat sangat humanis," ujarnya.

Adapun Windra Waworuntu selaku Direktur Pemberantasan Penyakit Langsung menyatakan akselerasi penanggulangan ini harus segera dilakukan.

"Jakarta adalah tulang punggung Indonesia dengan jumlah penduduk yang menyentuh sekiranya 10 juta jiwa. Dengan angka ODHA yang tinggi, maka kami harus segera mengakselerasi penanggulangan HIV/AIDS. Apabila semakin banyak ODHA yang berobat, maka risiko penularannya akan semakin rendah," ujarnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com