Covid-19 Diperkirakan Selesai di Bulan Mei

Covid-19 Diperkirakan Selesai di Bulan Mei
Warga berjalan melalui tenda disinfektan sebelum memasuki kawasan permukiman di Beijing, Tiongkok, Kamis, 13 Februari 2020, untuk penegahan wabah virus korona (Covid-19). ( Foto: AFP / Greg Baker )
Dina Manafe / CAH Jumat, 14 Februari 2020 | 22:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jumlah kasus Covid-19 yang di Tiongkok terus bertambah menyusul perluasan kriteria Covid-19 yang diterapkan oleh otoritas negara tersebut. Jumlah kasus baru per hari ini, Jumat (14/2) dilaporkan sebanyak 5.000 kasus.

Dengan penambahan ini, total kasus konfirmasi atau positif mencapai sekira 65.247 dengan korban jiwa 1.491 orang. Penambahan kasus baru ini menurut pakar epidemiologi, tidak mengubah perkiraan bahwa Covid-19 akan berakhir di bulan Mei atau paling telat awal Juni 2020.

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, dr Syahrizal Syarif mengatakan, kasus baru terlihat meningkat dibanding sehari sebelumnya karena pemerintah Tiongkok telah memperluas definisi atau kriteria Covid-19 di luar panduan global.

Dari statistik terlihat kasus mulai turun dari angka 3.000-an pekan lalu menjadi 2.000-an pekan ini. Jika hari ini kembali meningkat kembali naik, itu dikarenakan pemerintah Tiongkok menerapkan kriteria baru Covid-19. Mereka memasukkan kondisi klinis berat dari hasil CT Scan sebagai kasus konfirmasi atau positif. Kriteria ini lebih cepat keluar dalam sehari, tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang bisa sampai tiga hari. 

Soal Virus Korona, Taiwan Tolak Disamakan dengan Tiongkok

Jika mengacu pada panduan global, kasus konfirmasi berdasarkan hasil laboratorium. Inilah yang membuat kasusnya seolah meningkat tajam. Padahal hasil CT scan saja bisa saja pasien flu biasa atau flu musiman, bukan Covid-19. Jika mengacu pada kriteria global, maka jumlah kasus konfirmasi tidak sebanyak itu dan sebetulnya cenderung menurun.

“Kami tetap memprediksikan sekitar Mei atau paling telah awal Juni 2020 wabah di Tiongkok selesai. Perhitungan kita berbasis ilmiah, berdasarkan data rumah sakit,” kata Syahrizal.

Sebelumnya dalam diskusi publik tentang kesiapsiagaan penanganan Covid-19 untuk mencegah bencana kesehatan di Kampus FKM UI, Depok, Kamis (13/2/2020), Syahrizal mengatakan, penanganan yang dilakukan pemerintah Tiongkok sudah luar biasa, sehingga wabah ini berhasil dikendalikan meskipun menyebabkan banyak korban. Semua orang yang sakit diisolasi dan yang sembuh juga bertambah, sehingga eskalasi penularan mulai menurun.

Bahkan pemerintah Tiongkok berani memberlakukan karantina kota, sebuah standar baru penanganan wabah yang belum pernah dilakukan negara lain. Pada saat SARS, wabah yang juga disebabkan oleh keluarga besar virus korona tahun 2002-2003 dan menewaskan 8.000 lebih orang, pemerintah Tiongkok tidak berani berlakukan karantina kota.

Menkes Pastikan Semua WNI dari Tiongkok di Natuna Negatif Covid-19

“Sejak 25 Januari diberlakukan karantina kota, dan mereka punya rumah sakit khusus penyakit wabah dengan kapasitas 2.600 tempat tidur. Sebelumnya karena SARS di 2003 mereka bangun 1.000 tempat tidur dalam waktu 10 hari,” kata Syahrizal.

Dampak dari upaya penanggulangannya, lanjut Syahrizal, bisa terlihat dari satu kali masa inkubasi. Tetapi akan lebih jelas lagi kelihatan pada dua masa inkubasi. Artinya tanggal 25 Januari dilakukan karantina kota, maka pada 8 Februari seharusnya sudah terlihat pelambatan kasus. Dari statistik memang kasus mulai melambat di 9 Februari. Tetapi untuk hasil yang lebih jelas akan terlihat dalam dua masa inkubasi atau di 22 Februari. Masuk Maret sejumlah aktifitas publik mulai kembali terlihat, seperti sekolah, perbankan, dan lain-lain.

Kenapa harus Mei, bukan Maret kasusnya selesai? Karena di bulan Maret hingg April dipastikan masih ada kantong-kantong kasus baru. Sebuah wabah disebut bisa dikendalikan atau selesai apabila selama 28 hari ke depan tidak ada satu pun kasus baru. Ini kemungkinan sulit dicapai pemerintah Tiongkok.

“Karena itulah saya optimis tidak bulan April, tetapi di bulan Mei. Karena butuh 28 hari harus bebas dari kasus. Ini tidak mudah dicapai Tiongkok. Meski karantina, pasti akan bocor,” katanya.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Vensya Sitohang mengatakan meski masih ada penambahan kasus baru tetapi tidak setinggi puncaknya di tanggal 5 Februari. Jumlah kasus terbanyak di Tiongkok otomatis mempengaruhi kasus global. Demikian pula angka kematian meski bertambah, tetap tidak setinggi puncaknya tanggal 11 Februari.

“Ini kabar baik. Tetapi tidak mengurangi kewaspadaan dan kesiapsiagaan terutama di pintu masuk negara di semua wilayah,” kata Vensya. 

 



Sumber: BeritaSatu.com