Warsito Klaim 200 Pasien Kanker Sembuh Total dengan Alatnya
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-4)   |   COMPOSITE 5975 (-54)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-17)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (-0)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-16)   |   IDXHIDIV20 416 (-2)   |   IDXINDUST 956 (-20)   |   IDXINFRA 871 (-2)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-4)   |   IDXPROPERT 877 (-10)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-2)   |   IDXTECHNO 3348 (-19)   |   IDXTRANS 1056 (-5)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-10)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-5)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-2)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Warsito Klaim 200 Pasien Kanker Sembuh Total dengan Alatnya

Selasa, 9 Juli 2013 | 23:24 WIB
Oleh : Ajeng Quamila / HA

Tangerang - Dalam upayanya mengobati sang kakak yang menderita kanker payudara stadium IV, Warsito P. Taruno, ilmuwan penemu Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), bersama sejumlah rekan peneliti di CTECH Labs Edwar Technology justru berhasil melakukan sebuah terobosan yang terbilang kontroversial di dunia kedokteran dengan alat pembasmi sel kanker ganas rancangannya.

Alat terapi kanker rancangan Doktor lulusan Universitas Shizuoka ini bukan berupa mesin besar berteknologi tinggi yang sering dijumpai di berbagai instansi kesehatan, namun hanya berupa seperangkat pakaian yang mengandung aliran listrik statis rechargeable.

Alat yang berbasis teknologi ECVT itu terdiri dari empat perangkat yakni brain activity scanner (pemindai aktivitas otak), breast activity scanner (pemindai aktivitas payudara), brain cancer electro capacitive therapy (terapi kapasitif elektro kanker otak), dan breast cancer electro capacitive therapy (terapi kapasitif elektro kanker payudara).

Alatnya Miliki Paten Internasional
Warsito mengakui, keempat alat rancangannya tersebut sedang dalam proses pengajuan hak paten. Sementara alat pemindai 4Dimensi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) miliknya sudah terlebih dahulu dipatenkan pada lembaga paten internasional PTO/WO bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006.

Brain activity scanner dirancang Warsito pada tahun 2010. Alat ini berbentuk layaknya helm sepeda yang dilengkapi dengan puluhan lubang connector yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer. Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak. Dengan alat itu, dokter juga bisa melihat seberapa parah kanker otak yang diderita pasien. Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September 2011 juga berprinsip sebagai pemindai “kehidupan” sel kanker dalam tubuh.

“Dari 2006, saya fokus di imaging sampai saya balik ke Indonesia, baru mulai untuk ke aplikasinya di dunia kedokteran. Karena ini adalah mimpi saya sewaktu di Amerika,” ungkap Warsito.

Kemudian, untuk membasmi sel–sel kanker ganas yang sudah terdeteksi, Warsito membuat brain cancer electro capacitive therapy dan breast cancer electro capacitive therapy. Dua alat berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai itu terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan.

Mendapat Ilmu di Jepang
Namun alat terapi ciptaan pria kelahiran Karanganyar, Solo, ini tidak semata–mata diterima begitu saja oleh masyarakat. Pro–kontra terus bergulir di antara kalangan profesional medis menyikapi alat pembasmi kanker tersebut.

“Memang, banyak yang ‘panas’ sama temuan saya. Tapi saya sudah mengembangkan riset ini sejak dua puluh tahun lalu dan ini bukan riset asal-asalan,” sanggah Warsito.

“Dari pengalaman selama dua puluh tahun itu, saya sangat paham kemampuan gelombang untuk mempengaruhi materi dan sebagai diagnosis terhadap materi itu sendiri. Jadi kalau (mereka) pernah melakukan riset ini, tentu ini bukan hal yang ajaib untuk bisa diaplikasikan,” ujarnya sambil tergelak.

Sewaktu masih duduk di bangku kuliah Universitas Shizuoka, Warsito mendalami riset tentang interaksi antara gelombang ultrasonik dan elektromagnetik dengan materi, yaitu sel–sel dalam tubuh. Dari penelitian ini, Warsito menyimpulkan hasil interaksi antara dua energi tersebut menghasilkan suatu fenomena baru yang bisa diaplikasikan untuk mempengaruhi materi.

“Fenomena ini disebut plasma di dalam cairan, karena biasanya plasma terjadi di udara,” jelasnya

Cara Kerja Alat
Plasma merupakan substansi yang mirip dengan gas dengan bagian tertentu dari partikel terionisasi. Adanya pembawa muatan yang cukup banyak membuat plasma bersifat konduktor listrik sehingga bereaksi dengan kuat terhadap medan elektromagnet.

Oleh karena itu, plasma memiliki sifat-sifat unik yang berbeda dengan zat padat, cairan maupun gas, dan dianggap merupakan wujud zat yang berbeda. Plasma dapat dibuat dengan menggunakan medan listrik pada tekanan rendah sehingga terbentuk suhu yang sangat tinggi pada tabung eksperimen, sehingga terciptalah plasma yang sifatnya unik.

Prinsip plasma ini kemudian digunakan oleh Warsito dalam risetnya bahwa gelombang elektromagnetik dapat menghancurkan senyawa organik, seperti sel kanker ganas. Semula ia tidak begitu yakin bahwa eksperimen tersebut akan berhasil.

“Tadinya saya cuma ingin memperlambat laju pertumbuhan sel kanker. Ternyata semakin banyak riset yang membuktikan bagaimana powerful-nya gelombang dengan energi yang sangat kecil untuk menghancurkan sel kanker,” kata suami dari Rita Chairunissa ini.

Warsito mengungkapkan, energi aliran listrik yang terkandung dalam alat terapi miliknya hanya sebesar 3 volt. Ia meyakini, sel kanker dapat hancur dengan terpaan energi seminim itu tanpa mempengaruhi pertumbuhan sel–sel normal lainnya.

“Polaritas listrik sekecil itu bisa membuat kacau listrik di dalam sel kanker yang sedang membelah diri dan akhirnya sel tersebut hancur pada saat pembelahan,” jelasnya.

Dipasang dalam Pakaian
Prosedur terapi basmi kanker ala Warsito ini diawali dengan mendeteksi posisi sel kanker secara akurat. Ia menuturkan, pengaturan elektroda sebagai pemancar gelombang juga harus disetel akurat sesuai dengan frekuensi gelombangnya. Kemudian, elektroda tersebut akan disisipkan di dalam pakaian khusus yang disesuaikan dengan letak kanker yang diderita pasien. Ada yang berbentuk bra, rompi, celana, masker, selimut dan masih banyak lagi.

“Kalau selimut biasanya untuk pasien yang kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Atau tumor di tulang belakang,” ujarnya.

Pada kasus kanker ganas, pasien dianjurkan untuk terus menggunakan alat terapi ini selama 4–16 jam per harinya. Sedangkan bagi kasus umum lainnya memerlukan waktu selama 12–16 jam.

Lebih dari 6.000 pasien sudah ditangani oleh Warsito bersama sejumlah physical medician dan dokter pimpinannya sejak pertengahan 2011 lalu. Pada pasien kanker stadium IV yang menjalani terapi di klinik kanker Warsito, persentase kesembuhan bisa mencapai 40–50 persen, sedangkan pada stadium III mencapai 70 persen.

“Sedikit orang yang percaya kalau penderita kanker bisa sembuh total. Disini, yang sembuh total sudah mencapai 200-300 orang,” ujarnya.

Masalah Izin
Warsito, yang juga menjabat sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik, menyayangkan adanya pembatasan kerjasama dengan rumah sakit di Indonesia untuk penggunaan alat terapi ini.

Ia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

“Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal,” katanya.


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

33 Remaja di Sulut Mengidap HIV/AIDS

"Kelompok remaja ini berada pada rentang usia 15 sampai 19 tahun."

KESEHATAN | 9 Juli 2013

Estrogen Melindungi Perempuan dari Penyakit Jantung

Hormon estrogen inilah yang melindungi perempuan dari gangguan jantung," ujar Jusuf.

KESEHATAN | 9 Juli 2013

Latihan Fisik yang Aman Saat Puasa

"Intinya jangan sampai membuat kita dehidrasi dan kelelahan."

KESEHATAN | 9 Juli 2013

Beda Jenis Susu, Beda Manfaatnya

Selain bernutrisi, susu juga ada yang tidak menggemukkan.

KESEHATAN | 9 Juli 2013

Penduduk Seoul Terpapar Asap Rokok 13 Menit dalam Sehari

Uniknya sebagian besar penduduk Ibukota Korea terpaksa menghirup asap rokok di dalam ruangan.

KESEHATAN | 9 Juli 2013


Cuci Handuk 3 Hari Sekali, Hindari Penyakit Kulit

Penelitian Departemen Kesehatan RI menyatakan penyakit scabies menduduki urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering.

KESEHATAN | 8 Juli 2013

MRCCC Siloam Perkenalkan Teknologi PET Scan Pencegahan Dini Alzheimer

“Fakta mengenai gejala Alzheimer di dunia hampir 30 persen terjadi pada usia di atas 85 tahun".

KESEHATAN | 8 Juli 2013

Insulin Bantu Ibu Produksi ASI

Kelenjar susu manusia menjadi sangat sensitif terhadap insulin selama masa menyusui.

KESEHATAN | 8 Juli 2013

Ketika Maag Kambuh Saat Puasa

Sebelum membatalkan puasa akibat maag, disarankan untuk melakukan rileksasi dulu.

KESEHATAN | 8 Juli 2013


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS