Mengenal Lebih Dekat Penyakit Alzheimer dan Demensia

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Alzheimer dan Demensia
Ilustrasi Demensia ( Foto: Istimewa / Istimewa )
Aisya Putrianti Rabu, 4 September 2013 | 21:57 WIB

Jakarta - Berbicara tentang "Demensia", mungkin banyak dari kita yang belum familiar dengan istilah tersebut. Penting bagi kita untuk mengetahui apa itu Demensia, penyebab, gejala, serta pencegahannya karena jika dibiarkan kondisi ini akan menciptakan kualitas hidup yang buruk terutama bagi lansia.

Demensia adalah suatu kondisi di mana kemampuan otak seseorang mengalami kemunduran.

Kondisi ini dapat ditandai dengan keadaan seseorang sering lupa akan sesuatu, keliru, adanya perubahan kepribadian, dan emosi yang naik-turun atau labil.

Banyak penyebab yang membuat seseorang mengalami Demensia, umumnya karena penyakit-penyakit kronik seperti Stroke dan Parkinson. Namun diketahui bahwa penyebab utama seseorang mengalami Demensia adalah penyakit Alzheimer.

Penyakit Alzheimer sendiri adalah suatu kondisi sel-sel saraf di otak mati, yang mengakibatkan sinyal-sinyal otak sulit tersalurkan dengan baik. Hampir sama dengan Dimensia, Alzheimer juga membuat penderitanya mengalami gangguan pada ingatan, penilaian, dan sulit berpikir.

Hingga saat ini, terdapat 1 juta penderita Demensia di Indonesia. Menurut penelitian, pada tahun 2009 lalu kasus penderita Demensia bertambah satu orang setiap 4 detiknya. Menurut perkiraan, pada tahun 2050 akan ada sekitar 3 juta penderita Demensia di Indonesia atau 3,5 persen dari total penduduk. Sementara menurut perkiraan, pada tahun 2050 mendatang kasus Demensia di Asia Pasifik akan mencapai 20 juta insiden pertahun.

Serangan Demensia terjadi secara perlahan namun pasti. Dr. dr. Martina WS Nasrun, Geriatric Psychiatrist dari Alzheimer's Indonesia mengatakan, Demensia pelan-pelan merampas daya kognitif seseorang hingga pada tahap akhir ia tidak lagi berdaya melakukan apa-apa. "Demensia mengembalikan kondisi kita seperti anak kecil lagi, ibaratnya surut seperti kondisi kita waktu kecil," terang dr. Martina.

Jalannya kondisi Demensia berproses, memakan waktu kurang lebih 10 hingga 20 tahun lamanya. Rata-rata Demensia menyerang orang-orang lanjut usia di atas 80 namun tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi mulai dari usia 40. Demensia juga lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki.

Beberapa tanda dan gejala Dimensia adalah terlalu banyak menangis atau terlalu banyak tertawa, pelupa akut bahkan untuk hal-hal yang paling penting sekalipun. Selain itu seringkali merasa kebingungan sedang berada di mana, hari apa, dan sebagainya serta bicaranya tidak lancar atau sulit menemukan kata-kata yang tepat bahkan kata yang sederhana sekalipun.

Gejala lainnya adalah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dan perilaku atau mood yang mudah berubah-ubah atau labil.

Ada beberapa kondisi yang menyerupai Demensia, tetapi bukan Demensia yaitu depresi, parkinson, kekurangan vitamin, dan tumor otak.

Sampai saat ini memang belum ada pengobatan yang dapat mengembalikan keadaan Demensia ke keadaan normal secara menyeluruh, namun tentu ada beberapa pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya mencukupi asupan nutrisi, gaya hidup yang sehat dilengkapi pola makan yang baik, lingkungan yang mendukung serta kehidupan sosial yang baik.

Jika pencegahan ini tidak dilakukan, beberapa dampak fatal telah menanti tidak hanya pada penderita, namun keluarga dan kerabat terdekatnya. Selain biaya yang tinggi, seseorang yang mengalami Dimensia akan kehilangan independensi serta menyebabkan keluarganya harus menanggung beban rasa malu.

Perlu diingat, Demensia dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Sayangnya, tidak banyak orang yang sadar atau bahkan peduli dengan kondisi ini karena kurang dikenal dibanding penyakit lainnya. Namun sekarang yang bisa Anda lakukan adalah dengan cara-cara sederhana seperti konseling, mencari buku-buku dan video tentang demensia, mengurangi stress, menjaga stabilitas, dan yang paling penting adalah deteksi sedini mungkin