Pil Dekstro, Pil Pereda Batuk yang Bisa Merusak Generasi Muda

Pil Dekstro, Pil Pereda Batuk yang Bisa Merusak Generasi Muda
Ilustrasi pil obat-obatan ( Foto: Istimewa )
Firsta Putri Nodia Selasa, 1 Oktober 2013 | 16:02 WIB

Jakarta - Di saat kualitas pendidikan menjadi sorotan utama di Indonesia, menjamurnya kasus penyalahgunaan pil dekstro (Dextromethorphan) di kalangan pelajar menjadi ironi tersendiri.

Sejatinya pil ini digunakan sebagai obat pereda batuk yang langsung menekan pusat saraf agar bisa mendorong dahak keluar dan keluhan pun hilang.

Tapi ketika pil ini dikonsumsi secara berlebihan dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan sementara (fly), maka seseorang akan mengalami halusinasi, hilang akal dan kehilangan produktivitas laiknya orang normal hingga menyebabkan kematian.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pengawasan Produk, Terapatik dan Napza, BPOM, Dra. A. Retno Tyas Utami, Apt. dalam Media Gathering: Penyalahgunaan Dekstrometorfan di Gedung BPOM, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Selasa (1/10).

Ia mengatakan, bahwa efek samping dari overdosis dextromethorphan berakibat permanen, sehingga sangat berbahaya bagi kualitas generasi muda Indonesia ke depannya.

"Banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebanyakan merebaknya penyalahgunaan pil ini ada di lingkungan pelajar dan mahasiswa, padahal efek yang ditimbulkan permanen. Daya pikirnya sudah kacau, kasihan masa depannya" ujar Retno.

Sebenarnya, jika dikonsumsi dalam dosis yang disarankan, pil ini bermanfaat untuk menekan batuk (antitusif) dan pelancar dahak. Namun, sering kali disalahgunakan sebagai pil narkoba, karena jika dikonsumsi terlalu banyak yakni minimal 10 pil sekali minum dapat menimbulkan depresi sistem saraf yang bisa menjadi candu.

Dalam penjelasannya, Retno menguraikan secara rinci efek penggunaan dextromethorphan dosis tinggi. Menurutnya, jika kadar konsumsi pil tersebut 100-200mg, maka efek yang dirasakan adalah stimulasi ringan. Untuk konsumsi 200-400mg, menyebabkan euforia dan halusinasi.

Sementara konsumsi 300-600mg, lanjut dia, seseorang akan mengalami gangguan penglihatan dan hilangnya koodinasi gerak tubuh. Sedangkan konsumsi 500-1500mg, akan mengalami dissosiatif sedatif (perasaan bahwa jiwa dan raga berpisah) yang bisa berujung kematian.

Namun, Retnop mengingatkan, bahwa tak semua pil pereda batuk yang mengandung dekstro dapat menimbulkan efek buruk. "Hanya yang tergolong obat sediaan tunggal dan dikonsumsi dengan kadar yang tidak wajar saja yang harus dihindari," katanya.

Oleh karena itu, BPOM mengimbau para orangtua dan guru aktif mengawasi pergaulan anaknya agar terhindar dari penyebaran pil yang bisa merusak generasi muda ini.

"Kami mengimbau agar orangtua mengawasi putra-putrinya yang beranjak remaja agar berhati-hati ketika ditawari pil atau obat yang tidak jelas manfaatnya apa. Laporkan kepada kami jika menemukan hal-hal yang menyangkut penyebaran pil dekstro di kalangan pelajar dan mahasiswa," pungkas Retno kepada Beritasatu.com.

BPOM melansir bahwa kisaran harga jual yang diperbolehkan untuk pil ini adalah 50-100 rupiah per butir atau Rp 1000-1500,- per slop nya. Harga jual yang sangat murah ini ditengarai menjadi faktor penyalahgunaan fungsi dari pil dekstro yang bisa merusak kualitas generasi bangsa.