Jumlah Pria Perokok di Indonesia Kedua Tertinggi di Dunia

Jumlah Pria Perokok di Indonesia Kedua Tertinggi di Dunia
Ilustrasi rokok. ( Foto: Visualphotos )
Ririn Indriani Kamis, 9 Januari 2014 | 22:06 WIB

Jakarta – Meskipun sejumlah negara memperlihatkan penurunan rasio, angka prevalensi kebiasaan merokok di Indonesia memperlihatkan kecenderungan peningkatan dari 1980 hingga 2012.

Kecenderungan peningkatan tersebut, menurut penelitian terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, diperkirakan sebanyak 52 juta orang merokok.

Di seluruh dunia, prosentase dari populasi yang merokok – atau juga dikenal dengan prevalensi – memperlihatkan penurunan, tetapi jumlah penikmat rokok di seluruh dunia telah meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk.

Indonesia merupakan salah satu dari 12 negara yang menyumbangkan angka sebanyak 40 persen dari total jumlah perokok dunia.

“Jumlah pria perokok di Indonesia telah meningkat sebanyak dua kali lipat sejak 1980, dan prevalensi pria perokok di Indonesia tercatat sebagai kedua tertinggi di dunia,” ungkap Dr. Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Ia mengatakan, data tersebut merupakan fakta yang menyedihkan dan dapat memberikan dampak negatif pada kondisi kesehatan, serta biaya kesehatan di Indonesia. Namun, lanjut Nafsiah, tentunya data tersebut juga merupakan fakta bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan terus berkomitmen dalam melakukan tindakan nyata dalam mengurangi angka tersebut.

"Untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan membantu mengurangi angka penyakit yang disebabkan oleh tembakau di seluruh dunia,” imbuh Nafsiah dalam rilis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Kamis (9/1).

Penelitian bertajuk ”Smoking Prevalence and Cigarette Consumption in 187 Countries, 1980-2012” itu diterbitkan pada 8 Januari di Journal of the American Medical Association dalam edisi khusus yang didedikasikan untuk membahas masalah tembakau.

Secara global, prevalensi merokok berdasarkan usia sudah menunjukkan penurunan sebanyak 42 persen di kalangan perempuan, dan 25 persen di kalangan pria, antara 1980 dan 2012. Empat negara – Kanada, Islandia, Meksiko dan Norwegia – telah memangkas angka prevalensi di negara nya hingga separuhnya sejak 1980.

Di Indonesia, prevalensi merokok sangat bervariasi antara laki-laki dan perempuan. Pada 2012, 57 persen pria Indonesia digolongkan sebagai perokok aktif, dan tercatat sebagai kedua tertinggi di dunia. Sedangkan perempuan Indonesia, memperlihatkan prevalensi merokok sebanyak 3,6 persen. Angka yang sangat kecil dibandingkan para pria perokok.

Sementara Tiongkok, Taiwan, Vietnam dan negara-negara lain di Asia Timur dan Asia Tenggara memperlihatkan kecenderungan yang sama, antara kebiasaan merokok antara lelaki dan perempuan.

Secara global, meskipun prevalensi memperlihatkan penurunan, pertumbuhan populasi yang substansial di seluruh dunia antara 1980 dan 2012, menyumbangkan sebesar 41 persen pada jumlah lelaki perokok harian dan 7 persen pada jumlah perempuan perokok.

Lebih dari 50 persen pria di beberapa negara, termasuk Indonesia, Rusia, Armenia dan Timor Leste merokok setiap hari. Prevalensi merokok pada perempuan di atas 25 persen di Austria, Cili, Prancis dan Yunani.

Angka pria perokok terendah terdapat di Antigua dan Barbuda, Sao Tome dan Principe, serta Nigeria. Sedangkan pada perempuan di Eritrea, Kamerun dan Maroko tercatat rendah.

Perbedaaan-perbedaan tersebut terus terjadi meskipun berbagai upaya untuk pengawasan tembakau dijalankan secara ketat di seluruh dunia.

Sumber: PR