Hari Kanker Sedunia

Di Indonesia, Kasus Kanker Payudara dan Serviks Tertinggi

Di Indonesia, Kasus Kanker Payudara dan Serviks Tertinggi
Ilustrasi kampanye mencegah kanker. ( Foto: xamthonenature.com )
Dina Manafe Rabu, 5 Februari 2014 | 08:17 WIB

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat dari sekian banyak kanker yang menyerang penduduk Indonesia, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) tertingi kasusnya di seluruh Rumah Sakit (RS).

Berdasarkan Sistem Informasi RS (SIRS), jumlah pasien rawat jalan maupun rawat inap pada kanker payudara terbanyak yaitu 12.014 orang (28,7%) dan kanker serviks 5.349 orang (12,8%).

Baru disusul kanker leukimia sebanyak 4.342 orang (10,4%, lymphoma 3.486 orang (8,3%) dan kanker paru 3.244 orang (7,8%). Sementara berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia sendiri sudah mencapai 1,4 per 1000 penduduk, dan merupakan penyebab kematian nomor tujuh.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemkes, dr Ekowati Rahajeng, mengungkapkan permasalahan kanker di Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara berkembang lainnya, yaitu sumber dan prioritas penanganannya terbatas. Penanganan penyakit kanker di Indonesia menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan hampir 70% penderita ditemukan dalam keadaan sudah stadium lanjut.

Di antaranya masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker. Ini terkait dengan umumnya orang mempercayai mitos. Misalnya, bahwa kanker tidak dapat dideteksi, tidak bisa dicegah dan disembuhkan.

"Pada kenyataannya dengan perkembangan teknologi saat ini kanker bisa dideteksi dini. Kanker juga bisa dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhkan faktor risiko terkena kanker," kata Ekowati dalam temu media tentang Hari Kanker Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 4 Februari, di Jakarta, Selasa (4/2).

Secara nasional, tema Hari Kanker Sedunia tahun 2014 mengangkat soal mitos yang menjadi salah satu kendala penanganan kanker di Indonesia.

Padahal, menurut Ekowati , lebih dari 40% dari semua kanker dapat dicegah. Bahkan beberapa jenis yang paling umum, seperti kanker payudara, kolerektal, dan leher rahim dapat disembuhkan jika terdeteksi dini.

Bahkan kanker tidak harus menjadi genetik murni karena bisa dicegah apabila menghindari faktor risikonya, seperti terpapar asap rokok, diet rendah serat, paparan sinar ultraviolet, dan berhubungan seksual yang tidak sehat.

Kendala lainnya, kata Ekowati, yaitu belum ada program deteksi dini massal yang terorganisir secara maksimal. Saat ini capaian deteksi dini kanker, khusus leher rahim dan payudara mauh jauh dari harapan.

Dari seluruh penduduk berusia 30 sampai 50 tahun yang berisiko tinggi sebanyak 36,7 juta lebih, yang  mendapatkan deteksi dini baru 1,75% atau 644.951 jiwa. Padahal target pemerintah adalah 80%.

"Kalau tidak bahu membahu susah tercapai. Karena banyak faktor kendala, meskipun Kemkes sendiri sudah menyediakan deteksi dini baik itu melalui metode IVA, cryo, dan suspect leher rahim di seluruh
puskesmas di daerah," katanya.

Di samping itu, keterbatasan masyarakat untuk memperoleh pengobatan yang berkualitas karena masalah ekonomi dan transportasi juga menjadi kendala. Namun, kini masyarakat tidak perlu khawatir kerena adanya
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semua pemeriksaan dan pengobatan kanker di fasilitas kesehatan dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Khusus deteksi dini payudara dan serviks sudah dijamin dalam program JKN. Bahkan Perpres 69/2013 menjamin bahwa pemeriksaan dan cryo terapi ditamggung dengan nilai sekitrar Rp150, dan IVA sebesar Rp25.000 per orang," katanya.

Yang belum dikaver adalah perawatan paliatif untuk pasien yang hidup dengan kanker. Selain rasa sakit luar biasa sebagai efek dar terapi, biaya yang dikeluarkan sangat mahal. Namun, Kemkes sedang mengupayakan agar paliatif masuk dalam JKN.

Selain itu, faktor sosial kultur masyarakat yang tidak menunjang, seperti percaya pada pengobatan alternatif, tradisional atau dukun juga menjadi kendala.

Sementara Ketua Umum Perhimpunan Onkolog Indonesia (POI), Drajat Suardi, mengatakan penyakit kanker di Indonesia masih seperti fenomen gunung es. Hanya sedikit kasus yang terungkap, tetapi kondisi riilnya
jauh lebih besar dan tidak terjangkau.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2005 memprediksikan kematian akibat kanker sebanyak 7 juta jiwa di dunia. Sedangkan kasus baru sebanyak 11 juta, dan yang masih hidup dengan kanker sebanyak 25
juta orang.

Tetapi pada tahun 2030, jumlah ini akan meningkat drastis. Kematian meningkat tiga kali lipat, yaitu 17 juta orang, kasus baru menjadi 27 juta orang, dan yang hidup dengan kanker naik 75 juta orang. Sementara
di Indonesia, orang yang meninggal karena kanker meningkat 200% dan yang hidup dengan kanker 300%. Sementara 70% negara di dunia adalah negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Oleh karena itu kita perlu langkah antisipasi sekarang, supaya prediksi ini tidak terjadi. Salah satu pijakan untuk kita bergerak adalah registrasi kanker," katanya.

Sayangnya, kata Drajat, data kanker di Indonesia masih sebatas di rumah sakit, belum pendataan berbasis komunitas atau langsung di masyarakat. Meskipun butuh waktu panjang, registrasi berbasis komunitas ini penting mengetahui kasus riil di masyarakat guna prediksi ke depan dan bentuk penanganannya.

Untuk penanganan kanker di Indonesia, Ekowati menambahkan, diprioritaskan pada jenis yang tertinggi. Kegiatan penemuan kasus kanker terutama dilakukan melalui deteksi dini pada stadium awal, sehingga lebih cepat diobati dan peluang sembuh lebih besar.

Sedangkan skrining ditujukan kepada orang ytang asimptomatik (tidak bergejala), sehingga dapat diobati sebelum menjadi kanker. Contohnya, kanker serviks dilakukan skrining dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk menemukan lesi prakanker.

Program ini, lanjut Ekowati, disertai dengan penemuan dan tatalaksana kanker serta program paliatif kanker guna meningkatkan kualitas hidup, juga memperpanjang umur harapan hidup penderita stadium lanjut.

Untuk deteksi dini kanker serviks dan payudara dilakukan melalui pemeriksaan IVA dan Clinical Breast Examination (CBE). Sampai saat ini sudah terlaksana di 32 provinsi, 207 kabupaten, dan 717 puskesmas.

Kemkes juga menciptakan pelatih yang akan melatih tenaga puskesmas untuk siap melakukan deteksi dini. Saat ini sebanyak 184 pelatih yang disiapkan.

"Tahun ini kita akan mempercepat pelatihan, sehingga semua tenaga puskesmas terlatih dan siap melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara secara massal. Karena wanita usia 30 sampai 50 tahun setidaknya dalam 5 tahun sekali perlu melakukan deteksi dini untuk kedua kanker tersebut," katanya.

Sumber: Suara Pembaruan