Sariawan Tak Selalu Jadi Gejala Kanker Mulut

Sariawan Tak Selalu Jadi Gejala Kanker Mulut
Ilustrasi perempuan merasa sakit di daerah mulut. ( Foto: Visualphotos )
Dina Manafe / MUT Kamis, 17 April 2014 | 09:11 WIB

Jakarta - Sariawan bagi sebagian orang dianggap keluhan biasa. Namun ada juga yang menganggapnya penyakit serius terutama jika sariawan berlangsung cukup lama. Salah satu ketakutan yang muncul adalah kanker mulut.

Sebenarnya, sariawan dalam dunia kedokteran yang disebut Stomatitis Aphthosa Recurrent (SAR) ternyata tidak sama dan dengan kanker mulut. SAR juga tidak akan berkembang menjadi kanker karena bukan penyakit kanker tahap dini (prakanker).

"Kanker mulut tidak didahului SAR, tetapi dapat terjadi pada siapa saja termasuk mereka yang berbakat SAR. SAR dan kanker mulut proses patogenesisnya berbeda," kata Harum Sasanti, ahli penyakit mulut dari Departemen Gigi dan Mulut Fakultas Kesehatan Gigi Universitas Indonesia/RSCM pada acara peluncuran kuldon sariawan dari PT Deltomed Laboratories, di Jakarta, Rabu (16/4).

Harum mengungkap SAR tidak didahului demam, tidak disertai radang kelenjar getah bening regional dan tidak mudah berdarah, seperti kanker mulut. SAR adalah penyakit mulut yang paling umum dan banyak diderita masyarakat dengan penampilan serta sifat berbeda.

Umumnya timbul sejak usia remaja, dan dapat sembuh sendiri setelah tujuh hari sampai lima minggu. Kalaupun timbul pada anak usia SD, sebaiknya dibawa ke dokter untuk memastikan yang dialami SAR biasa atau karena infeksi akibat pergantian musim.

Sariawan disebabkan faktor genetik (turunan) dan dipicu faktor lain, seperti hormonal, kelelahan, anemia, alergi, defisiensi nutrisi/vitamin, stres, trauma dan gangguan pencernaan. SAR bisa diperparah dengan kebersihan mulut kurang baik, gigi rusak dan tidak dirawat, gigi tiruan atau pemasangan kawat, dan berganti pasta gigi.

Jika mengalami SAR, hati-hati memilih obat. Tidak ada obat yang membuat SAR tak kambuh lagi. Hanya obat untuk meringankan saat sakit atau mempercepat proses penyembuhan tetapi tidak menjamin untuk tidak kambuh lag.

Banyak obat diklaim untuk sariawan dari iklan atau dibeli bebas di apotik atau toko obat, namun harus hati-hati memilih kebanyakan memiliki efek samping. Salah pilih obat malah sariawan semakin parah, komplikasi, dan proses sembuh lama.

"Para dokter pantang menyarankan obat kumur kimia yang dijual bebas, seperti albhothyl. Karena tidak ada referensi obat ini untuk mulut, hanya untuk alat vital perempuan," kata Harum.

Obat Herbal
Lebih baik lagi, menurut Harum, obat yang dikonsumsi berasal dari herbal karena tidak memiliki efek samping. Sepanjang herbal, jamu, atau obat tradisional memiliki cara kerja untuk mengatasi pemicu SAR, tentu bermanfaat.

Untuk mencegah SAR tidak kambuh lagi harus menghindari faktor risiko atau pemicu. Jalani pola hidup sehat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, jaga kebersihan rongga, kelola stress dengan baik, cukup tidur, dan banyak minum air putih.

Business Development Director PT Deltomed Laboratories, dr Abrijanto SB, menambahkan banyak ragam bahan alami di Indonesia yang berfungsi sebagai obat herbal. Antara lain daun saga manis, bunga krisan dan alang-alang.

Daun saga manis yang mengandung glycyrrhizin berfungsi sebagai anti radang. Bunga krisan dan akar alang-alang mempunyai khasiat menyegarkan (anti piretik atau penurun panas) serta mengurangi rasa sakit.

Namun kunci khasiatnya terletak pada bagaimana bahan alami tersebut diolah agar bermanfaat dan tidak menimbulkan efek negatif. Inilah yang dilakukan PT Deltomed Laboratories melalui produk terbarunya, Kuldon sariawan, yaitu tablet herbal untuk meredakan sariawan. Formula herbal-herbal tersebut terkandung di dalam kuldon sariawan.

Sumber: Suara Pembaruan