Penyebaran HIV-AIDS di Indonesia Tercepat di Asia Tenggara

Penyebaran HIV-AIDS di Indonesia Tercepat di Asia Tenggara
Ilustrasi (Foto: Jakarta Globe)
Kamis, 1 Desember 2011 | 10:27 WIB
Akibat kian maraknya seks bebas dan penggunaan narkoba suntik, ditambah pengetahuan masyarakat yang masih rendah.
 
Momentum peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini, 1 Desember 2011, mengingatkan kita pada banyak kasus HIV-AIDS yang belum terselesaikan dengan maksimal.

Terlebih Indonesia sebagai negara ke-4 terbesar di dunia pastinya juga menyimpan potensi ledakan epidemi yang besar.

Malah sekarang tercatat pula sebagai negara dengan penularan HIV tercepat di Asia Tenggara.

Ini terjadi karena Indonesia menorehkan prestasi buruk dalam menekan penularan penyakit tersebut.

Kepala BKKBN, Dr Sugiri Syarif MPA menjelaskan, selain laju penularan HIV di Indonesia yang begitu cepat, Indonesia sudah ditetapkan epidemi virus dari keluarga Retroviridae.
 
"Data resmi kementerian kesehatan (Kemenkes) mencatat, ada 26.400 jiwa pengidap AIDS di Indonesia. Dan tercatat pula ada 66.600 jiwa penduduk Indonesia yang positif terinfeksi HIV, ungkapnya.

Yang paling mengkhawatirkan, lanjut Sugiri adalah, 70 persen dari penderita AIDS dan penduduk yang positif terinfeksi HIV tadi berada di kategori usia produktif yaitu, antara 20-39 tahun.

Fenomena Gunung Es
"Dan perlu diketahui, laporan tersebut belum mencerminkan data sesungguhnya karena, kasus HIV-AIDS di Indonesia seperti fenomena gunung es," imbuhnya.

Artinya, jumlah kasus yang belum terungkap lebih besar dibandingkan dengan kasus yang sudah terdata.

Sugiri memperkirakan jumlah riil penderita AIDS maupun yang masih terpapar HIV jauh lebih tinggi dari angka yang sudah tercatat Kemenkes.

Ia menambahkan, saat ini orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang mengetahui jika dirinya terinfeksi HIV hanya sekitar 20 persen.

Dengan kata lain, delapan dari sepuluh ODHA yang mengetahui dirinya tertular HIV. Ini berarti, bisa diperkirakan jika jumlah sesungguhnya kasus HIV-AIDS empat kali lebih besar dari yang terdata di Kemenkes. "Kondisi inilah yang ikut andil meningkatkan kasus HIV di Indonesia," jelas Sugiri.

Sugiri juga menjelaskan, bahwa pengidap HIV sebenarnya bukan hanya dari kelompok risti saja seperti pekerja seks komersial (PSK), pria pelanggan PSK, dan pengguna narkoba suntik. Tapi penyumbang tingginya kasus HIV-AIDS juga muncul dari keluarga atau masyarakat biasa, termasuk para ibu rumah tangga.
 
Bahkan Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, jumlah ibu rumah tangga (istri) di Indonesia yang mengidap HIV-AIDS dipastikan lebih banyak dari perempuan pekerja seks (PSK).

Banyaknya istri yang mengidap HIV-AIDS, lanjutnya, karena banyak suami yang menjadi pelanggan PSK.

"Saat terjangkit HIV-AIDS, suami juga menularkan pada pasangan resmi (istri) di rumah," imbuhnya.

Sayangnya, kata Endang, hingga kini masih banyak istri yang belum menyadari dirinya terjangkit human immunodeficiency virus and acquired immunodeficiency syndrome (HIV-AIDS).

Hal ini terjadi karena mereka merasa tidak pernah berhubungan intim selain dengan suaminya.

"Ini sangat berbahaya, karena bila seorang ibu terjangkit HIV-AIDS, maka berkemungkinan menularkan pada anak mereka. Pola buruk suamilah yang menyebabkan hal tersebut terjadi," tandas Endang.

Tiga Provinsi Tertinggi
Sementara epidemi HIV-AIDS terus berlanjut seiring dengan maraknya penggunaan narkoba dan seks bebas di Indonesia.

Sugiri mengungkapkan di beberapa provinsi di Indonesia bahkan sudah terjadi epidemi HIV yang terkonsentrasi. Di mana kelompok populasi masyarakat risti tertular HIV mencapai lima persen.

Di Provinsi Papua misalnya, ada kecenderungan generalized epidemic. Pasalnya, ada lebih dari dua persen masyarakat diluar kategori risti kini sudah tertular HIV.

Kemenkes sendiri melaporkan ada tiga provinsi dengan jumlah penderita HIV-AIDS, tertinggi di Indonesia, yang dihitung sejak Januari hingga awal November 2011.

Ketiga provinsi tersebut adalah: Jawa Timur menempati posisi pertama (tertinggi) di Indonesia dengan jumlah penderita HIV-AIDS sebanyak 4.318 orang.

Sedangkan posisi kedua ditempati oleh Papua dengan jumlah penderita 4.005 orang. Dan DKI Jakarta di posisi ketiga, dengan jumlah penderita sebanyak 3.998 orang.

Beranjak dari fakta itulah Sugiri berharap upaya deteksi dini infeksi HIV terus digalakkan untuk menekan laju penularan HIV.

Deteksi dini di antaranya dilakukan melalui konseling atau testing secara sukarela oleh orang-orang yang masuk kategori risti tertular HIV.

Jika sudah terinfeksi, harus segera ditangani. Sebaliknya jika belum tertular, bisa diupayakan langkah pencegahan.

Hal senada dikemukakan pula Ketua Advokasi Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI), dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH., MMB.

Ia menekankan untuk gencar melakukan upaya edukasi untuk menekan laju penularan HIV.

Menurut dr Ari ini penting dilakukan mengingat sulit sekali mendeteksi apakah seseorang masuk kategori ODHA (orang dengan HIV-AIDS) atau tidak.

"Awalnya, dari penampilan fisik tidak ada perbedaan. Sehingga sulit sekali membedakan ODHA atau tida," tandas dr Ari.

Karenanya ia berharap, lelaki dan perempuan yang pernah berhubungan seks di luar nikah harus memeriksakan diri. Termasuk juga bagi mereka yang memiliki suami atau istri ODHA.

"Harus segera periksa untuk mengetahui sudah tertular atau belum," imbuhnya.

Dr Ari juga menganjurkan pengguna narkoba suntik untuk memerhatikan betul sterilisasi jarum suntik yang digunakan. "Lebih baik, tidak menggunakan narkoba," tandasnya.