Waspada Penyebab Awal Bunuh Diri

Waspada Penyebab Awal Bunuh Diri
Ilustrasi bunuh diri ( Foto: istimewa / Istimewa )
Herman Kamis, 11 September 2014 | 15:56 WIB

Jakarta - Tingginya angka bunuh diri di berbagai negara di dunia kian memprihatinkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, tiap 40 detik satu orang di dunia meninggal karena bunuh diri.

Di Indonesia, berdasarkan data WHO pada 2012, estimasi angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100.000 penduduk.

Pengamat Kesehatan Jiwa dr. Albert Maramis Sp.KJ mengatakan, salah satu faktor utama risiko bunuh diri adalah depresi. Karena itu, masyarakat diimbau agar lebih peka terhadap orang-orang di sekelilingnya yang menunjukkan gejala depresi.

"Kita perlu membuka diri terhadap orang-orang yang mengalami depresi, tawarkan bantuan atau bantu dia menemukan pertolongan," katanya, di Jakarta, Kamis (11/9).

"Misalkan ada orang yang berbicara tentang niatnya untuk bunuh diri, jangan diabaikan atau malah disalahkan. Dengarkan dengan sepenuh hati apa yang disampaikan."

Beberapa gejala depresi yang bisa terlihat seperti hilangnya rasa gembira, menarik diri dari pergaulan, serta kehilangan energi yang berlebih diikuti nafsu makan yang menurun.

"Perubahan perilaku yang mencolok dari orang-orang terdekat harus kita waspadai, misalnya tiba-tiba dia menyelesaikan segala utangnya, atau meminta maaf kepada semua orang. Dua hal ini paling sering dilakukan dan perlu ditangkap sebagai tanda bahaya," ujarnya.

Selain depresi, lanjut Albert, faktor risiko bunuh diri lainnya adalah gangguan penggunaan alkohol, penderita bipolar dan skizofrenia. Bahkan pada penderita gangguan jiwa, risikonya 10 kali lebih besar untuk bunuh diri.