Akankah Ebola Menjadi "AIDS Berikutnya"?

Akankah Ebola Menjadi
Seorang pria mendorong gerobak berisi wanita yang diduga menjadi korban virus Ebola di pusat perawatan Ebola di rumah sakit Monrovia, Liberia. ( Foto: AFP Photo / Pascal Guyot )
Nessy Febrinastri / FAB Kamis, 16 Oktober 2014 | 15:52 WIB

Wabah ebola telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa ahli memprediksi wabah ini akan menyamai pandemi global AIDS. Benarkan demikian?

Dr Tom Frieden, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah membandingkan kedua penyakit ini.

"Dalam 30 tahun, saya telah bekerja di bidang kesehatan masyarakat. Kita harus bekerja keras sekarang, agar kasus ebola ini jangan seperti AIDS berikutnya," katanya dalam pertemuan di Washington DC, 9 Oktober 2014.

Ebola dan HIV, virus penyebab AIDS, memiliki sejumlah kesamaan. "Keduanya menyebar melalui cairan darah dan tubuh, keduanya menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, dan keduanya muncul dari Afrika dan peneliti belum mampu mengembangkan vaksin melawan virus ini ketika pertama kali muncul," kata Dr Amesh Adalja, dokter penyakit infeksi di University of Pittsburgh.

Tetapi ada perbedaan besar antara virus ebola dan AIDS.

"HIV memiliki periode laten yang panjang, di mana penyebaran virus terjadi melalui aktivitas seksual atau berbagi jarum suntik, dan orang yang membawa virus belum memiliki gejala penyakit," kata Adalja.

"Sebaliknya, virus ebola menyebar dari orang-orang yang sudah memiliki gejala. Dan pada saat sakit, penderitanya merasa terlalu sakit untuk pergi dan tak mampu melakukan kegiatan."

Dr Bruce Hirsch, seorang spesialis penyakit infeksi dari North Shore University Hospital di Manhasset, New York menyatakan, ebola mungkin tidak memiliki potensi yang sama dengan AIDS.

"Tapi ebola adalah pembunuh yang cepat. Dan ada keuntungan yang kita miliki akibat teror ini, karena kita merasa harus mampu mengendalikan virus tersebut," kata Hirsch.

"Saya berpikir bahwa ebola memiliki pesan yang sama dengan AIDS, yaitu bahwa kesehatan manusia di seluruh dunia terhubung," lanjut Hirsch.

Berdasarkan data dari CDC AS, wabah ebola telah menyerang lebih dari 8.000 orang di Guinea, Liberia dan Sierra Leone, dan menewaskan lebih dari 3.800 orang hingga 5 Oktober.

Masih menurut CDC, skenario terburuk yang diproyeksikan, sekitar 1,4 juta orang di Liberia dan Sierra Leone bisa terinfeksi ebola dalam empat bulan ke depan.

Hirsch mengatakan, penting untuk mencegah skenario terburuk di negara-negara tersebut, agar tak ada tragedi kemanusiaan, karena semua orang di seluruh dunia beresiko terkena penyakit ini.

Sumber: Live Science