Logo BeritaSatu
Tunarungu

33 Tahun Diperjuangkan, Bisindo Belum Juga Diakui sebagai Bahasa Resmi Penyandang Tunarungu

Senin, 27 Oktober 2014 | 18:39 WIB
Oleh : Herman / B1

Jakarta - Dalam komunitas tuli atau tunarungu di Indonesia, ada dua jenis bahasa isyarat yang digunakan, yaitu SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Sejak 2001, keberadaan SIBI sudah diakui pemerintah dan mulai diterapkan sekolah-sekolah luar biasa bagian B di Indonesia. Namun, dalam prakteknya, mayoritas penyandang tuli justru mengaku kesulitan memahami SIBI lantaran bahasa tersebut diciptakan oleh orang yang bisa mendengar.

Ketua II DPP Gerakan untuk Kesejahteraan tunarungu Indonesia (Gerkatin) Juniati, memaparkan, dalam SIBI terdapat sistem bahasa isyarat yang memiliki imbuhan, jadi sangat menyulitkan kaum tuli untuk berkomunikasi. Kondisi ini pada akhirnya memengaruhi kemampuan membaca mereka sehingga sulit menyerap informasi.

Advertisement

Sedangkan Bisindo adalah bahasa ibu komunitas tuli di Indonesia yang berkembang secara alami di kalangan tuli Indonesia dan sudah digunakan turun-temurun selama bertahun-tahun. Namun, keberadaan Bisindo secara resmi belum diakui oleh pemerintah.

“Saat ini pemerintah hanya mengakui SIBI sebagai satu-satunya bahasa isyarat resmi. Padahal, bahasa yang kami pahami adalah Bisindo. Pelayanan umum, sekolah-sekolah luar biasa dan media massa juga belum menggunakan Bisindo. Akibatnya kami mengalami kesulitan belajar dan berkomunikasi, kesempatan untuk berkembang juga menjadi terhalang,” kata Juniati yang didampingi interpreter Bisindo di Jakarta, baru-baru ini.

Sejak tahun 1981, lanjutnya, Gerkatin sebetulnya telah memperjuangkan agar Bisindo diakui sebagai bahasa resmi kaum tuli. Gerakan ini juga mendapat dukungan dari Universitas Indonesia (UI). Bahkan Bisindo telah masuk dalam kurikulum di Fakultas Ilmu Budaya UI. Namun, sampai sekarang belum juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Panji Surya Putra, seorang penyandang tuli menyebut hal ini sebagai perampasan hak-hak kaum tuli.

“Bahasa asli yang sudah sejak lama digunakan kaum tuli justru tidak diakui dan digantikan dengan bahasa isyarat buatan manusia yang bisa mendengar. Ini seperti menyingkirkan bahasa Indonesia menjadi bahasa asing,” kata putra penyanyi Dewi Yull tersebut.

Dikatakan Surya, pemerintah seharusnya mendukung dan mengembangkan Bisindo sebagai satu-satunya bahasa yang dapat dipahami oleh kaum tuli. Dengan begitu, akan semakin banyak orang yang mempelajari Bisindo, sehingga komunikasi antara kaum tuli dengan orang normal tidak lagi menjadi hambatan.

“Karena kendala bahasa, selama ini kaum tuli juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Padahal, mereka juga memiliki potensi yang bisa dikembangkan,” tambah Surya.

Dilatarbelakangi oleh permasalahan tersebut, Ogilvy and Mather Indonesia menginisiasi sebuah gerakan untuk mendukung sedikitnya 8.750.000 warga Indonesia yang kehilangan pendengarannya. Gerakan ini berupaya mengajak masyarakat untuk mengunjungi situs www.dukungbisindo.com, lalu mengirim pesan untuk Presiden Joko Widodo melalui website tersebut agar Bisindo diakui sebagai bahasa resmi tunarungu di Indonesia.

“Kami berharap akan ada sedikitnya satu juta suara yang menyatakan dukungannya terhadap Bisindo, agar bisa ada respons positif dari Pak Jokowi,” harap Marianna Admardatine, Managing Director Ogilvy Public Relations.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Brigadir RR


# Bharada E


# Jokowi


# Brigadir J


# MU


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Kronologi Penembakan Brigadir J Hingga Ferdi Sambo Tersangka

Kronologi Penembakan Brigadir J Hingga Ferdi Sambo Tersangka

NEWS | 6 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings