Alkohol Oplosan Perlu Perhatian Lebih Dari Pemerintah

Alkohol Oplosan Perlu Perhatian Lebih Dari Pemerintah
Miras Oplosan ( Foto: Suara Pembaruan/Fana Suparman )
Vento Saudale Senin, 22 Desember 2014 | 20:11 WIB

Jakarta - Kelompok jaringan masyarakat dan aktifitas anti narkotika se-Indonesia mendesak pemerintah mulai mencurahkan perhatian terhadap masalah peredaran alkohol oplosan yang tidak layak konsumsi.

Demikian dikatakan oleh Rudhy Wedhasmara, pendiri East Java Action (EJA), sebuah kelompok swadaya masyarakat di bidang penanganan pencandu narkotika dan alkohol oplosan, di Wisma PKBI Jalan Hang Jebat 3 F3, Jakarta Selatan, Senin (22/12).

Dalam pertemuan, mendesak agar pemerintah lebih serius memperhatikan masalah peredaran alkohol oplosan karena tidak layak konsumsi.

Di Indonesia, ada 147 peraturan daerah yang melarang dan membatasi penjualan minuman keras beralhokol. Akan tetapi dalam setahun terakhir di daerah itu masih banyak korban jiwa yang meninggal akibat minuman keras oplosan, seperti di Sumedang dan Garut Jawa Barat.

Sebanyak 17 orang meninggal dunia di Garut setelah meminum minuman keras oplosan jenis Cherybel pada 3 Desember lalu. Selang sehari kemudian tercatat 109 korban dirawat di rumah sakit Sumedang setelah mengkonsumsi minuman keras beralkohol. Dari jumlah itu, 10 di antaranya tewas. Bahkan 6 korban harus dirawat di rumah sakit adalah anak di bawah umur.

“Selama penanganan peredaran alkohol oplosan berupa larangan, baik itu peraturan di tingkat pusat maupun daerah, tidak akan membuat pembuat, pengedar dan peminum jera. Sementara jumlah korban alcohol oplosan terus berjatuhan” kata Rudhy.

Dalam pertemuan nasional jaringan kelompok swadaya masyarakat dari Bandung, Jakarta, Jawa Tengah, Surabaya, Bali dan beberapa kota lain di Indonesia.

Beberapa kalangan profesional, mulai pengacara, tenaga kesehatan, peneliti dan akademisi hingga pemerhati sosial sepakat agar pemerintah memberikan porsi lebih besar kepada dampak alkohol oplosan.

Lanjut Rudhy, 18 ribu orang tewas setiap tahun di Indonesia akibat minuman oplosan. Berdasarkan laporan WHO mengenai alkohol dan Kesehatan 2011 menyebutkan sebanyak 320 ribu orang pada usia 15 – 29 tahun meninggal di seluruh dunia setiap tahunnya terkait methanol.

Jumlah korban jiwa meninggal akibat minuman keras berbahan methanol ini jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah korban meninggal akibat penyalahgunaan narkotika psikotropika dan bahan aditif (Narkoba) di Indonesia, yang menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) tercatat mencatat sedikitnya 40 orang menemui ajal setiap hari atau 15 ribu korban meninggal.

Ketua Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Jakarta (Papdi Jaya), Ari Fahrial Syam mengatakan konsumsi minuman keras oplosan dalam waktu singkat dan berlebihan akan menyebabkan terjadinya keracunan alkohol (intoksikasi alkohol) dan dapat menyebabkan kematian. Intoksikasi terjadi jika jumlah alkohol oplosan yang dikonsumsi di atas ambang toleransi orang tersebut sehingga menyebabkan terjadinya gangguan baik fisik maupun mental.

"Seseorang yang dalam keadaan mabuk tidak sadar akan apa yang sedang dilakukan, disorientasi, bingung, dan lupa. Alkohol oplosan juga dapat menyebabkan adiksi atau ketagihan dan toleransi penggunaan makin hari makin banyak, " tegasnya.

Ari mengatakan selain kematian, konsumsi alkohol oplosan dalam jangka panjang akan menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaannya khususnya pada lambung. Pasien yang menggunakan alkohol oplosan kronis akan dengan mudah ditemukan kelainan pada lambungnya.