Gigi Berlubang Pengaruhi Prestasi Anak

 Gigi Berlubang Pengaruhi Prestasi Anak
Ilustrasi sakit gigi pada anak. ( Foto: Antara )
Indah Handayani / FER Rabu, 25 Februari 2015 | 16:28 WIB

Jakarta - Para orang tua sebaiknya mulai menanamkan kebiasaan sikat gigi dua kali sehari sedini mungkin. Sebab, jika gigi anak sampai berlubang tidak hanya membuat mereka merasa tidak nyaman dalam menjalani aktifitas sehari-hari, tapi juga mempengaruhi prestasi sekolah.

Head of Professional Relationship Oral Care Pt Unilever Indonesia Tbk, drg Ratu Mirah Affifah GCCindent MDSc mengatakan, gigi berlubang tidak hanya membuat anak mengalami rasa sakit, namun juga akan mempengaruhi kehadiran anak disekolah.

Untuk membuktikan hal tersebut, pihaknya melalui Pepsodent melakukan penelitian bersama Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan FKG UI mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut pada 984 anak-anak di tiga sekolah di Bekasi yang terbagi dalam dua kelompok usia, yaitu 539 anak usia 6-7 tahun dan 445 anak usia 10-11 tahun.

Hasilnya, lanjut drg Mirah, 94 persen anak usia 6-7 tahun mengalami sedikitnya 1 gigi berlubang pada gigi susu dan 82 persen anak usia 10-11 tahun mempunyai 1 gigi berlubang pada gigi tetap mereka. Padahal gigi berlubang jika dibiarkan dapat menyebabkan sakit gigi, terbukti dari hasil penelitian ini bahwa dari kedua kelompok anak usia tersebut yang memiliki gigi berlubang, hampir 50% dari mereka pernah mengalami sakit gigi.

"Ketika kami amati lebih lanjut dalam 2 bulan sebelum dan 2 bulan sesudah penelitian, anak-anak dari kelompok umur 6-7 tahun yang memiliki lubang pada gigi tetap mereka, memperlihatkan kecenderungan lebih banyak hari tidak ke sekolah dibanding anak yang tidak memiliki gigi berlubang. Jumlah hari tidak ke sekolah adalah 3 hari sementara yang tidak memiliki gigi berlubang adalah 2 hari” ungkap drg Mirah di Jakarta, Rabu (25/2).

Drg Mirah menambahkan hal serupa juga terjadi di beberapa negara mengenai sakit gigi dan juga menyebabkan ketidakhadiran anak di sekolah. Sebut saja di Filipina sakit gigi merupakan alasan yang paling umum penyebab ketidak hadiran anak di sekolah. Sementara di Thailand diketahui 1,900 jam hilang per seribu anak dikarenakan masalah gigi dan penanganan pada gigi mereka (2008). Selain itu di Sri Lanka pada 2005 didapatkan 53 persen anak usia 6 tahun dilaporkan pernah mengalami gangguan kesehatan mulut dalam hidupnya (Beaglehole et al 2009).

Selain di negara berkembang, drg Mirah mengatakan hal serupa juga terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Di negeri Apaman Sam tersebut diketahui lebih dari 51 juta jam waktu sekolah hilang setiap tahunnya dikarenakan gangguan kesehatan gigi (USHHS 2000).

"Dari semua fakta yang terungkap ini dapat disimpulkan bahwa kondisi kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik, terbukti berpengaruh pada ketidakhadiran anak di sekolah yang dapat mempengaruhi prestasi belajar anak," lanjut drg Mirah.

Setelah dilakukan pengamatan lebih jauh selama 12 bulan, drg Mirah mengatakan ditemukan fakta bahwa pada anak usia 10-11 tahun, terlihat secara signifikan penyakit gigi berpengaruh pada rasa percaya diri mereka yang menghambat pada prestasi akademis yang dilihat dari nilai matematika. Melihat fakta yang terjadi pada siswa-siswi yang menjadi responden dari penelitian ini, Pepsodent melakukan intervensi melalui program edukasi Pepsodent ke sekolah selama 8 minggu.

"Sesudah intervensi terlihat kecenderungan penurunan jumlah plak secara signifikan sebanyak 54 persen pada kelompok anak umur 6-7 tahun, sedangkan pada kelompok anak umur 10-11 tahun berkurang sebanyak 66 persen. Plak merupakan penyebab masalah utama di rongga mulut yaitu gigi berlubang dan penyakit gusi sehingga penurunan jumlah plak sangat penting untuk mendapatkan kesehatan rongga mulut yang baik," pungkas dia.

Sumber: Investor Daily