Studi: Tingkat Bunuh Diri pada Kelompok Paruh Baya Meningkat

Studi: Tingkat Bunuh Diri pada Kelompok Paruh Baya Meningkat
Ilustrasi bunuh diri ( Foto: istimewa / Istimewa )
Lis Yuliawati Minggu, 1 Maret 2015 | 09:36 WIB

Sebuah penelitian baru menunjukkan tingkat bunuh diri pada orang paruh baya, berusia 40 hingga 64 tahun, di Amerika Serikat meningkat sekitar 40 persen sejak 1999.

Peneliian yang dipublikasi di American Journal of Preventive Medicine, menunjukkan faktor ekonomi eksternal memberikan pengaruh sebesar 37,5 persen dalam semua kasus bunuh diri pada 2010. Angka ini meningkat dibandingkan pada 2005 yaitu 32,9 persen.

Katherine A. Hempstead, salah seorang penulis penelitian baru itu, mengatakan "dibandingkan dengan kelompok usia lannya, proporsi bunuh diri pada kelompok paruh baya lebih besar dan meningkat terkait keadaan pekerjaan, keuangan, kesulitan hukum dan mati lemas."

Menurut peneliti, peningkatan tajam kasus bunuh diri dipengaruhi krisis ekonomi pada 2007-2009. Para peneliti memakai data dari National Violent Death Reporting System (NVDRS) dan menganalisa 17 kasus bunuh diri berbeda, dengan empat indikator berkaitan dengan niat dan perencanaan.

Mati lemas, yang lebih mungkin digunakan dalam kasus bunuh diri terkait pekerjaan, ekonomi atau faktor hukum, meningkat di kalangan usia setengah baya itu. Penelitian menemukan angka bunuh diri lantaran mati lemas meningkat 59,5 persen di antara mereka yang berusia 40-64 tahun di antara 2005 dan 2010. Dibandingkan dengan 18 persen pada usia 15-39 tahun dan 27,2 persen pada usia lebih dari 65 tahun.

Keadaan yang mempengaruhi bunuh diri dibagi dalam tiga kelompok utama, yaitu pribadi, interpersonal dan eksternal. Keadaan pribadi meliputi perasaan depresi, pengobatan untuk masalah kesehatan mental, ketergantungan alkohol.

Sementara contoh keadaan interpersonal yaitu masalah pasangan, kematian seorang teman, menjadi korban kekerasan pasangan. Keadaan eksternal yaitu masalah pekerjaan atau keuangan, masalah hukum dan kesulitan di sekolah.

"Penulis penelitian mencatat perlu peningkatan kesadaran bahwa kehilangan pekerjaan, mengalami kebangkrutan atau masalah keuangan lainnya dapat menjadi faktor risiko bunuh diri."

"Departemen sumber daya manusia, program bantuan karyawan, agensi tenaga kerja, konselor kredit, dan lain-lain yang berinteraksi dengan orang-orang dalam kesulitan keuangan harus menigkatkan kemampuan mereka untuk mengenali orang-orang yang berisiko dan memberikan arahan kepada mereka."

Sumber: Morning Ledger