Akhir Tahun, Peserta BPJS Kesehatan Jadi 168 Juta

Akhir Tahun, Peserta BPJS Kesehatan Jadi 168 Juta
Warga mengantre untuk mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan perseorangan di Kantor Cabang BPJS Jakarta Timur, Selasa (20/1). ( Foto: Antara/Andika Wahyu )
Indah Handayani / Gita Rossiana / AB Minggu, 1 Maret 2015 | 10:15 WIB

Jakarta - Kepala Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Irfan Humaidi mengatakan jumlah peserta BPJS Kesehatan akan semakin meningkat setelah 30 Juni 2015 dan ditargaet akhir tahun ini menjadi 168 juta orang. Sebelumnya, telah ada kesepakatan dengan pengusaha untuk menunda aktivasi kepesertaan pekerja penerima upah sampai akhir Juni 2015.

"Apabila penundaan kepesertaan ini sudah selesai, kami optimistis sampai akhir tahun 2015 peserta BPJS Kesehatan bisa mencapai 168 juta jiwa. Pada 2014, jumlah peserta BPJS Kesehatan tercatat 133,4 juta jiwa," kata Irfan kepada ID, Jumat (27/2).

Menurut data BPJS, hingga Januari 2015 terdapat 135,7 juta peserta. Mereka terdiri atas 86,4 juta peserta penerima bantuan iuran, 8,89 juta peserta dari Jamkesda, 11 juta peserta dari golongan pekerja penerima upah (yang iurannya dibayar oleh pemberi kerja dan pekerja), serta 9,8 juta dari peserta mandiri atau penerima upah bukan pekerja yang membayarkan iuran sendiri. Sisanya, 19,61 juta dari PNS, TNI, Polri, dan bukan pekerja.

Irfan mengatakan banyaknya perusahaan yang akan menjadi peserta BPJS Kesehatan menjadi peluang bagi swasta untuk mendirikan fasilitas kesehatan (faskes) di masing-masing daerah. "Pihak swasta bisa memetakan daerah mana saja yang berpotensi untuk dibangun faskes atau rumah sakit-rumah sakit," katanya.

Pemenuhan faskes bagi karyawan bisa dilakukan melalui kontrak antara BPJS Kesehatan dengan rumah sakit swasta ataupun fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Hal ini seharusnya menjadi peluang bagi swasta untuk mendirikan faskes.

"Mereka bisa berlomba-lomba mendirikan faskes. Apabila tidak bisa, (peluang ini, Red) diambil orang lain. Jika faskes ini mendukung, para pekerja tentunya akan bisa mengikuti kepesertaan BPJS Kesehatan dengan lancar," katanya.

Terkait ketersediaan tenaga dokter dan perawat, menurut Irfan, saat ini sudah cukup, namun penyebarannya belum merata. Apabila diperlukan, pihak swasta bisa membantu mengatasi kekurangan tenaga kesehatan ini.

Sumber: Investor Daily