Panas Tinggi Setelah Imunisasi, Wajarkah?

Panas Tinggi Setelah Imunisasi, Wajarkah?
Pemberian vaksinasi Typhoid (Foto: Berisatu Photo / Uthan A Rachim)
Herman Senin, 20 April 2015 | 13:28 WIB

Jakarta - Pemberian imunisasi atau vaksin masih menjadi cara terbaik untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit-penyakit tertentu.

Namun, tidak sedikit orang tua yang menolak pemberian vaksin pada anaknya karena takut setelah itu akan muncul reaksi panas tinggi.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan, mengatakan pemberian beberapa jenis imunisasi dasar memang ada yang sampai menimbulkan efek panas tinggi, antara lain vaksin DPT (difteri pertusis tetanus) dan campak.

Namun, reaksi tersebut merupakan hal normal, bahkan disebutnya sebagai reaksi sehat.

"Ketika antigen dimasukkan ke dalam tubuh, pastinya tubuh akan bereaksi. Salah satunya bisa berupa demam tinggi. Tapi itu juga tidak banyak, hanya sekitar 15 persen," kata Aman Bhakti Pulungan di Jakarta, Senin (20/4).

Biasanya demam akan muncul pada dua hari pertama setelah divaksin dan tidak akan lebih dari 39 derajat. Jadi, menurut Aman, hanya cukup diberi obat penurun panas saja.

"Tapi kalau panasnya tidak juga turun setelah dua hari, sebaiknya langsung dibawa ke dokter. Karena bisa saja panasnya itu karena ada penyakit lain, bukan karena divaksin," tegas dokter spesialis anak di RSCM Jakarta tersebut.